
Saat hendak menuju ruang tengah, terdengar suara isak tangis dari sang mami. Kaki Dena seketika terasa kaku untuk melangkah. Dia mendengar jelas apa yang dikatakan oleh orang tuanya.
"Aku benar-benar takut, Pi. Aku khawatir sekali. Dena kan putri kita satu-satunya. Aku nggak mau jika ibu datang lagi kesini, beliau akan mengungkit-ungkit masa lalu. Kita harus bagaimana, Pi? Hiks hiks." Mami Rida, maminya Dena, masih menangis sesenggukan.
"Sudah, Mi. Kita cari solusi terbaik nanti." Papi Hendra masih terus berusaha menenangkan sang istri.
"Aku nggak bisa tenang, Pi. Aku benar-benar tidak bisa bilang tidak jika ibu sudah berkata sesuatu. Kamu kan tau sendiri, aku bisa sampai seperti ini juga berkat ibu. Meskipun beliau bukan ibu kandungku,tapi beliau sudah merawat dan membesarkanku dengan baik."
"Iya, aku tau itu. Tapi, tidak seperti ini juga caranya jika kamu harus membalas kebaikan ibu, Mi."
"Hiks hiks, aku nggak kuat, Pi. Bukan salahku jika dulu mbak Mela keguguran di usia kandungan mendekati delapan bulan. Aku bahkan tidak ada di dapur waktu itu, Pi. Tapi, kenapa aku yang selalu disalahkan? Kenapa putri kita yang harus dijodohkan dengan kenalan mereka? Aku nggak mau, Pi. Hiks hiks." Mami Rida masih menangis sesenggukan.
"Sssttt, sudah. Jangan menangis terus."
"Nggak bisa, Pi. Jika membayangkan putri kita satu-satunya harus menggantikan perjodohan anaknya mbak mela, aku nggak rela. Hiks hiks."
"Lalu, kota harus bagaimana, Mi? Kamu tau sendiri jika Mayang menolak rencana perjodohan yang kita atur."
Seketika tidak ada suara dari ruang tengah tersebut. Dena khawatir jika kedua orang tuanya tahu keberadaannya di sana. Namun, beberapa saat kemudian, terdengar suara maminya kembali.
"Biar nanti Mami yang coba bicara dengan Mayang, Pi. Ini satu-satunya cara terakhir jika kita ingin menolak rencana perjodohan dari ibu. Setidaknya, jika putri kita menikah dengan orang lain, dia masih bisa beraktivitas dan mengejar impiannya. Namun, jika Mayang tetap menikah dengan pilihan ibu, bisa dipastikan dia akan terkurung dengan adat keluarga ningrat mereka."
Dena yang mendengar pembicaraan kedua orang tuanya pun langsung kaget. Selama hampir dua puluh lima tahun, dia baru mengetahui jika neneknya itu bukan ibu kandung maminya. Selain itu, dia juga harus dijodohkan dengan putra dari keluarga ningrat. Bisa dipastikan kehidupannya akan selalu di atur. Menurut Dena, dia tidak akan bisa melanjutkan karir yang diimpikannya selama ini.
Beberapa saat kemudian, dia langsung tersadar. Malam itu, Dena memutuskan kembali ke Jakarta. Dia buru-buru keluar dari rumah kedua orang tuanya dan segera memesan taksi. Malam itu juga, dia langsung kembali.
Sepanjang perjalanan, Dena memikirkan banyak hal. Dia berusaha memahami kondisi kedua orang tuanya. Dia mulai berpikir tentang kehidupannya kedepan. Dena mulai membandingkan jika dia menikah laki-laki pilihan orang tua, ataupun pilihan neneknya.
Sesekali Dena merutuki diri sendiri, kenapa dulu dia tidak menyisihkan waktu untuk membuka diri terhadap laki-laki. Seandainya dia punya kekasih, kejadian seperti ini tidak akan menyusahkannya.
Hingga sampai di apartemen, Dena masih berkutat dengan pikirannya sendiri. Dia bahkan melupakan makan malam karena pikirannya yang kemana-mana. Malam itu, Dena tertidur karena tubuh dan pikirannya sudah benar-benar lelah.
Namun, selama beberapa hari ini Dena tidak mendapatkan pesan-pesan tersebut. Dan ternyata, hal itu benar-benar menyakitkan bagi Dena. Dia merasa kedua orang tuanya menjauhi atau bahkan membuangnya. Dia sama sekali tidak memikirkan kondisi yang dihadapi orang tuanya.
Pagi itu, setelah sarapan bubur yang dipesannya, Dena segera membersihkan diri. Dia juga sudah membersihkan apartemen, bahkan sudah mencuci baju. Setelah semua selesai, Dena mengambil ponselnya. Dia sudah memikirkannya matang-matang, dan kini dia sudah memutuskan.
Dena segera menghubungi sang papi. Beberapa saat kemudian, panggilan telepon tersebut terhubung. Dena masih berdebar-debar saat mendengar suara yang sangat dirindukannya tersebut.
"Hallo." Sapa suara di seberang sana.
"Ha-hallo, Pi."
"Ya?"
"Ehm, a-aku…,"
"Ada apa?"
Dena meneguk salivanya dengan keras sebelum kembali bersuara. Entah mengapa dia mendadak gugup seperti itu.
"I-itu, Pi. Tentang yang kemarin,"
"Ngomong yang jelas, May. Papi sibuk."
Deg. Dena benar-benar terkejut mendengar perkataan sang papi. Air matanya mulai menganak sungai. Namun, dia harus segera menyampaikan keputusannya.
"A-aku mau menerima perjodohan dengan Rean, Pi."
\=\=\=
Kira-kira, jawaban papinya Dena bagaimana, ya? 🤭