
Hari-hari mendekati waktu kelahiran Shanum pun sudah semakin dekat. Keluarga besar mereka juga sudah mulai bersiap-siap mempersiapkan kelahiran cucu-cucu pertama mereka. Tak terkecuali mommy Fara. Mommy terlihat sangat antusias mempersiapkan segala keperluan sang cucu pertama.
Sore itu, daddy El terlihat baru saja turun dari kendaraan. Dia memang pulang agak lebih awal karena sudah tidak ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Daddy El langsung berjalan menuju kamar setelah mengetahui keberadaan mommy Fara di dalamnya.
Begitu masuk ke dalam kamar, sontak saja daddy El langsung terkejut. Kedua bola mata dan mulutnya terbuka saat melihat perubahan yang ada di dalamnya.
"Apa-apaan ini, Yang?" Tanya daddy El sambil berjalan memasuki kamar.
Mommy Fara yang saat itu sedang menata selimut pun menoleh. Dia langsung tersenyum dan berjalan mendekati sang suami yang masih berdiri di dekat tempat tidur.
"Sudah pulang, Mas?" Kata mommy Fara sambil memeluk tubuh daddy El dari depan. Kepalanya langsung mendongak dan menyambar bibir sang suami.
Sekali, dua kali, tiga kali, hingga kini daddy El tidak melepaskan sang istri. Dia jadi ikut terpengaruh dengan apa yang dilakukan oleh mommy Fara. Tangan kanan daddy El langsung menekan punggung mommy Fara hingga menempel dengan sempurna pada tubuhnya. Sementara tangan kirinya menekan tengkuk hingga membuat mommy Fara tidak bisa bergerak sedikitpun. Mau tidak mau, mommy Fara mengikuti dan membalas semua perlakuan daddy El.
Pagutan kedua benda kenyal tersebut akhirnya terlepas saat mereka berdua menyadari jika sudah kehabisan pasokan oksigen. Suara napas mereka terdengar memburu.
"Hah hah hah. Kamu ini, Mas. Nggak bisa lihat orang main sedikit saja, langsung disambar." Gerutu mommy Fara sambil memukul kecil dada sang suami.
"Habisnya kamu mancing-mancing. Lalu, apa maksudnya ini semua?" Tanya daddy El sambil melepaskan pelukannya pada tubuh mommy Fara.
Mommy Fara tersenyum sambil mengapit lengan sang suami. Dia juga langsung menyandarkan kepalanya pada bahu daddy El sambil berbalik.
"Nggak apa-apa ya Mas, jika aku pasang box bayi di sini. Nanti biar anak-anak Cello sesekali tidur di sini." Kata mommy Fara sambil menatap box bayi yang baru saja di tata di dalam kamar tidur mereka.
Ya, mommy Fara memang membeli sebuah box bayi jumbo dan di pasang di dalam kamarnya. Berhubung calon cucunya ada dua, tak tanggung-tanggung mommy Fara memilih box bayi yang berukuran paling besar. Alhasil, kamar tidur mereka sekarang terlihat menjadi lebih sempit dengan adanya box bayi tersebut.
"Apa-apaan sih kamu, Mas. Mana mungkin aku bisa menyusui lagi. Jika masih bisa, sudah pasti habis kamu sedot setiap hari. Sembarangan juga kalau ngomong!" Jawab mommy Fara sambil mengerucutkan bibirnya.
Daddy El hanya bisa nyengir setelah mendengar perkataan mommy Fara.
"Lalu, kenapa box bayi ini ada disini?"
"Jika siang, mereka bisa aku bawa tidur siang disini. Biar sekalian nanti mereka terbiasa."
"Maksudnya terbiasa apa?"
"Ya nanti jika mereka sudah besar, aku mau mereka sering-sering tidur dengan kita."
"Eh, nggak mau!" Teriak daddy El.
Mommy Fara yang mendengarnya langsung menoleh menatap wajah daddy El dengan kening berkerut.
"Memangnya kenapa?"
"Masa iya kamu mau biarkan mereka dengar suara kamu saat kita main pompa-pompaan. Kamu kan suka berisik sekali, Yang. Suka banget teriak ouusshh Mash, auuhhh iyaaa terus, terus iyaa ho oh."
"Mass!"
Astaga, itu daddy El mulutnya minta diapakan ya? Bisa-bisanya buka rahasia begitu. Nggak takut apa para reader jadi suka bayangin nanti. 🤧