
Kinan Series
"Sebaiknya, mobil kalian segera dipinggirkan agar tidak menghalangi jalan. Panggil petugas bengkel biar segera di tangani," ucap seorang bapak-bapak yang berdiri tak jauh dari Kinan.
Baik Kinan dan laki-laki yang menabraknya tersebut langsung menoleh. Mereka menyetujui saran bapak-bapak tadi. Kinan dan laki-laki tersebut langsung memindahkan mobil mereka masing-masing ke tepian agar tidak menghalangi jalan.
Setelahnya, Kinan dan laki-laki tersebut langsung keluar dan berlarian kecil menuju halte yang terletak tepat disamping minimarket.
Kinan menggerutu kesal saat melihat ponselnya benar-benar mati. Dia tidak sempat mengecharge tadi saat di kampus. Laki-laki yang ada di samling Kinan sempat menoleh ke arahnya sebelum melanjutkan untuk menghubungi seseorang.
Beberapa saat kemudian, laki-laki tersebit sudah selesai. Sepertinya, dia menguubungi bengkel langganannya untuk menjemput mobilnya yang rusak.
"Mana kunci mobil kamu?" pinta laki-laki tersebut sambil mengulurkan tangan ke arah Kinan.
Melihat hal itu, kening Kinan langsung berkerut. "Untuk apa?"
"Aku sudah menghubungi bengkel langgananku. Biarkan mereka yang mengurus mobil-mobil ini."
Kinan masih diam tak bergerak. Dia terlihat belum bisa mempercayai orang asing yang berada di depannya tersebut. Rupanya, ekspresi Kinan bisa dibaca dengan jelas oleh laki-laki tersebut.
"Aku akan bertanggungjawab terhadap mobil kamu. Aku akan membiayai seluruh biaya bengkel hingga mobil kamu selesai diperbaiki dan bisa digunakan kembali," ucap laki-laki tersebut.
"Beneran?" Kinan masih belum terlalu percaya.
"Tentu saja. Memangnya wajahku terlihat bercanda?" Laki-laki tersebut mendengus kesal saat Kinan masih mencurigainya padahal dia sudah berbaik hati membiayai biaya bengkel.
"Ya, siapa tau Om hanya omong doang," Kinan menjawab sambil mencebikkan bibir.
Merasa geram, laki-laki tersebut berjalan mendekati Kinan. Wajahnya terlihat tegas dengan tatapan mata tajam menatap ke arahnya. Kinan yang cukup terkejut melihat tindakan laki-laki tersebut, langsung beringsut mundur. Dia mendadak panik saat laki-laki tersebut semakin mendekat.
"Ma-mau apa, Om?"
Dengan gerakan cepat, laki-laki tersebut memegang tangan Kinan dan segera meletakkan sesuatu di atas telapak tangannya. Kinan yang hendak berteriak, langsing mengurungkan niatnya begitu menyadari jika laki-laki tersebut memberikan sebuah kartu nama.
"Eh, apa ini? Kartu nama?" Kinan masih mengamati kartu nama tersebut. Kening Kinan berkerut saat netranya berhasil membaca nama yang tertera pada kartu nama tersebut. "Adrian Hanggara?" gumam Kinan sedikit lebih keras.
Laki-laki yang masih berdiri tak jauh dari Kinan tersebut masih memperhatikannya. Dia masih menunggu reaksi Kinan. Dan, benar saja. Beberapa saat kemudian, Kinan menoleh ke arah laki-laki tersebut dengan ekspresi penasaran.
"Adrian Hanggara?" tanya Kinan.
"Hhhmmm."
"Jadi kamu Adrian Hanggara?" Kinan masih belum percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"Iya."
Ya, laki-laki yang menabrak bagian belakang mobil Kinan tersebut adalah Adrian Hanggara. Seorang pengusaha yang baru-baru ini banyak diburu wartawan karena skandal berita perceraiannya. Selain itu, dia juga termasuk sebagai seorang pengusaha sukses. Wajahnya sering wara-wiri di beberapa berita telwvisi, berita online, maupun majalah bisnis.
Lalu, kenapa Kinan tidak mengetahui wajah Adrian yang sebenarnya? Jawabannya adalah karena Kinan tidak pernah mengikuti perkembangan berita bisnis. Dia tidak begitu tertarik dengan dunia yang satu itu. Hanya saja, dia sudah cukup sering mendengar nama Adrian Hanggara.
"Kok bisa?" Kinan masih menatap wajah Adrian dengan ekspresi terkejutnya.
"Memangnya kenapa?" Adrian jelas todak terima dengan reaksi Kinan.
"Kamu kan duda? Kenapa masih terlihat hot begini?"
"Eh,"
\=\=\=\=
Bagi yang belum mampir ke cerita othor yang baru, cus kepoin ceritanya ya. Jangan lupa pencet favorit dan kasih like serta komen banyak-banyak. Biar othor kerasan. 🤭