The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 88



Menjelang pukul sepuluh pagi, Kinan berpamitan. Dia harus segera pulang untuk membersihkan rumah sewanya yang sudah ditinggal selama satu minggu karena menginap di rumah orang tuanya.


Berhubung hari itu weekend, Rean memilih berada di apartemen seharian. Dia juga tidak mengunjungi distro yang biasanya cukup ramai pada saat weekend seperti itu.


"Nggak keluar, Mas?" Dena berjalan pelan-pelan menghampiri Rean yang saat itu sedang selonjoran di ruang tengah sambil menatap laptopnya.


Rean menolehkan kepala ke arah Dena yang saat itu sedang mendudukkan diri di samping Rean.


"Enggak, Yang. Aku mau di rumah saja. Mau ngadem sama istri." Dengan berani, Rean mendekatkan wajahnya pada wajah Dena dan menciumi pipi kiri sang istri.


Sontak saja apa yang dilakukan Rean tersebut berhasil membuat wajah Dena semakin merona. Meskipun begitu, Dena sama sekali tidak melarang sang suami untuk melakukannya.


"Memangnya, kamu mau apa, Mas?" tanya Dena setelah Rean melepaskan belitan pada tubuhnya, dan kembali menekuri layar laptop.


Rean menolehkan kepala sekilas sebelum menjawab. "Ini, Yang. Aku sedang memeriksa pengerjaan rumah. Takutnya ada yang tidak sesuai."


Dena cukup terkejut saat mendengar perkataan Rean. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang Rean bicarakan. Selama ini, mereka tidak membicarakan apa-apa terkait dengan rumah. Apa mungkin Rean lupa mengatakannya? Ataukah Dena yang lupa meski sudah diberitahu Rean? batin Dena.


"Rumah? Maksudnya apa, Mas?" Dena benar-benar penasaran.


Kini, Rean yang mengerutkan kening. Dia memikirkan apa mungkin belum cerita jika sedang menyiapkan rumah untuk mereka.


"Apa aku belum cerita ya, Yang?"


"Eh, cerita apa?"


"Hhaa?" Dena cukup terkejut mendengar jawaban Rean.


Rean yang melihat ekspresi Dena, langsung berpikir jika dia belum memberitahu sang istri. Setelah itu, Rean menjelaskan apa yang sedang dilakukannya. 


Rean menjelaskan jika dia sudah membeli sebuah rumah sederhana yang terletak di perumahan tak jauh dari apartemen mereka. Rean menjelaskan jika rumah itu dibelinya bahkan sebelum dia mengenal Dena. Rumah itu, milik salah satu karyawan papa Bian. Karena ingin memiliki rumah yang lebih besar, akhirnya rumah tersebut dijual dan dibeli oleh Rean.


Rean menunjukkan gambar asli rumah sederhana tersebut sebelum di renovasi. Rumah tersebut berdiri pada lahan dengan ukuran lebar tujuh meter dan panjang tiga belas meter tersebut. Sebelum direnovasi, model rumah tersebut mirip seperti model rumah-rumah yang ada di sekitarnya.


Namun, setelah Rean menunjukkan gambar berikutnya, Dena tampak begitu terkejut. Kali ini, bangunan rumah tersebut benar-benar berbeda dengan gambar pertama. Rumah tersebut sudah direnovasi oleh Rean. Rumah yang awalnya hanya satu lantai, kini sudah berdiri kokoh dengan dua lantai. 


Rean yang melihat wajah terkejut Dena langsung menjelaskan konsep rumah yang dibangunnya.


"Dulu, rumah ini hanya satu lantai dengan dua kamar tidur. Setelah aku pikir, akan sangat tidak nyaman jika kita hanya punya dua kamar tidur nanti. Akhirnya, setelah rembukan dengan papa, aku membongkar semua bangunan rumah tersebut dan menggantinya dengan yang ini."


"Sekarang, sudah ada dua lantai. Di lantai satu, ada ruang tamu, sebuah kamar tamu, dapur, ruang keluarga, ruang makan dan sebuah toilet. Sedangkan di lantai dua, ada kamar utama dan dua kamar anak." Rean menjelaskan kepada Dena.


"Eh, kenapa ada dua kamar anak?"


"Aku maunya punya dua anak. Tapi, jika kamu mau lebih dari dua, aku juga tidak keberatan. Aku ikhlas kok, membuatnya." Rean menatap Dena sambil mengulas senyuman dan menaik turunkan alisnya.


\=\=\=


Belum juga lunas cicilannya sudah mikirin anak Re, 🤧