The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Part M2.94



Mommy Vanya benar-benar bahagia dengan kabar kehamilan Fara. Hari itu, mommy Vanya langsung menelpon dokter kandungan untuk membuat janji pemeriksaan. Mommy juga meminta El menjemput Fara nanti siang. Tidak peduli sekalipun El ada pekerjaan penting. Bagi mommy, El harus menemani sang istri untuk pemeriksaan kandungan pertamanya.


Mau tidak mau, El hanya bisa pasrah mendengar permintaan sang mommy. Daddy Kenzo juga kena imbas dari berita kehamilan sang menantu. Dia tidak boleh memberikan pekerjaan terlalu banyak untuk El. Mendengar permintaan sang istri, mau tidak mau daddy Kenzo pun mengangguk mengiyakan.


"Memangnya dulu saat hamil, mommy nyebelin seperti itu ya, Dad?" Tanya El sambil berjalan menuju mobilnya yang sudah siap di halaman depan rumah.


"Hhhmmm. Mommy kamu suka nyebelin jika punya keinginan. Dan biasanya, keinginannya itu aneh-aneh." Jawab daddy Kenzo. 


Naas sekali percakapan kedua ayah dan anak tersebut masih bisa didengar oleh mommy Vanya. Mommy yang berniat mengantarkan map milik daddy malah mendengar percakapan suami dan putranya tersebut.


"Oh, jadi aku nyebelin, Mas?" 


Sontak saja daddy Kenzo dan El berbalik. Kedua pasang netra mereka membulat dengan sempurna saat melihat mommy Vanya sudah berdiri di belakang mereka.


"Sa-sayang…" Daddy Kenzo berniat untuk menjelaskan maksud perkataannya kepada mommy Vanya. Namun, saat daddy hendak berjalan mendekat, mommy Vanya sudah mengacungkan jari telunjuknya.


"Mulai nanti malam sampai dua minggu kedepan, kamu puasa Mas. Awas saja merengek-rengek seperti anak kecil." Kata mommy Vanya.


"Eh, dua minggu? Tidak-tidak. Aku tidak mau. Enak saja dua minggu. Bisa-bisa pilek selama itu, Yang."


"Biarain." Jawab mommy Vanya sambil berjalan masuk kembali ke dalam rumah setelah memberikan map tersebut kepada sang suami.


El yang melihat wajah suram sang daddy berusaha menyemangati.


"Tenang, Dad. Nanti El bantu cari cara biar mommy yang gantian merengek-rengek minta ke Daddy." Kata El menatap sang daddy sambil menaik turunkan alisnya.


Melihat tingkah sang putra, daddy Kenzo hanya bisa menghembuskan napas beratnya. Setelahnya, mereka benar-benar berangkat ke kantor.


Menjelang makan siang, El sudah sampai di rumah. Sang mommy sudah beberapa kali meneleponnya untuk segera pulang dan mengantarkan sang istri ke dokter kandungan. 


"Mommy yakin nggak ikut?" Tanya Fara saat berjalan menuju mobil El terparkir.


"Mommy nggak ikut, Sayang. Mommy sudah ada janji dengan tante Fida. Nggak enak membatalkan janji yang sudah lama dibuat. Kalian hati-hati di jalan. Nanti, kalian bisa menanyakan masalah apapun terkait kehamilan." Jawab mommy Vanya.


El dan Fara hanya bisa mengangguk mengiyakan. Setelahnya, mereka segera berangkat menuju tempat praktek dokter kandungan.


Sesampainya di tempat praktek tersebut, El dan Fara masih harus menunggu nomor antrian. Masih ada empat orang lain sebelum mereka untuk menunggu diperiksa. Sekitar satu jam kemudian, giliran nama Fara dipanggil. Fara dan El langsung beranjak untuk memasuki ruangan dokter tersebut.


Setelah menanyakan jadwal bulanan Fara, dokter Ayu meminta Fara untuk berbaring di atas brankar untuk melakukan USG. Dengan bantuan seorang perawat, dokter Ayu melakukan pemeriksaan pada perut Fara. El yang setia berdiri di samping Fara pun terlihat antusias. Tanpa berkedip, kedua netranya menatap monitor yang menampilkan kantong kecil tersebut.


El tampak bersemangat sekali mendengar penjelasan dari dokter Ayu tersebut. Setelah selesai, Fara dan El kembali duduk untuk mendengarkan penjelasan dari dokter Ayu.


"Tolong jaga makanan yang dikonsumsi ya Bu. Jaga kondisi tubuh juga. Usahakan jangan melakukan aktivitas yang terlalu melelahkan. Usia kandungan trisemester pertama ini masih sangat rentan. Jadi, mohon kerjasamanya juga untuk suami." Kata dokter Ayu sambil menuliskan resep vitamin untuk Fara.


"Ehm, aktivitas yang terlalu melelahkan itu yang seperti apa, Dok?" Tanya El.


"Aktivitas kerja yang berlebihan. Aktivitas yang melibatkan fisik terlalu banyak, Pak. Pikiran juga jangan terlalu stress. Nanti bisa berpengaruh terhadap janin."


"Aduuhh, bagaimana ceritanya ini jika tidak melibatkan fisik." Gumam El. Fara yang mengerti maksud El langsung mencubit paha sang suami.


Sementara dokter Ayu yang mendengar perkataan El langsung mengernyitkan keningnya.


"Maksudnya, Pak?"


"Ehm, itu Dok. Aktivitas suami istri kan melibatkan fisik. Bagaimana caranya agar fisiknya istri saya tidak terlalu capek?"


Fara benar-benar malu saat mendengar sang suami menanyakan hal seperti itu. Dokter Ayu yang berusia hampir setengah abad pun langsung paham maksud El. Dia berdehem sebentar sebelum menjawab pertanyaan tersebut.


"Eheemm. Usahakan jangan membuat istri Anda kelelahan, Pak. Melakukan hubungan suami istri itu boleh saja. Tapi, harus benar-benar diperhatikan posisinya agar tidak membahayakan kondisi janin. Untuk durasinya, usahakan jangan terlalu lama. Mungkin bisa sekitar lima belas sampai dua puluh menit."


"Apa?! Kalau segitu juga hanya salam dan tutup salam, Dok."


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Embuh wis El, embuh.