The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Mengatur Rencana



21.32


Masih belum dibuka ya 😥


Gini ya rasanya menunggu di buka.


Besok jika kita menikah, aku mau langsung buka. Aku nggak mau menunggu lama-lama.


Reyhan masih melongo saat membaca pesan terakhir Fida yang dikirim beberapa menit yang lalu. Bisa-bisanya Fida mau langsung buka-bukaan. Memangnya apa coba yang mau di buka, batin Reyhan.


Belum sempat Reyhan membalas pesan Fida, ponselnya sudah bergetar sebagai tanda ada sebuah panggilan masuk. Reyhan semakin bingung saat melihat nama Fida ada di layar ponselnya. Mau tidak mau Reyhan langsung menggeser ikon berwarna hijau tersebut untuk menerima panggilan telepon dari Fida.


"Hallo." Sapa Reyhan.


"Ah, akhirnya diangkat juga teleponku." Kata sebuah suara di seberang sana.


"Ada apa?" Kali ini Reyhan membuka suara.


"Kita harus membahas rencana kita besok. Aku tidak mau rencana kita besok gagal karena kita tidak sinkron saat ngomong." Kata Fida.


"Memangnya apa yang akan kita lakukan besok? Mengapa harus sinkron-sinkronan segala? Seperti data saja." 


"Ya harus dong. Papa dan mama pasti akan curiga nanti jika kita serius. Mereka pasti akan berpikir jika aku hanya mencari-cari alasan untuk membatalkan rencana perjodohan itu." Kata Fida.


Lah, memang seperti itu kan kenyataannya. Batin Reyhan.


"Iya, iya. Lalu, apa yang harus saya lakukan?" Tanya Reyhan.


"Bukan kamu, tapi kita. Kita harus bisa berakting sebagai pasangan yang sesungguhnya."


"Maksudnya pasangan yang sesungguhnya itu bagaimana?" 


"Ya, yang seperti Vanya dan suaminya." Jawab Fida dengan penuh semangat.


Namun, jawaban yang baru saja Fida katakan justru malah membuat tubuh Reyhan merinding. Dia tidak bisa membayangkan jika harus bertingkah seperti Kenzo dan Vanya.


"Kenapa harus seperti mereka? Saya tidak mau!" Kata Reyhan.


"Kenapa memangnya?" Tanya Fida bingung.


"Tingkah mereka terlalu berlebihan. Saya tidak mau jika harus seperti mereka." Jawab Reyhan.


Seketika Fida mengerti apa yang dimaksud oleh Reyhan. Fida terkekeh geli saat mengetahui jika Reyhan salah paham dengan maksudnya. Mungkin, Reyhan berpikir jika dia harus bersikap seperti Kenzo di rumah yang selalu menempel kepada Vanya. Bahkan jika di rumah, Kenzo sudah tidak malu-malu lagi memeluk bahkan mencium pipi Vanya saat ada Reyhan dan Fida.


"Astaga, memangnya apa yang kamu pikirkan? Kamu berpikir kita akan bertingkah seglek seperti Vanya dan suaminya? Hahahaha." Kata Fida di sela-sela tawanya.


"Halo, sayang? Kamu masih disana?" Tanya Fida di seberang sana.


Reyhan segera mengatur tenggorokannya agar tidak terdengar grogi. Dia menutup speaker ponselnya dan berdehem untuk mengatur suaranya.


"Iya, saya masih disini." Jawab Reyhan.


"Syukurlah. Sekarang, kita harus mulai membahas semuanya. Dimulai dari panggilan. Jangan memanggilku dengan nama jika hanya sedang berbicara berdua." Kata Fida.


"Lalu saya harus memanggil apa?"


"Ehm, aku sudah memanggilmu dengan panggilan sayang, aku tidak mau jika panggilannya sama." Kata Fida terdengar seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Ccckkk. Saya kan tidak meminta untuk dipanggil seperti itu." Gerutu Reyhan.


"Lhah, dulu aku menawarkan banyak panggilan tapi ditolak. Saat aku tawarkan panggilan sayang, langsung diterima. Jadi bukan salahku kan." Jawab Fida sambil terkekeh.


Reyhan hanya bisa menggerutu tidak jelas setelah mendengar perkataan Fida.


"Ehm baiklah. Aku sudah menemukan nama panggilan yang sepertinya cocok." Kata Fida.


"Apa?"


"Aku memanggilmu sayang kan, jadi kamu bisa memanggilku honey. Aku yakin orang tuaku akan langsung percaya." Kata Fida dengan penuh semangat.


"Ho-honey?!"


"Iya, sayang."


Hooeeekkk


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Lhah, siapa itu coba?