The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Rean 99



Sebenarnya, Kinan sudah berniat untuk menemani Adrian ke rumah sakit. Namun karen jadwal kuliahnya belum selesai, Kinan mengurungkan niatnya.


Hingga menjelang pukul dua siang, Kinan sudah selesai. Dia bergegas pulang setelah membereskan barang-barangnya.


Sebelum pulang, Kinan menyempatkan diri untuk berbelanja kebutuhan bahan makanan. Di rumah, tidak ada bahan makanan yang bisa di olahnya untuk makan malam nanti. Selain itu, Kinan juga memesan beberapa makanan dan kue untuk diberikan kepada tetangga sekitar. 


Sebagai bentuk rasa syukur, Kinan sebenarnya ingin memasakkan makanan sendiri. Namun, dia tidak memiliki banyak waktu. Jadwal ujian di kampusnya membuat Kinan tidak bisa terlalu lama membuat Kinan bersantai atau melakukan aktivitas lain dengan leluasa.


Tak butuh waktu lama, Kinan sudah mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Ada sayur, buah, daging, ayam, telur, hingga bumbu dapur pun tak luput dari belanjaan Kinan. Setelah esok hari, Kinan ingin bisa memasak makanan untuk suaminya tersebut. Jadwal mata kuliah yang diampu Kinan di kampus, hanya tinggal menyisakan dua ujian untuk esok hari.


Setelah membayar semua belanjaan, Kinan segera membawanya ke mobil. Dan, setelah semua belanjaan masuk ke dalam mobil, Kinan segera bergegas untuk pulang. Namun, sebelum dia menjalankan mobilnya, Kinan mengambil ponsel untuk menghubungi Adrian.


"Hallo," sapa Adrian setelah panggilan Kinan tersambung.


"Hallo, Mas. Hari ini pulang jam berapa?"


"Ehm, sebelum makan malam mungkin sudah pulang. Ada apa?"


"Tidak apa-apa. Aku hanya mau tanya mau makan apa malam ini? Atau, mau makan aku saja juga boleh. Aku ikhlas, kok. Hehehe." Kinan sengaja menggoda Adrian.


Apa yang dilakukan Adrian? Tentu saja Adrian langsung kaget. Apalagi, saat itu dia sedang berada di rumah sakit untuk melepas jahitan pada lukanya. Dia sampai harus berdehem untuk menyamarkan keterkejutannya.


"Eheemmm. Masak apa saja. Aku pasti akan memakannya," jawab Adrian buru-buru.


"Baiklah kalau begitu. Aku tunggu di rumah."


"Iya."


Setelahnya, panggilan telepon tersebut terputus. Adrian menoleh sekilas ke arah dokter Byrne, dokter pribadi keluarganya, sekaligus kakak senior Adrian di masa sekolah dulu.


Dokter Byrne hanya bisa senyum-senyum setelah samar-samar mendengar ucapan Kinan saat menghubungi Adrian.


"Waahh, jadi sudah berani makan memakan nih? Siapa wanita itu, Yan?" tanya dokter Byrne.


"Masih nggak mau ngaku. Aku akan bilang ke orang tua kamu jika kamu sudah berani main perempuan. Biar dinikahkan saja sekalian." Dokter Byrne yang berada di belakang tubuh Adrian langsung menjawab.


"Cckkk. Mama dan papa sudah tahu kali, Dok."


Tentu saja jawaban Adrian membuat dokter Byrne terkejut. 


"Eh, serius orang tua kamu sudah tahu, Yan?"


"Hhmmm."


"Kok bisa? Sejak kapan?" Dokter Byrne semakin penasaran.


"Sejak kemarin. Lagian ya, Dok, wanita itu bukan orang lain. Dia adalah istriku. Kami sudah menikah hari sabtu ke kemarin."


Dokter Byrne langsung terkejut saat mendengar jawaban Adrian.


"Hah? Serius kamu sudah menikah lagi, Yan? Kok bisa? Kenapa aku tidak diberitahu?


"Acaranya juga masih kecil-kecilan, Om. Kami belum menggelar acara resepsi pernikahan. Kami harus mengatur jadwal dan tanggal yang pas."


"Hhmm begitu, ya?" Dokter Bryne mengangguk-anggukkan kepala. Lalu setelah beberapa saat kemudian, dokter Byrne seperti tersadar akan sesuatu.


"Ini luka di punggung kamu serius karena terkena ranting, Yan? Bukan karena cakaran istri kamu saat kamu bobol, kan?"


"Hah?"


Jangan lupa kasih jejak yang banyak. Biar othor semangat up.


Klik like dan komen yang banyak untuk bab di atas juga. Othor bisikin nanti part belah belahannya biar segera launching sebelum puasa 🤭