The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Part M2.34



Malam itu, Fara dan mommy Vanya pulang tarawih terlebih dahulu. Mereka tidak menunggu daddy Kenzo dan El seperti biasa. Para laki-laki tengah mengadakan musyawarah untuk acara malam Lailatul Qadar nanti.


"Enaknya nanti sahur menunya apa, Ra?" Tanya mommy Vanya saat berjalan menuju rumah.


"Hhmmm apa ya, Mom."


"Bagaimana jika kita buat bakwan jagung saja. Panas-panas gitu dengan sambal terasi, pasti mantab." Kata mommy Vanya.


"Boleh, Mom. Nanti aku bantu buat bakwannya."


"Nggak usah, Ra. Nanti biar minta tolong bibi saja. Jika kamu bangun kemalaman lagi, kasihan El."


"Eh, mas El kenapa memangnya, Mom?"


"Nanti masih kurang seperti semalam. Hehehehe." Kata mommy sambil terkekeh geli. 


Bagaimana tidak, mommy Vanya dan daddy Kenzo memergoki mereka tengah nambah asupan vitamin C saat hendak sahur tadi pagi. Fara yang mengingatnya menjadi semakin malu. Dia hanya bisa menundukkan kepalanya menghindari tatapan sang mertua. Mommy Vanya yang melihat Fara tengah malu merasa tidak enak.


"Maafkan Mommy, Sayang. Mommy hanya merasa sangat bahagia kalian sudah mulai saling terbuka. Kalau boleh jujur, awalnya Mommy sangat khawatir jika kalian masih sangat sulit untuk bisa saling terbuka. Meskipun kalian sudah kenal cukup lama, tapi kalian belum saling mengenal secara pribadi. Tapi, setelah kebetulan tadi pagi melihat sendiri, Mommy jadi semakin yakin kalian sudah mulai saling menerima. Mommy bahagia sekali, Sayang." Kata mommy Vanya sambil memeluk bahu Fara.


Fara merasa bingung harus menjawab bagaimana. Dia hanya bisa tersenyum sambil mengangguk mengiyakan. Setelahnya, mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai di rumah.


Seperti biasa setelah pulang tarawih, Fara segera melakukan tadarus Al-Qur'an. Cukup lama dia tadarus malam itu. Setelah selesai, Fara segera membersihkan diri dan bersiap-siap untuk beristirahat. Tak lupa juga dia menyiapkan baju ganti untuk El.


Fara segera merangkak ke atas tempat tidur. Sambil menunggu El, dia melihat-lihat grup dan pesan yang sempat mampir di ruang chat nya. Tak berapa lama kemudian, El terlihat sudah datang bersama sang daddy. Dia langsung berjalan menuju kamarnya. 


Ceklek.


Fara mendongakkan kepalanya untuk melihat ke arah pintu.


"Mas, sudah pulang. Mau aku siapkan minum?" Tawar Fara. Dia segera meletakkan ponselnya di atas nakas.


"Boleh deh. Ambilkan jus saja." Jawab El sambil beranjak ke kamar mandi.


Fara menganggukkan kepalanya dan segera pergi ke dapur untuk membuatkan jus buah untuk El. Setelahnya, Fara segera membawakan jus tersebut ke dalam kamar. Pada saat bersamaan, El juga terlihat sudah selesai membersihkan diri. Dia baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah yang masih cukup basah.


"Jusnya, Mas." Kata Fara sambil meletakkan gelas tersebut di atas nakas.


"Terima kasih." Jawab El sambil berjalan mendekat ke arah nakas. Sementara itu, Fara segera merangkak naik ke atas tempat tidur. Dia masih menunggu sang suami untuk meneguk jus buatannya.


"Apa keputusan dari musyawarah tadi, Mas?" Tanya Fara saat melihat El sudah meletakkan gelasnya.


"Akan diadakan khataman Al-Qur'an dan pengajian nanti. Acara pengajiannya terbuka untuk umum juga kok." Jawab El.


"Ehm, Ra.."


"Iya, Mas?"


"Menurutmu, bagaimana kita bisa memulai pernikahan ini?" 


"Eh, maksudnya bagaimana, Mas?" Fara benar-benar tidak mengerti maksud pertanyaan sang suami.


"Ehm, seperti yang kita tahu, jika pernikahan itu bukan hanya status. Tapi, lebih dari itu. Ada tanggung jawab di dalamnya, ada kewajiban dan juga hak. Menurut kamu, a-apa kita bisa melakukannya?"


"Melakukan kewajiban suami istri?" Tanya Fara.


El mengangguk mengiyakan. Dia sendiri masih belum yakin dengan apa yang dilakukannya.


Fara sebenarnya sudah menyiapkan diri jika sewaktu-waktu El menanyakan hal itu atau meminta haknya. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, dia sudah meyakinkan diri sendiri jika hal itu adalah sebuah kewajiban dalam pernikahan.


"In Shaa Allah aku siap, Mas. Jika mas El memang menginginkannya sekarang, kita bisa memulainya." Jawab Fara. 


El bisa melihat rasa khawatir pada wajah Fara. Lagipula, El tidak mungkin meminta hal itu sekarang. Sebenarnya, dia ingin melakukannya secara pelan-pelan. Bukan langsung seperti yang dipikirkan Fara.


"Eh, maksudku bukan sekarang. Kita bisa memulainya pelan-pelan. Kita kan belum terlalu kenal, apalagi benda-benda yang berada di dalam situ." Jawab El sambil menunjuk tubuh Fara dengan dagunya.


"Ehm, jadi kita kenalan dulu nih?" Tanya Fara meminta kepastian.


"Iya. Katanya, tak kenal maka tak sayang."


"Kalau untuk hal seperti itu, meskipun belum kenal aku yakin mas El akan bisa menyayanginya."


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Othor mohon maaf, dua hari untuk besok dan lusa othor ada kerjaan di real life. Jadi, untuk up mungkin masih tidak menentu. Semoga masih sabar menunggu. Terima kasih 🤗