
"Lalu, mengapa tadi mas Kenzo menolak saat Reyhan akan mengantarkan berkas?" Tanya Vanya.
"Ccckkk. Aku tidak mau bekerja dengan kumpulan berkas-berkas itu hari ini. Aku mau bekerja dengan gulungan selimut dan bantal hari ini." Jawab Kenzo sambil tersenyum dan menaik turunkan alisnya saat menatap Vanya.
Glek
Glek
Glek
"Apaan sih Mas. Mana ada bekerja dengan gulungan selimut dan bantal." Kata Vanya gugup. Dia sudah merasakan bakal ada ancaman kepada dirinya setelah ini.
"Tentu saja ada. Aku sangat menyukai pekerjaan dengan gulungan selimut dan bantal. Bisa sekalian berolahraga." Jawab Kenzo.
Vanya tidak menyahutinya, dia hanya mencebikkan bibirnya setelah mendengar jawaban sang suami.
"Dasar omes. Aku nggak tahu ternyata kamu omes banget Mas. Kelihatannya saja cuek, judes. Nggak tahunya otak mesum. Lagian ya Mas, aku heran kamu nggak ada capek-capeknya. Mentang-mentang baru buka puasa." Ketus Vanya.
"Iya lah, siapa juga yang bakal nolak. Suguhannya saja seperti ini. Syuuuttt." Kata Kenzo sambil menatap dada Vanya dan bersiul-siul dengan riang.
"Apaan sih Mas. Jangan aneh-aneh." Kata Vanya sambil membuang muka.
Kenzo terkekeh geli melihat tingkah istrinya. Kadang dia sangat penurut, kadang sangat malu, kadang bisa juga jadi bar-bar jika bertemu ulat keket yang akan mengganggu.
Setelah sarapan, Kenzo membawa Vanya kembali ke dalam kamar. Vanya sedikit menggeser tubuhnya ke ujung tempat tidur. Dia masih merasa was-was jika sang suami akan menyerangnya lagi nanti.
Kenzo yang melihat tingkah sang istri berniat menggodanya. Dia ingin melihat apakah sang istri akan tergoda dengan ulahnya.
Setelah membopong Vanya ke atas tempat tidur, Kenzo segera berdiri dan membuka kaos oblongnya. Dia hanya menggunakan kolor yang dipakainya sejak tadi pagi setelah sholat Subuh. Kenzo langsung merangkak ke atas tempat tidur dan merebahkan diri di atasnya. Kenzo sengaja memeluk tubuh Vanya dan melingkarkan kakinya pada kaki Vanya.
Vanya yang melihat tingkah Kenzo menjadi semakin panik. Dia menggigiti bibir bawahnya dengan nafas sedikit memburu. Bagaimana tidak, Vanya dapat merasakan dengan jelas ada yang tumbuh dengan cepat di bawah sana tapi bukan tumbuhan. Kenzo malah semakin menggila dengan sedikit menggerak-gerakkan bagian itu.
Darah Vanya semakin berdesir hebat. Sekujur tubuhnya langsung meremang seperti tersengat aliran listrik ribuan volt. Otaknya langsung memutar scene hokya-hokya yang mereka lakukan semalam.
Vanya dibuat menggila dengan semua tingkah Kenzo. Semua sentuhan tangan dan bibirnya pada setiap jengkal tubuhnya langsung membuat keringat dingin keluar. Nafasnya naik turun pendek-pendek. Dan yang lebih parah, ada sesuatu yang sudah mulai kebanjiran walau tidak ada hujan.
Vanya tidak dapat menahan godaan suaminya lebih lama lagi. Dirinya bahkan sudah melupakan rasa sakit yang terdapat pada bagian inti tubuhnya. Yang dia rasakan hanya ingin menuntaskan rasa yang membuncah di dadanya.
Kenzo yang menyadari tingkah laku Vanya hanya tersenyum tipis. Dia tahu jika Vanya sudah sangat terbakar oleh tingkahnya. Kenzo masih menunggu hal apa yang akan dilakukan oleh sang istri.
Satu menit, dua menit, tiga menit dan tidak sampai empat menit Vanya langsung menyerangnya. Vanya langsung melompat ke atas tubuh Kenzo dan membungkam bibir Kenzo dengan bibirnya. Suara penyatuan dua bibir tersebut terdengar hingga menggema di seluruh isi kamar tidur mereka.
Hhhmmmpphh eemmppohh
"Huh huh huh. Kamu sengaja memancingku ya Mas?" Tuduh Vanya setelah melepaskan pagutannya.
Kini, mereka masih berada di posisi yang sama. Kenzo masih terlentang di atas tempat tidur, sementara Vanya masih berada di atasnya. Keduanya masih terlihat ngos-ngosan dengan nafas memburu.
"Memancing apa sih Sayang?" Tanya Kenzo pura-pura tidak tahu. "Jika ikannya sebesar ini, aku harus memakai pancing ukuran berapa coba?" Lanjut Kenzo.
"Pancing ukuran 20?!"🙄🤔 Kata Vanya dan langsung kembali menyerang Kenzo.
Mereka kembali melanjutkan aktivitas hokya-hokya hingga menjelang sholat Jum'at. Kenzo baru beranjak meninggalkan Vanya yang tengah tertidur pulas di atas tempat tidur saat jam menunjukkan waktu untuk segera bersiap melaksanakan sholat Jum'at.
Hari itu dan weekend keesokan harinya, sepasang suami istri tersebut masih larut dalam euforia pembukaan hokya-hokya.
***
Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan kini bulan pun sudah berganti. Usia pernikahan Kenzo dan Vanya sudah memasuki bulan ketiga. Selama lebih dari dua bulan mereka hidup bersama dalam satu rumah, sedikit banyak mereka sudah mulai mengetahui karakter masing-masing.
Seperti hari ini, meski di hari libur kuliahnya Vanya tetap beraktivitas seperti biasa di rumah. Setelah meminta izin kepada Kenzo, Vanya segera membuat daftar belanjaan. Dia memutuskan untuk belanja kebutuhan rumah tangga hari itu.
Vanya memilih untuk memesan taksi online untuk berangkat ke supermarket, karena Kenzo berniat akan menjemputnya setelah selesai berbelanja.
Vanya memilih berbelanja di supermarket tak jauh dari kantor Kenzo. Sesampainya di supermarket, Vanya segera mengambil trolley dan mulai memenuhinya dengan barang-barang kebutuhan yang sudah di tulisnya dari rumah.
Saat tengah memilih barang-barang belanjaannya, terdengar suara seseorang memanggilnya.
"Vanya?" Sapa sebuah suara bariton dari belakang Vanya.
Vanya pun menoleh untuk mencari tahu siapa orang yang telah memanggilnya.
"Rasha?" Vanya tak kalah terkejutnya saat melihat Rasha ada di depannya.
Vanya masih merasa canggung kepada Rasha. Bagaimana tidak, setelah penolakannya terhadap niat baik Rasha waktu itu lewat mbak Erika, inilah pertemuan pertama mereka lagi setelah sekian lama.
"Kamu apa kabar?" Tanya Rasha sambil mengulurkan tangan.
Vanya kikuk bagaimana menjawabnya. Namun, dia berpikir harus bersikap biasa saja kepadanya.
"Aku baik. Kamu sendiri bagaimana?" Tanya Vanya.
"Aku baik. Ehm, belanja sendiri?" Tanya Rasha.
"Ah, iya. Ini lagi belanja kebutuhan rumah." Jawab Vanya.
"Perlu bantuan? Sepertinya kamu kesulitan membawa banyak barang-barang itu." Tawar Rasha.
Vanya mengernyitkan dahinya bingung. Kenapa laki-laki ini menawarkannya bantuan. Apakah dia tidak tahu jika aku sudah menikah. Batin Vanya.
"Ah, terima kasih. Tapi tidak perlu repot-repot. Aku masih bisa kok membawa barang-barang ini. Ini tidak sebanyak yang kamu kira." Kata Vanya berusaha menolak secara halus.
Rasha masih tidak bergeming dari posisinya berdiri. Dia masih memandang lekat ke arah Vanya dan belanjaannya. Namun, beberapa saat kemudian dia kembali bersuara.
"Aku tahu kamu sudah menikah dan aku juga tahu alasan kamu menikah dengannya." Kata Rasha tiba-tiba.
Vanya sedikit tersentak dengan perkataan Rasha. Dia mengernyitkan dahinya bingung setelah mendengar perkataan Rasha.
"Apa maksudmu?" Tanya Vanya bingung.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Untuk informasi kapan up dan karya terbaru othor, silahkan follow ig othor @keenandra_winda
Thank You