The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Pasrah



"Lalu, kapan rencana pernikahannya akan dilaksanakan?" Tanya ayah Vanya.


"Akhir minggu depan," jawab mama Tari dengan antusias.


Seketika semua orang yang ada di ruang tamu tersebut terkejut. Kenzo yang saat itu tengah menyeruput minumannya langsung tersedak.


Uhuukk uhuuukkk heek heekk uhuukk uhuuukk.


Mama Tari menepuk-nepuk punggung putranya dengan lembut. "Pelan-pelan minumnya Ken, seperti anak kecil saja," ledek mama.


Kenzo segera mengusap mulutnya yang basah sambil melirik ke arah mamanya. "Mama apa-apaan sih, kenapa secepat itu?" Tanya Kenzo.


Mama Tari menoleh menatap sang putra. Dia terlihat tidak suka dengan pertanyaan yang baru saja di lontarkan oleh Kenzo. 


"Memangnya kenapa jika pernikahan kalian dilaksanakan minggu depan?" Tanya mama. "Kamu mau mencoba untuk mengelak lagi, hah?" Lanjut mama Tari.


Kenzo yang merasa dipojokkan bingung mencari alasan. "Bu-bukan begitu Ma. Tapi ini dadakan banget. Persiapan acara juga tidak mungkin cukup kan jika mendadak begini," lanjut Kenzo dengan suara memelas.


Mama Tari memutar bola matanya jengah mendengar perkataan Kenzo.


"Kamu meremehkan mama ya Ken," jawab mama dengan ketus. "Mama bisa mengatur semua itu dengan mudah," lanjut mama.


"Tapi Ma, persiapan pernikahan kan juga butuh banyak waktu. Belum juga masalah undangan," kata Kenzo. "Kolega papa kan juga banyak Ma, masa iya tidak diundang," kilah Kenzo.


Mama Tari masih tidak mau kalah dengan Kenzo. "Mama mau acara akhir minggu ini hanya acara akad nikah Ken," kata mama. "Mama mau acara yang sakral, tidak banyak tamu undangan. Hanya keluarga saja. Lagian, tidak banyak kolega papamu yang tahu rencana pernikahanmu kan. Hanya beberapa kemarin yang ikut datang di pesta ulang tahunmu. Dan, itu pun sama sekali tidak ada media. Jadi, tidak masalah," lanjut mama Tari.


Kenzo mendengus mendengar perkataan sang mama. Benar, dia tidak akan pernah menang melawan mamanya. Kenzo hanya bisa pasrah.


Setelah obrolan yang cukup lama, disepakati bahwa ijab qobul akan dilakukan akhir minggu ini di rumah orang tua Kenzo. Kenzo dan Vanya hanya bisa pasrah menerimanya. Sementara orang tua Vanya masih terkejut, namun mereka tetap menerima niat baik Kenzo dan keluarganya.


Setelah makan siang, kedua orang tua Kenzo beserta Reyhan pamit pulang. Mama melarang Kenzo ikut pulang bersama mereka karena Vanya akan menginap satu malam di rumah orang tuanya. Mama Tari memaksa Kenzo untuk menemaninya kembali besok. Meskipun Kenzo dan Vanya sudah menolaknya, namun tetap saja mereka hanya bisa menuruti keinginan sang mama.


Kenzo merebahkan diri di tempat tidur ruang depan rumah Vanya. Ruang itu biasanya dipakai untuk sholat. Namun, jika ada tamu atau saudara yang menginap, maka kamar itu akan beralih fungsi. 


Belum juga Kenzo memejamkan matanya, terdengar suara ketukan pintu. Kenzo mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum beranjak untuk membuka pintu.


Ceklek.


"Om, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Kenzo begitu menyadari ayah Vanya yang mengetuk pintu kamarnya.


"Jangan panggil Om lagi, mulai sekarang panggil ayah. Sebentar lagi kamu akan resmi jadi menantu saya kan," kata Ayah.


Vanno menggaruk lehernya yang tidak gatal. Dia merasa canggung, namun dia tetap berusaha untuk melakukannya. "Baik yah," kata Kenzo kemudian. "Oh iya, ada apa ayah kemari, ada yang bisa Ken bantu?" Lanjut Kenzo.


"Oh, ayah mau minta tolong untuk mengantar ibu ke tempat Bu Anjar, setelahnya tolong antar ibu ke rumah Pak Dayat. Putranya baru meninggal," kata ayah.


"Innalillahiwainnailaihirojiuun," 


"Ayah akan berangkat takziah dulu. Nanti biar ibu pulang sama ayah, jadi tidak usah di tunggu," kata ayah.


Kenzo pun mengerti dan mengangguk. "Baik yah,"


Setelahnya, Kenzo mengantar ibu ke tempat bu Anjar menggunakan motor matic Ayah. Di perjalanan mereka terlihat mengobrol sembari ibu memberikan petunjuk arah.


"Nak Kenzo sudah lama mengenal Zizi?" Tanya ibu.


"Eeehhmmm, belum lama juga sih Bu," jawab Kenzo.


Ibu hanya manggut-manggut menanggapi jawaban Kenzo. Kenzo yang mengamati ibu dari kaca spion menghembuskan napas lega setelah ibu tidak melanjutkan pertanyaannya. Beberapa saat kemudian, ibu memberitahu jika rumah bu Anjar sudah dekat. Kenzo segera mengarahkan motornya ke rumah yang ditunjukkan oleh ibu. 


Kenzo menunggu sambil duduk di atas motor karena ibu bilang tidak akan lama. Beberapa saat kemudian, ibu terlihat keluar dari rumah bu Anjar. Ibu segera menghampiri Kenzo.


"Maaf, lama ya?" Tanya ibu ketika sudah berada di depan Kenzo.


"Ah tidak Bu, mari" jawab Kenzo. Kenzo pun segera menjalankan motornya ke tempat pak Dayat seperti yang ditunjukkan oleh ibu.


"Yang meninggal putranya pak Dayat Bu?" Tanya Kenzo. "Sakit apa?" Lanjutnya.


"Iya Nak, bukan sakit. Tapi kecelakaan. Dika, putranya pak Dayat ini memang suka balap liar. Beberapa hari yang lalu dia ikut balap liar di perbatasan desa ini. Sebelum balapan, Dika dan teman-temannya biasanya minum-minum dulu. Mungkin karena pengaruh minuman keras terjadi kecelakaan itu," jelas ibu.


Kenzo hanya manggut-manggut mendengarnya. Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di dekat rumah duka. Ibu meminta Kenzo berhenti agak jauh dari rumah duka.


"Kok berhenti disini Bu?" Tanya Kenzo. "Masih agak jauh rumahnya itu," lanjut Kenzo.


"Tidak apa-apa, ibu turun di sini saja," kata ibu. "Sekarang cepat pulang, masih ingatkan jalan pulang?" Tanya ibu.


"Iya, masih Bu," jawab Kenzo. "Tidak apa-apa ini Ken tinggal?" Lanjutnya.


"Iya tidak apa-apa. Nanti ibu pulang bareng ayah kok. Bilang ke Zizi ayah dan ibu menunggu sampai jenazah dimakamkan. Pak Dayat itu sesama perangkat desa seperti ayah, jadi tidak enak jika cepat pulang," kata ibu.


"Iya, akan saya sampaikan. Saya pamit Bu," kata Ken sambil memutar motornya yang diikuti oleh anggukan ibu.


"Iya, hati-hati" jawab ibu.


Kenzo mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Dia mengamati keadaan desa tempat kelahiran Vanya. Masih alami, batin Kenzo. 


Akan sangat menguntungkan jika tempat ini didirikan tempat wisata alam. Udara yang sejuk, pemandangan alam yang langsung berbatasan dengan pegunungan menambah asri desa tersebut. Namun, pembuatan kawasan wisata juga pasti akan ada segi positif dan negatifnya nanti, batin Kenzo. Dia menghembuskan napasnya dengan berat mengingat hal itu.


Kenzo melanjutkan perjalanan hingga sampai pertigaan sebelum rumah Vanya. Kenzo sedikit menyipitkan matanya melihat tiga orang sosok yang berjalan di tepi jalan. Dua orang perempuan dan seorang laki-laki tengah bersenda gurau sambil berjalan.


Kenzo memperlambat motornya hingga berjarak beberapa meter di belakang mereka. Kenzo mengenali perempuan yang sedang bercanda dengan sang lelaki. Tawanya semakin pecah ketika sang laki-laki mencubit pinggangnya dengan gemas. Tangan sang perempuan sesekali memukul-mukul bahu laki-laki tersebut.


Kenzo memperpendek jarak dengan ketiga orang tersebut. Entah mengapa rasanya begitu tidak nyaman.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Maaf masih slow up 🙏🙏