The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 70



Rean begitu terkejut setelah mendengar penjelasan sang papa. 


"Ja-jadi, mama dan mami?" Rean bahkan tidak sanggup meneruskan pertanyaannya.


"Iya, Re. Mereka sama-sama keguguran. Papa benar-benar merasa bersalah setelah peristiwa itu. Sejak saat itu juga, papa dan papinya Dena menjadi cukup dekat."


Papa Bian menoleh ke arah Bian. Tatapan matanya benar-benar serius. "Re, kamu jangan berpikir jika papa menjodohkan kamu sebagai bentuk balas budi kepada keluarga Dena. Tidak, bukan seperti itu. Papa dan mama memang menginginkan yang terbaik untuk kamu."


"Sebenarnya, papa yang memang mengusulkan rencana perjodohan ini pada awalnya. Dan itupun, saat usia kamu baru delapan tahun." Papa Bian terkekeh sebentar sebelum kembali melanjutkan perkataannya. "Awalnya, papinya Dena tidak setuju karena khawatir kamu akan malu mengingat perbedaan usia kalian yang cukup jauh. Namun, beberapa bulan yang lalu, papinya Dena justru menghubungi Papa dan menanyakan masalah perjodohan itu."


Rean benar-benar terkejut setelah mendengar perkataan sang papa. "Lalu, apa yang membuat papi Hendra memutuskan menerima perjodohan itu, Pa?"


Papa Bian menoleh ke arah Rean sekilas. Dia menatap lekat-lekat kedua mata putranya tersebut.


"Untuk alasan itu, sebaiknya kamu tanyakan langsung kepada papinya Dena. Papa tidak bisa mengatakannya."


"Tapi, apa tidak apa-apa jika aku bertanya, Pa?" Rean masih tampak ragu melakukan saran sang papa.


"Tentu saja tidak apa-apa. Jangan salah, Re. Papinya Dena sebenarnya ingin menceritakan semuanya kepadamu setelah acara lamaran waktu itu. Tapi, papa melarangnya."


"Kenapa papa melarangnya?"


"Bukan apa-apa, Re. Papa hanya berharap agar kamu tidak terlalu banyak beban. Nanti, jika sudah saatnya, papinya Dena pasti akan mengatakannya."


"Sudah saatnya? Maksud papa jika aku sudah didatangi neneknya Dena?"


Seketika papa Bian langsung menoleh ke arah Rean. Dia cukup terkejut dengan perkataan sang putra.


Rean mengangguk mengiyakan. Dia menatap wajah sang papa sambil mengerucutkan bibir. "Dia mendatangiku di apartemen, Pa. Dan juga, dia mengatakan hal-hal aneh."


Papa Bian mengangguk-anggukkan kepala. Setelah itu, dia meraih ponselnya dan mengetikkan sesuatu. Tak berapa lama kemudian, papa Bian menoleh ke arah Rean.


"Malam ini, kamu Papa antar ke rumah orang tua Dena. Kebetulan, papinya Dena menginap di sana. Besok pagi, kamu bisa membicarakan hal ini dengannya."


Rean mengangguk mengiyakan. Setelah itu, Rean dan papa Bian segera menghabiskan ronde pesanannya. Tak berapa lama kemudian, mereka sudah menghabiskannya. Papa Bian dan Rean segera berangkat menuju rumah papinya Dena.


Kurang dari satu jam kemudian, Rean sudah sampai di rumah mertuanya. Papa Bian sempat ngobrol sebentar dengan papi Hendra. Setelah itu, baru dia berpamitan pulang karena mama Revina sudah berulang kali menghubunginya.


Sepeninggal papa Bian, Rean diantar ke kamar Dena oleh papi Hendra.


"Istirahatlah dulu, Re. Ini sudah hampir pukul sebelas malam. Besok pagi, papi akan menceritakan semuanya kepadamu."


Rean mengangguk-anggukkan kepala. "Baik, Pi. Aku akan istirahat dulu. Selamat malam."


"Malam, Nak."


Setelah itu, Rean segera memasuki kamar Dena. Dia melepas jaket dan beranjak menuju kamar mandi untuk mencuci kaki dan wajahnya. Setelah itu, dia memeriksa ponsel untuk melihat apakah ada pesan dari sang istri.


Ternyata, ada pesan dari Dena sebelum pesawatnya take off dan sesaat setelah pesawat yang ditumpanginya mendarat.


Rean segera membalas pesan Dena tersebut sebelum sang istri curiga. Setelah dirasa cukup, Rean segera merebahkan diri untuk beristirahat.