
Cello langsung berbalik kembali ke dalam kamar tanpa menunggu jawaban dari kedua orang tuanya. Entah apa yang membuat Cello terburu-buru kembali ke dalam kamar. Othor juga ndk mudeng.
Sementara itu, kedua orang tua Cello hanya bisa membulatkan mulut dan kedua bola matanya setelah mendengar perkataan dan tingkah Cello.
"Mas, tadi apa yang anak kamu katakan?" tanya mommy Fara sambil menoleh menatap ke arah daddy El.
"Katanya ingin membuatkan adik untuk Dree dan Dryn."
"Hhhaaah? Yakin dia mau membuatkan adik untuk twins?" Mommy Fara benar-benar terkejut.
"Iya."
"Ccckkk, anak itu ada-ada saja. Nggak kasihan apa Shanum masih kelelahan seperti itu."
"Ya nggak apa-apa, Yang. Jika memang sudah jadi rezekinya, ya disyukuri. Banyak orang yang menghendaki punya momongan tapi belum diberi. Kalau memang sudah jadi rezeki Shanum dan juga Cello, diterima dengan ikhlas," kata daddy El sambil meraup Dryn ke dalam gendongannya.
"Iya, Mas. Maafkan aku," kata mommy Fata dengan wajah bersalahnya.
"Nggak apa-apa, Sayang. Sekarang ke kamar yuk. Kita boboin twins."
"Eh, sudah mau diboboin?" tanya mommy Fara bingung.
"Tentu saja. Sudah malam ini. Lagi pula, bukan hanya Cello saja yang ingin ngapa-ngapain. Aku juga mau, Yang."
Seketika mommy Fara membulatkan kedua bola matanya. Mana mungkin mereka akan mengikuti jejak sang putra. Siapa yang akan menjaga twins nanti.
"Apaan sih, Mas. Siapa nanti yang akan jaga twins jika kamu mau menyusul Cello."
"Bentar saja, Yang."
"Mana ada ceritanya kamu sebentar Mas. Yang ada pasti bakal nambah-nambah terus," gerutu mommy Fara.
Daddy El hanya bisa tergelak melihat sang istri menggerutu sambil berjalan menuju kamar tidur mereka.
Sementara di dalam kamar, Cello dan Shanum sudah mulai berselancar ke dunia iya-iya. Malam itu, Cello benar-benar menuntaskan apa yang sudah ditunggu-tunggunya sejak Shanum melahirkan. Bahkan, dia harus rela untuk bersolo karir untuk menuntaskan keinginan alaminya tersebut. Beruntung Shanum masih membantunya sesekali.
Napas Cello dan Shanum kembang kempis setelah pertempuran mereka malam itu. Keduanya langsung ambruk dengan peluh menetes di pelipis mereka.
"Maasss, kok rasanya aku lelah sekali ya. Hah hah hah," kata Shanum sambil berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
"Sama. Kenapa aku juga merasa sangat lelah sekali," jawab Cello sambil menggeser tubuhnya.
Shanum menolehkan kepalanya dan melirik jam dinding. Kedua bola matanya langsung membesar saat melihat jam dinding tersebut.
"Astaga, Mas! Pantas saja kita hampir kehabisan tenaga. Lihat saja itu, sudah hampir jam tiga pagi. Kamu ini benar-benar ya, Mas. Buka puasa nggak kira-kira." Gerutu Shanum.
"Hehehe, maaf Yang. Habisnya, ikannya buat buat ketagihan terus," jawab Cello sambil terkekeh geli.
Setelahnya, mereka segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri secara bergantian. Shanum benar-benar menolak untuk membersihkan diri bersama dengan sang suami. Bukannya selesai dengan cepat, Shanum bisa memastikan jika dia akan sangat terlambat nanti.
Hari berganti hari. Kini, usia baby Drew dan baby Dryn sudah mencapai dua bulan. Pertumbuhannya sangat bagus. Mereka juga sudah bisa diajak bercanda dan bermain.
Keberangkatan Cello ke Kanada yang tinggal sepuluh hari lagi, membuat semua orang ikut sibuk mempersiapkan kebutuhannya. Meskipun twins belum akan ikut berangkat sekarang, namun Shanum tetap mempersiapkan segala keperluan mereka di sana.
"Mas, kemarin pengajuan cuti kuliahnya sudah beres kan?" tanya Shanum sambil memasukkan beberapa obat-obatan ke dalam tas. Dia akan memasukkan benda apapun yang diingatnya dan dibutuhkan oleh Cello.
"Iya sudah. Sebelum liburan ini aku sudah menyelesaikan persyaratannya. Untuk tempat tinggal nanti, kita akan tinggal di tempat baru. Daddy sudah menghubungi temannya yang bersedia mencarikan tempat tinggal dengan lokasi yang bagus." Jawab Cello sambil memainkan jari putranya.
Shanum hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia hendak bertanya sesuatu, namun terdengar suara ponselnya berbunyi. Shanum buru-buru mengangkat panggilan telepon tersebut begitu melihat siapa yang menghubunginya.
"Hallo, Ma."
"Sayang, besok malam bisa datang ke rumah?"
"Eh tumben, ada acara apa, Ma?" tanya Shanum penasaran. Pasalnya, kemarin mereka baru menginap di rumah mama Revina.
"Adik kamu mau lamaran."
"Hhaaahh?!"