
"Kamu selingkuh?" Tanya Kenzo yang tiba-tiba sudah berada di belakang Vanya.
Seketika Vanya menoleh menatap wajah Kenzo yang tengah cemberut di belakangnya. Dia segera menggeser tubuhnya sehingga menyisakan ruang yang cukup luas di sofa tersebut. Vanya menarik lengan Kenzo hingga dirinya berhasil duduk di sebelah Vanya.
"Siapa sih yang selingkuh Mas. Aku nggak punya pacar. Lagian, mana sempat aku memikirkan masalah itu. Aku lebih memilih bekerja." Kata Vanya sambil mengusap-usap bahu Kenzo.
Kenzo menatap wajah Vanya dengan tatapan tajamnya. Dia berusaha mencari kebohongan di sana. Namun, Kenzo sama sekali tak menemukan kebohongan disana. Kenzo masih menatap wajah Vanya yang berada di depannya.
"Aku percaya kepadamu." Jawab Kenzo sambil tersenyum dan mengusap pipi Vanya dengan lembut.
Vanya merasa sangat bahagia. Dia menyandarkan kepalanya pada bahu Kenzo sambil memeluk tubuhnya dengan erat. Kenzo pun segera merengkuh tubuh Vanya dan mengusap bahunya dengan lembut.
"Besok kita kembali ke Jakarta." Kata Kenzo setelah lama menatap deburan ombak yang memecah di pantai di depan mereka.
Seketika Vanya mendongak menatap wajah Kenzo setelah mendengar perkataannya.
"Kenapa?" Tanya Vanya.
Kenzo terlihat menghembuskan nafas beratnya sebelum menjawab pertanyaan Vanya.
"Kita tidak akan bisa bebas melakukan apapun di sini. Mama menyuruh Reyhan untuk mengikuti kita di sini dan melaporkan semua kegiatan yang akan kita lakukan." Jawab Kenzo.
"Hhaaaahh, benarkah?!" Tanya Vanya tidak percaya.
Kenzo segera mengangguk mengiyakan pertanyaan Vanya.
"Darimana mas Ken tahu hal itu?"
"Aku bertemu dengannya di minimarket tadi. Dia juga yang membantu membawakan semua barang-barang belanjaanku tadi." Jawab Ken sambil menghembuskan nafas beratnya.
Vanya mengerucutkan bibirnya tidak senang. Namun, jika dia tetap disini pun juga tidak mungkin. Dia juga tidak mau jika semua aktivitasnya di awasi dan di laporkan kepada sang mertua.
"Kenapa mama melakukan hal ini Mas?" Tanya Vanya.
"Mama hanya tidak mau kita akan kesulitan disini." Kilah Kenzo. Padahal, Kenzo sangat yakin mama meminta Reyhan mengawasinya dan Vanya untuk memastikan jika kami akan benar-benar berlibur sebagai sepasang suami istri.
"Memangnya kita akan kesulitan apa disini Mas? Tempat ini kan menawarkan semua fasilitas, jadi kecil kemungkinan kita akan kesulitan disini. Atau mungkin, mama hanya khawatir jika mas Ken tidak akan bisa menghandle semua hal sendiri begitu?" Ejek Vanya.
Kenzo mendengus kesal setelah mendengar perkataan sang istri.
"Mana mungkin aku tidak bisa menghandle sendiri. Aku sudah terbiasa dengan hal itu." Jawab Ken.
"Masa sih? Tapi buktinya kenapa semua hal harus selalu Reyhan yang turun tangan Mas?" Goda Vanya lagi.
"Maksudnya?!"
"Maaf, bukan begitu maksudku Mas. Tadi, maksudku adalah siapa tahu mama berpikir jika mas Ken masih membutuhkan Reyhan. Biasanya di kantor kan seperti itu. Jadi, mama berpikir jika dia ada di sini akan bisa membantu, begitu Mas." Jawab Vanya.
Kenzo memutar bola matanya dengan jengah. Dia tahu alasannya bukan seperti itu. Namun, dia enggan untuk berdebat.
Malam harinya, Kenzo mengajak Vanya untuk makan malam di luar. Awalnya, Kenzo ingin mengajak Vanya makan malam romantis ala-ala pasangan pengantin baru yang sedang honeymoon. Namun, Vanya menolaknya. Dia ingin mengajak Kenzo untuk wisata kuliner jajanan di sana.
Dan, disinilah mereka akhirnya. Vanya mengajak Kenzo untuk makan di warung tenda di pinggir jalan. Vanya ingin sekali mencicipi nasi goreng yang ada di sana. Sepertinya enak, batin Vanya.
Vanya langsung meminta turun dari taksi saat melihat banyaknya orang yang berada di warung tersebut. Dia sangat penasaran dengan rasa nasi goreng yang di jual. Apa benar rasanya memang enak, atau karena harganya yang miring, itu yang akan dicari tahu oleh Vanya.
Vanya mengajak Kenzo untuk duduk di kursi karpet paling ujung. Kenzo terlihat tidak nyaman berada di sana. Vanya yang menyadari hal itu langsung mengusap bahu Kenzo.
"Maaf jika buat mas Ken tidak nyaman. Aku penasaran kenapa warung makan ini ramai sekali Mas." Kata Vanya sambil tersenyum bahagia.
Kenzo yang melihat wajah bahagia Vanya tidak tega untuk mengajaknya pergi dari sana. Dia hanya bisa membalas senyuman yang diberikan oleh Vanya sambil mengangguk mengiyakan.
Tak berapa lama kemudian, pesanan nasi goreng mereka sudah datang. Vanya dengan penuh semangat langsung mengambil sendok dan segera mencicipi nasi goreng tersebut.
Nasi goreng yang memang digoreng dengan menggunakan tungku dengan bahan bakar arang itu memang terasa beda. Dia mempunyai cita rasa sendiri di lidah.
"Eehhmm, ini enak sekali Mas. Jarang-jarang lho ada nasi goreng seperti ini." Kata Vanya.
Kenzo yang ikut mencicipinya pun juga merasakan hal yang sama. Dia juga bisa merasakan cita rasa yang beda pada nasi goreng tersebut.
"Hhhmmm, lumayan enak." Jawab Kenzo.
Vanya yang melihat sang suami dapat menikmati nasi goreng tersebut pun sangat senang. Akhirnya mereka bisa menikmati makan malam tersebut dengan puas.
Setelah menghabiskan makan malam mereka, Kenzo dan Vanya memutuskan untuk segera kembali ke hotel tempat mereka menginap. Mereka harus segera beristirahat karena keesokan harinya kenzo dan Vanya mengambil penerbangan pertama ke Jakarta.
Setelah sampai di hotel, mereka segera membersihkan diri dan langsung beristirahat. Tidak ada acara tanya jawab atau saling cerita. Mereka cukup merasa lelah hari itu.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Selanjutnya, masih mengetik ya