
Cello berangkat ke tempat pelatihan dengan menggunakan transportasi umum. Bukannya Cello tidak mempunyai mobil di sana, namun dia lebih nyaman jika berangkat ke tempat pelatihan dengan menggunakan transportasi umum. Selain itu, di rumah juga ada orang tuanya. Siapa tahu nanti mereka akan pergi ke suatu tempat.
Tak butuh waktu lama bagi Cello untuk sampai di tempat pelatihan. Hanya sekitar dua puluh menit dia sudah sampai.
Tempat pelatihan tersebut berada di sebuah gedung. Cello dan anggota kelompoknya yang terdiri dari lima belas orang berada di lantai enam. Kebetulan, semua anggota kelompok Cello berasal dari luar negeri.
"Bagaimana harimu kemarin, Cell?" sapa Alicia Smith, rekan satu kelompok Cello yang berasal dari Australia.
"Baik. Kamu sendiri?"
"Aku baik. Well, aku tidak bertemu denganmu kemarin di King's Bee. Biasanya kamu jika weekend berada di sana."
"Oh itu, aku ada urusan kemarin," jawab Cello sambil mulai menyiapkan materi.
Alicia mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia masih mengamati aktivitas Cello yang duduk tepat di sebelahnya. Ya, Alicia memang menyukai Cello. Selain wajahnya yang mewarisi gen bule dari sang kakek, Cello juga terkenal cerdas. Selama berada kurang lebih satu bulan di sana, Cello sudah bisa menunjukkan kemampuannya. Bahkan, beberapa mentor di kelas Cello langsung bisa melihat potensi yang dimiliki oleh Cello.
Cello yang menyadari tengah diperhatikan oleh Alicia, langsung menoleh ke arahnya. Keningnya berkerut saat melihat Alicia tengah tersenyum ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Cello sambil masih melanjutkan aktivitasnya.
"Ah, nothing." Ucap Alicia sambil mengalihkan pandangannya. Dia segera melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Cello.
Pukul sepuluh pagi, kelas pertama sudah selesai. Mereka mendapat kesempatan untuk istirahat selama lima belas menit sebelum dimulainya kelas baru.
Cello segera berjalan ke arah belakang untuk mengambil jus mangga segar yang memang sudah di siapkan di sana. Sebuah cupcake juga dibawanya kembali ke mejanya.
"Tadi sudah sarapan?" tanya Alicia yang tiba-tiba sudah berada di depan meja Cello.
"Hhhmmm."
"Mau makan siang bareng nanti?" tawar Alicia.
Namun, belum sempat Cello menjawab pertanyaan Alicia, terlihat sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponselnya. Cello segera melihat dan tersenyum setelahnya. Shanum mengirimkan sebuah foto Drew dan Dryn yang sedang bermain dengan daddy El di ruang tengah. Mereka terlihat sangat bahagia.
Alicia dan seluruh temannya memang belum mengetahui jika Cello sudah menikah. Cello yang datang pada minggu kedua tersebut melewatkan sesi perkenalan dengan teman-teman satu kelompoknya tersebut.
Setelah cukup membalas pesan sang istri, Cello kembali menoleh ke arah Alicia.
"Ada apa tadi?"
"Oh, nothing." Jawab Alicia sambil menggelengkan kepalanya.
Cello kembali melanjutkan makan cupcakenya sebelum waktu break selesai. Beberapa saat kemudian, kelas kedua sudah dimulai.
Pukul empat sore seluruh rangkaian kelas hari itu selesai. Cello dan semua teman satu kelompoknya segera membuat laporan untuk kegiatan hari itu dan dikumpulkan kepada petugas. Setelah selesai, Cello segera membereskan perlengkapannya dan bersiap untuk pulang. Dia benar-benar sudah sangat merindukan dua jagoannya.
"Pulang bareng aku saja, Cell." Tawar Alicia saat Cello sedang bersiap-siap.
"Ah, thanks. Aku naik transportasi umum saja," jawab Cello sambil mengulas senyumannya.
"Kenapa sih selalu tidak mau pulang bareng?" kata Alicia sambil menggerutu tidak jelas.
Cello menolehkan kepalanya menatap wajah Alicia.
"Sorry, Lice. Bukannya aku tidak mau pulang bareng. Tempat tinggal kita berlawanan arah. Selain itu, aku selalu mampir dulu untuk berbelanja. Jadi, sangat memakan waktu jika kamu harus mengantarku pulang." Jawab Celli sambil berusaha tersenyum.
"Aku tidak keberatan jika harus mengantarmu berbelanja lebih dulu."
"Tapi aku yang keberatan."
"Eh,"
Mumpung hari Senin, bantu klik vote buat othor ya, biar tambah semangat up.