The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Rean 115



Adrian masih mendiamkan 'jamur merang' raksasa miliknya yang sudah menemukan rumahnya. Dia masih menatap wajah Kinan yang mengernyit karena menahan ngilu di bawah sana.


Tak tega melihat hal itu, Adrian berusaha mengalihkan perhatian Kinan dengan memberikan banyak kecupan pada wajah istrinya tersebut. Bibir Kinan juga tak luput dari serangan bibir Adrian. Jangan lupakan tangan Adrian yang sudah mulai menjamahh pepaya kembar milik Kinan.


"Euughhhh, Masssshh." Kinan sudah meracau tidak karuan saat Adrian mulai bergoyang maju mundur tarik tekan. 🙄


Wajah Adrian kini sudah mulai menuruni leher Kinan hingga bawah telinganya. Diberikannya beberapa jejak stempel di sana hingga membuat si empunya semakin kelojotan.


Hingga beberapa saat kemudian, Kinan sudah mulai merasakan rasa yang berbeda dari awal tadi.


"Ma-masss? Sudah tidak begitu sakit. Agak kencengin dikit," ucap Kinan sambil sesekali menggigit bibir bawahnya.


Adrian mendongakkan wajah sekilas untuk menatap wajah Kinan.


"Kamu yakin?" tanya Adrian memastikan.


"Hhhmmm." Kinan masih menggigit bibir bawahnya dan memberikan tatapan penuh hassratt pada Adrian.


"Baiklah jika kamu memintanya. Mau kecepatan berapa?" Adrian masih sempat menggoda Kinan sambil menyunggingkan senyuman penuh semangatnya. Di bawah sana, Adrian sudah mulai tarik tekan tarik tekan dengan lembut hingga mentok. 🙄


"Mau yang kenceng. Saingin pembalap moto GP juga boleh. Euughhh." Lagi-lagi Kinan menahan keinginan untuk berteriak. Tubuhnya melengkung ke atas saat hujaman demi hujaman diterimanya dari 'jamur merang' raksasa yang entah mengapa bagi Kinan semakin membengkak saja rasanya.


"Jangan, jalurnya gelap dan sempit tidak ada penerangan. Takut salah masuk finish nanti." Adrian masih sempat menjawab ocehan Kinan. "Sekarang, sudah licin. Aku tambah kecepatan, ya," ucap Adrian.


"Hhaahh ahhhh hhhaaahhh hhhaaahhh. Jeboll, Masss. Auuhhhh hhaaahhh hhaaahh." Kinan langsung meracau tidak karuan.


Entah sudah berapa kalinya dia mengeluarkan lahar panasnya di bawah sana. Kini, giliran Adrian yang mengeluarkan tabungan lahar yang sudah lama disimpannya. Saat ini, Adrian benar-benar ingin meledakkan tabungan lahar yang sudah menumpuk di ujung kepala 'jamur merang' raksasa tersebut.


Hingga beberapa saat kemudian, Adrian dan Kinan sama-sama melepaskan lahar masing-masing diiringi dengan teriakan tertahan keduanya. Napas yang memburu dan bersahut-sahutan, seolah menjadi saksi keduanya telah melepaskan beban yang sempat tertahan selama beberapa hari setelah mereka menikah tersebut.


Plong. Itulah yang dirasakan oleh Kinan dan Adrian setelah pertempuran yang baru saja mereka lakukan. 


Napas keduanya masih memburu seolah berebut oksigen. Adrian mengusap peluh yang membasahi kening sang istri sambil beberapa kali mendaratkan kecupan di sana. Sebuah senyuman tak lepas dari bibir laki-laki yang baru saja mengubah statusnya tersebut.


Kinan mengernyitkan kening. Meskipun penerangan di dalam kamar tersebut hanya diterangi cahaya lilin, namun Kinan masih mampu melihat senyuman yang tersungging pada bibir Adrian.


"Kenapa senyum-senyum begitu?" tanya Kinan.


Adrian menggelengkan kepala sekilas sebelum kembali mendaratkan sebuah kecupan lama pada bibir sang istri yang sudah membengkak tersebut.


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya tidak menyangka jika kita bisa melakukannya malam ini dengan keadaan lampu mati dan hujan di luar sana," ucap Adrian setelah melepaskan tautan bibirnya.


Kinan mencebikkan bibir. "Memangnya kenapa? Kamu menyesal kehilangan perjaka dalam situasi seperti ini, Mas?"


"Eh?"