The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Meminta Izin



Bagai disambar petir di pagi hari yang cerah, Reyhan tersentak kaget. Tubuhnya langsung menegang saat mendengar perkataan pak Surya.


"Apa?!" Kata Reyhan sedikit berteriak karena terkejut.


Pak Surya langsung menoleh menatap wajah Reyhan yang terlihat terkejut. Dia mengerutkan keningnya sambil menatap wajah Reyhan dan Gitta bergantian.


"Ada apa? Kenapa kamu terkejut seperti itu? Apa kamu hanya berniat memacari putri saya dan tidak berniat untuk menikahinya?" Tanya pak Surya dengan wajah galaknya. 


Sontak saja Reyhan semakin terkejut mendengarnya. Secara refleks dia menggelengkan kepalanya.


"Te-tentu saja tidak, Om. Saya tidak seperti itu." Jawab Reyhan. Dia sendiri masih merasa bingung dengan jawaban apa yang baru saja keluar dari mulutnya.


"Kamu serius, Mas?" Kali ini Fida yang sangat bersemangat mendengarnya. Wajahnya tampak berbinar bahagia penuh harap.


Refleks Reyhan menoleh menatap Fida sambil mengangguk mengiyakan. Fida yang sangat bahagia mendengarnya pun tanpa malu-malu langsung memeluk leher Reyhan dan mendaratkan sebuah kecupan pada pipi kiri Reyhan.


Deg deg deg deg deg.


Jantung Reyhan berdetak sangat cepat seperti tak terkendali. Keringat dingin langsung keluar dari pelipisnya. Kedua tangannya terasa bergetar. Dia bahkan tidak berani menoleh menatap wajah Fida. Sementara pak Surya juga terkejut melihat tingkah spontan sang putri.


"Apa-apaan kamu, Fid! Berani-beraninya melakukan hal itu di depan papa!" Kata pak Surya dengan tatapan galaknya. 


Fida menoleh menatap wajah sang papa sambil masih mengulas senyumannya.


"Ada apa sih, Pa?" Tanya Fida dengan wajah tanpa dosanya.


"Ada apa, ada apa. Kamu ini berani-beraninya mencium laki-laki yang belum menjadi suami kamu." Kata pak Surya.


"Maaf, Pa. Tadi kan refleks. Makanya, cepat nikahkan aku dengan mas Reyhan. Biar aku puas mau ngapain saja. Hehehe." Jawab Fida sambil tersenyum nyengir.


Kali ini Reyhan benar-benar mati kutu. Dia bingung harus berbuat apa. Pak Surya menatap wajah Reyhan yang masih terlihat kaget. 


"Kalian mau kemana?" Tanya pak Surya kepada Reyhan.


Reyhan yang sadar dengan pertanyaan pak Surya pun langsung mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia mendongakkan kepalanya dan menatap wajah pak Surya yang kini tengah menatapnya dengan tajam.


"Ehm, ka-kami mau jalan, Om. Sudah lama kami tidak bertemu. Kami berniat akan nonton sekaligus makan siang. Itu pun jika Om mengizinkan." Kata Reyhan.


Pak Surya menatap wajah Reyhan dan Fida bergantian. Terlihat wajah sang putri tengah berbinar bahagia. Beberapa saat setelahnya, pak Surya mengangguk mengiyakan. Fida langsung berlari menghampiri sang papa untuk memeluk lehernya dan memberikan sebuah kecupan pada pipi kirinya.


"Terima kasih, Pa. Papa memang the best." Kata Fida.


"Papa kan memang selalu the best. Sudah, sudah, sana siap-siap. Papa mau ngomong sebentar dengan Reyhan." Kata pak Surya.


Seketika Fida melepaskan pelukan tangannya pada leher sang papa. Dia mengerutkan keningnya terlihat tidak suka. Pak Surya yang melihat wajah putrinya tengah ditekuk seperti itu langsung mencubit hidungnya.


"Papa nggak akan mengusir Reyhan. Papa hanya akan menanyakan beberapa hal saja kepadanya. Sudah sana, cepat siap-siap." Kata pak Surya kepada sang putri yang langsung diangguki oleh Fida. 


Fida segera beranjak berdiri dan berlari-lari kecil menuju kamarnya untuk bersiap-siap setelah sebelumnya dia sempat pamit kepada Reyhan.


Reyhan yang ditinggal berdua dengan pak Surya pun merasa khawatir. Dia takut melakukan kesalahan. Pak Surya yang mengetahui kekhawatiran Reyhan pun berusaha untuk membuatnya rileks.


"Sudah lama kenal dengan Fida?" Tanya pak Surya beberapa saat setelah Fida berlalu ke kamarnya.


"Eh, belum terlalu lama juga, Om." Jawab Reyhan. Dia tidak menjawab dengan mengatakan waktu yang spesifik kepada pak Surya.


Pak Surya mengangguk-anggukkan kepalanya setelah mendengar jawaban Reyhan.


"Kamu serius dengan putri Om?" Tanya pak Surya lagi.


Setelah terdiam cukup lama, Reyhan pun menganggukkan kepalanya. Reyhan berpikir, jika dia ingin menolong Fida untuk membatalkan rencana perjodohan ini, sekalian saja sampai tuntas.


Pak Surya sedikit menarik kedua sudut bibirnya setelah mengetahui jawaban Reyhan. Entah mengapa dia cukup yakin dengan laki-laki yang ada di depannya ini.


"Orang tua kamu tinggal dimana?" Tanya pak Surya.


"Ehm, orang tua saya sudah meninggal Om. Saya hanya tinggal sendiri di sini. Kalaupun memiliki keluarga, kebanyakan mereka tinggal di luar Jawa." Jawab Reyhan.


Pak Surya pun sedikit terkejut setelah mendengar jawaban dari Reyhan.


"Oh, maafkan saya." Kata pak Surya yang merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa Om. Orang tua saya sudah meninggal sejak saya masih sekolah. Itu sudah lama sekali. Saya sudah mengikhlaskannya." Jawab Reyhan.


Pak Surya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Boleh saya minta satu hal kepadamu?" Tanya pak Surya setelah terdiam beberapa saat.


"Silahkan, Om. Saya akan melakukannya jika saya bisa." Jawab Reyhan.


"Dulu, saya dan mamanya Fida menikah setelah sama-sama lulus kuliah. Saat itu kami berharap segera memiliki momongan. Namun, ternyata kami harus menunggu hampir sembilan tahun untuk mendapatkan Fida. Satu hal yang Om minta, tolong jaga dia baik-baik. Jangan buat dia sedih. Jangan juga mengecewakannya."


"Kami menjodohkan Fida bukan karena kami tidak sayang kepadanya. Justru karena kami sangat menyayanginya. Kami hanya ingin dia menikah dengan orang yang bisa membahagiakan dia, bisa menjamin kehidupannya kelak. Namun, ternyata kami keliru. Beberapa kali Fida mengatakan tidak ingin dijodohkan. Kami tidak mengetahui alasan sebenarnya. Hingga hari ini saya tahu alasannya menolak perjodohan ini karena dia sudah memiliki kamu sebagai calon suaminya. Om minta, tolong jaga putri Om baik-baik. Om yakin kamu bisa melakukannya." Kata pak Surya panjang lebar.


Hati Reyhan bergetar mendengar perkataan pak Surya. Reyhan masih terpaku menatap wajah pak Surya. Tidak ada wajah galak di sana. Yang ada hanya wajah seorang ayah yang tengah mengkhawatirkan kebahagiaan putri semata wayangnya.


Reyhan menganggukkan kepalanya untuk meyakinkan pak Surya.


"Iya, Om. Saya akan berusaha untuk tidak mengecewakan putri Om. Saya juga akan berusaha untuk membuatnya bahagia." Jawab Reyhan.


Entah mengapa mulutnya bisa selancar itu mengucapkannya. Reyhan masih belum menyadarinya. Belum sempat pak Surya menyahuti perkataan Reyhan, terdengar suara Fida yang tiba-tiba sudah berada di sana.


"Aku sudah siap, Mas. Ayo segera berangkat." Kata Fida sambil berjalan mendekat.


Reyhan menoleh menatap Fida yang sudah sampai di dekat sanga papa. Matanya kembali mengerjap-ngerjap saat melihat Fida yang sudah siap tersebut. Entah mengapa dia merasa sangat sulit sekali bereaksi saat itu hingga pak Surya harus berdehem untuk menyadarkan Reyhan. Reyhan segera tersadar dan beranjak berdiri.


"Kami berangkat dulu, Om. Saya berjanji akan menjaga Fida dengan baik." Kata Reyhan sambil berdiri.


Pak Surya pun mengikuti Reyhan berdiri. Dia mengangguk-anggukkan kepalanya setelah mendengar perkataan Reyhan.


"Om percaya sama kamu. Mulai sekarang, biasakan untuk memanggil Om dengan sebutan papa seperti Fida. Tidak lama lagi kamu akan resmi jadi menantu saya." Kata pak Surya.


"Pa-papa?!"


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Maaf slow up ya, othor e nginem seharian.