The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 52



Cello baru saja sampai di tempat futsal Aldi. Ternyata, disana juga sudah ada Tio dan teman-teman futsalnya. Mereka tengah bersiap untuk bermain futsal malam itu.


"Kok nggak bawa kostum futsal? Nggak ikut, lo?" Tanya Tio saat menghampiri Cello yang tengah ngobrol dengan Aldi.


"Enggak. Gue nggak lama kok. Bentar lagi balik." Jawab Cello.


"Tumben. Dilarang bini lo?" 


"Enggak, Yo. Lagi nggak mood mau main."


Tio mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah itu, dia segera berbalik dan ikut bermain futsal dengan teman-temannya. Sementara Cello, dia masih mengobrol dengan Aldi.


"Yakin lo mau lepas tempat ini?" Tanya Cello kembali kepada Aldi.


"Yakin nggak yakin, sih. Lo tau sendiri gimana gue ngebesarin tempat ini. Tapi, jika tempat ini nggak gue lepas, gue juga nggak mungkin tega sama nyokap." Jawab aldi lemas.


Ya, Aldi memang berencana akan menjual tempat futsalnya tersebut. Keluarganya memang sedang ada masalah keuangan karena ulah sang ayah yang mempunyai banyak hutang. Alhasil, sebagian besar properti yang dimiliki dijualnya. Tak terkecuali, tempat futsal tersebut.


Cello masih diam memikirkan sesuatu. Sebenarnya, dia berminat untuk membeli tempat futsal tersebut. namun, dia masih belum berani mengambil keputusan.


"Lo sudah tawarkan kemana saja?" Tanya Cello sambil memanggil salah satu karyawan Aldi untuk memesan minuman.


"Belum sempat, sih. Gue juga masih ragu-ragu." 


"Jangan ditawarkan dulu. Nanti, gue coba bicarakan dulu sama bokap." Kata Cello.


Aldi langsung mengangguk mengiyakan.


"Gue akan sangat berterimakasih jika daddy lo yang beli tempat ini. Gue jadi ikhlas melepasnya." Jawab Aldi dengan sumringah.


"Semoga. Dan, kalaupun daddy mau membeli tempat ini, gue pastiin lo yang akan tetap mengelola tempat ini." Kata Cello.


"Thanks, Bro."


Tak berapa lama kemudian, pesanan minuman untuk Cello pilun datang. Aldi pamit sebentar untuk menemui teman-temannya yang sedang bermain. Cello segera merogoh sakunya saat merasakan ponselnya bergetar. Cello segera membuka pesan yang baru saja masuk pada aplikasi perpesanannya tersebut. Seketika keningnya berkerut saat mendapati pesan dari Shanum.


Jangan lama-lama, Mas. Aku sudah polosan ini. Takut kedinginan di rumah. Mau diangetin secepatnya. ~ tulis Shanum pada pesannya.


Apanya yang diangetin? ~ balas Cello.


Tak berapa lama kemudian, terasa getaran pada ponsel Cello. Dia kembali membuka pesan dari sang istri. Saat itu, Cello sedang mengambil gelas minumannya dan hendak meminumnya.


Namun, sontak saja Cello terkejut melihat pesan yang dikirim oleh sang istri. Bukan pesan teks, melainkan sebuah foto yang memperlihatkan bagian atas tubuhnya yang sudah polos, sehingga membuat dua buah jelly kenyal tersebut langsung menyembul dan mengintip di sana.


Cello langsung salah fokus. Bukannya mengarahkan sedotan minuman ke dalam mulutnya, namun justru dia membuat sedotan tersebut masuk ke dalam hidungnya. Sontak saja Cello langsung berteriak kesakitan karena ulahnya sendiri.


Aldi yang tengah berdiri di tepi lapangan pun langsung menoleh ke arah Cello.


"Lo kenapa, Cell?"


Cello yang masih bersin-bersin pun langsung berdiri. Dia menoleh menatap Aldi sekilas sebelum beranjak pergi.


"Sepertinya gue mimisan. Gue cabut dulu, Al." Kata Cello buru-buru beranjak pergi tanpa menunggu jawaban dari Aldi.


Sepanjang perjalanan, otak Cello langsung tertuju pada Shanum. Apa benar malam ini dia akan berbuka puasa? Jika iya, dia pasti tidak akan melewatkannya.


"Apa aku harus membeli k*nd* ya? Biasanya kan mereka memakai itu agar tidak hamil. Ah, tapi biar saja jika Shanum hamil. Aku kan suaminya," guman Cello pada diri sendiri.


Entah karena pikirannya yang sudah tertuju pada rumah atau karena jarak rumahnya memang jauh, Cello hanya bisa mengumpat karena belum sampai rumah juga. 


Saat mobilnya berhenti di perempatan lampu merah, terdengar suara pesan masuk pada ponselnya. Celli segera memeriksanya. Dan lagi-lagi, dia dibuat semakin gerah dengan tingkah sang istri. 


Ternyata Shanum mengirimkannya foto lagi. Kali ini, foto bagian bawah tubuhnya mulai dari lutut hingga sedikit ke atas. Sialnya, bagian 'itu' juga ikut terjepret oleh Shanum. Hal itu membuat tubuh Cello semakin meremang. Apalagi, Cello membaca pesan yang berada di bawah foto tersebut.


Sudah aku babat habis hutannya, Mas. Bisar nggak 'njembrung'. ~ tulis Shanum.


Cello yang membaca pesan tersebut langsung mendengus dengan keras. Apalagi, dia merasakan sesuatu yang sudah menggeliat di bawah sana. Cello hanya bisa mendesih sambil menatap bagian bawah tubuhnya.


"Oh tidak, jangan bangun dulu. Aku takut kamu akan kelelahan untuk begadang nanti malam."


••


Omong karo sopo Cell? 🙄