
Kinan masih memperhatikan Adrian yang tengah tertawa saat netranya bertabrakan dengan sepasang mata dari perempuan tersebut. Mungkin karena penasaran, perempuan itu akhirnya menepuk-nepuk bahu Adrian untuk menghentikan tawanya.
Adrian menatap wajah perempuan itu yang sedang memandang ke arah Kinan. Sontak saja dia ikut menoleh dan langsung mengerti ke arah mana tatapan tersebut.
"Siapa dia, Yan?" tanya perempuan tersebut. Tak lupa juga tangan kanannya masih menempel pada dada bidang Adrian.
Adrian berdehem sebentar sebelum akhirnya berjalan mendekat ke arah Kinan. Tatapan matanya juga masih menatap tajam ke arah Kinan.
"Ayo, aku kenalkan dengan Zarine" ucap Adrian sambil meraih tangan Kinan.
Kinan hanya bisa mengekori Asrian saat tangannya ditarik oleh Adrian. Dia masih menatap tangan besar yang kini menggenggam erat tangannya.
Adrian berhenti di depan Zerine. Dia melepaskan pegangan tangannya dan tanpa diduga langsung memeluk pinggang Kinan dan menarik tubuhnya hingga menempel dengan tubuh Adrian. Zerine, perempuan tadi, terlihat mengernyitkan kening dengan tingkah Adrian. Ekspresi tidak suka sangat terlihat dari wajah Zarine.
"Siapa dia, Yan?" ulang Zarine.
Adrian sedikit mengulas senyumannya sebelum memperkenalkan Kinan.
"Perkenalkan, dia Kinan. Kekasihku," ucap Adrian. Dan, tanpa diduga, Adrian mendaratkan sebuah kecupan pada pelipis Kinan.
Sontak saja tindakan tiba-tiba Adrian tersebut membuat Kinan kaget. Jantungnya juga mendadak bergemuruh hebat.
Zarine juga cukup terkejut dengan tindakan tiba-tiba Adrian. Dia sampai membulatkan mulut dan kedua matanya saat melihat aktivitas di depannya tersebut.
"Ke-kekasih? Maksud kamu, pacar?" Zarine terlihat tidak percaya.
"Iya. Bisa dikatakan seperti itu. Tapi, sepertinya istilah itu lebih cocok untuk anak remaja," jawab Adrian sambil terkekeh. Jangan lupakan tangannya yang secara refleks mereemas pinggang Kinan dengan lembut.
Hal tersebut tentu saja membuat jantung Kinan semakin ketar-ketir. Dia hanya berani mencengkeram bagian samping baju Adrian.
Zarine tampak berusaha mengatur ekspresi terkejutnya. Terlihat sekali dia berusaha tersenyum saat menatap wajah Kinan.
Kinan refleks melepaskan cengkraman tangannya pada baju Adrian dan membalas uluran tangan Zarine.
"Kinan," jawabnya sambil berusaha tersenyum.
"Maaf, aku hanya sempat terkejut tadi. Tidak menyangka seorang Adrian akan membawa perempuan ke sini. Padahal selama menikah, dia sama sekali tidak pernah terlihat membawa istrinya ke sini," ucap Zarine sambil terkekeh lirih.
Terdengar decakan kesal dari bibir Adrian. Dia yang masih memeluk Kinan langsung melayangkan tatapan tidak sukanya kepada Zarine.
"Nggak usah ngomongin masa lalu," ucap Adrian kesal.
Bukannya takut, Zarine malah tertawa semakin keras sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Sorry, Yan. Aku hanya benar-benar kaget saat melihatmu datang kesini dengan membawa seorang perempuan," ucap Zarin. Setelah itu, netranya langsung beralih ke arah Kinan. "Kamu tahu, Adrian itu laki-laki paling dingin dan paling susah di dekati sejak SMA. Aku yang selama hampir sepuluh tahun mengejar-ngejar dia, hanya bisa gigit jari dan menangis di pojokan saat tidak mendapat tanggapan darinya." Lagi-lagi Zarine tertawa.
Kinan cukup terkejut saat mendengar ucapan Zarine. Sontak saja tangannya mencengkeram baju Adrian semakin kencang. Wajahnya menengadah untuk menatap wajah Adrian yang terlihat kesal.
"Rin?" Suara Adrian terdengar sebagai suara teguran untuk Zarine.
Mendengar hal itu, Zarine terkekeh geli. "Tenang saja, Yan. Itu kan masa lalu. Setelah mendengar berita pernikahanmu, aku kan sudah menyerah," ucap Zarine membela diri.
"Dan saat mendengar berita perpisahanku, kamu mau maju kembali?" tanya Adrian dengan ekspresi marah meski dengan nada bercanda.
"Hahahaa, menurut kamu?"
\=\=\=
Jangan lupa tinggalkan jejak buat othor ya. Kasih like dan komen banyak-banyak.