The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Rean 71



Taakkk.


Sebuah sentilan langsung mendarat pada kening Kinan. Sontak saja hal itu membuat Kinan terkejut. Dia langsung meringis sambil mengusap-usap keningnya. Sementara Adrian, langsung menegakkan kembali tubuhnya dan membuka pintu.


"Itu otak jangan suka ngehalu. Kebanyakan membaca novel plus-plus jadi geser tuk otak," gumam Adrian sambil melangkahkan kaki keluar dari pintu mobil. "Ayo keluar."


"Cckkk. Apanya yang halu. Orang tadi Om kan yang godain," Kinan masih menggerutu kesal sambil melepas seat belt dan membuka pintu.


Adrian segera berjalan menuju pintu utama untuk membukanya. Dibelakangnya Kinan langsung mengekori Adrian dengan penuh penasaran. Tak lupa juga Kinan membawa tas yang berisi perlengkapan pribadinya.


Ceklek.


Adrian membuka pintu rumah sambil berbalik untuk menatap Kinan.


"Masuk. Bersiap-siaplah di dalam kamar tamu. Bukankah acaranya akan dimulai jam sebelas?" tanya Adrian sambil menatap jam tangannya. Saat itu, sudah menunjukkan pukul 09.43 pagi.


"Eh, iya."


Adrian menunjukkan sebuah ruangan yang berada di samping ruang makan. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Kinan segera bergegas untuk bersiap-siap. Hal yang sama juga dilakukan oleh Adrian.


Kinan memutuskan untuk membersihkan diri dulu sebelum bersiap-siap. Setelah itu, dia mulai menyiapkan semua perlengkapannya. Tak butuh waktu lama, Kinan sudah selesai. Kini, dia tinggal merapikan rambutnya. Kinan membuat aksen sedikit bergelombang pada bagian bawah rambutnya.


Setelah memastikan penampilannya siap, Kinan segera keluar kamar dengan membawa semua perlengkapannya. Dia cukup terkejut saat melihat Adrian yang juga sudah siap dan menunggu di ruang makan sambil memainkan ponsel.


Alis Adrian sedikit terangkat saat mendongakkan kepala dan melihat penampilan Kinan. Menurutnya, Kinan terlihat seperti buah yang sudah sangat matang dan siap untuk dipetik. Beberapa kali bahkan Adrian harus menelan salivanya dengan susah payah.


Kinan berjalan menuju meja makan sambil membawa tas besar yang berisi perlengkapannya.


"Jadi berangkat jam berapa?" tanya Kinan setelah berada di depan Adrian.


"Ada yang ingin aku sampaikan. Duduk dulu," ucap Adrian sambil menunjuk sebuah kursi yang berada di depannya dengan anggukan kepala.


Kedua alis Kinan langsung bertaut menandakan dia penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh Adrian tersebut. Menuruti ucapan Adrian, Kinan langsung menarik sebuah kursi dan mendudukkan diri di sana.


"Ada apa, Om? Apa ada sesuatu?" tanya Kinan penasaran.


Adrian meletakkan ponsel yang sejak tadi dimainkannya. Dia menatap Kinan lekat-lekat.


"Aku ingin menceritakan sesuatu, sekaligus menjelaskan apa yang terjadi tadi pagi," ucap Adrian dengan serius.


"Eh, maksudnya?"


Adrian menghela napas panjang sebelum mulai bercerita.


"Semalam, aku langsung terbang ke sini setelah semua pekerjaanku selesai. Awalnya, aku ingin memberitahumu lebih dulu, namun ternyata tidak sempat. Aku harus memastikan pekerjaanku selesai dengan baik sebelum kembali pulang."


"Aku tiba di hotel ini menjelang pukul sepuluh malam. Saat itu, ponselku benar-benar mati. Aku terpaksa meminjam ponsel petugas di bandara untuk menghubungi sopir."


"Awalnya, aku ingin menginap di rumah ini, tapi setelah ku pikir-pikir akan sangat lama jika aku harus bolak balik lagi untuk menjemputmu. Jadi, aku putuskan untuk bermalam di hotel yang sama dengan kamu. Kebetulan, aku mengenal manager hotel tersebut. Dia salah satu teman kuliahku dulu."


"Awalnya, aku ingin menghampirimu di kamar. Namun, niat itu aku urungkan karena mendengar beberapa orang membicarakanmu saat berada di lobi."


Kinan cukup terkejut mendengar penjelasan Adrian.


"Membicarakanku bagaimana, Om?"


Jangan lupa klik like dan komen dulu sebelum scroll ya