
Setelah perdebatan yang cukup alot, akhirnya Kinan dan Adrian memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan hal itu. Toh, semuanya juga pasti akan ada solusinya nanti. Begitu pikir Kinan dan Adrian.
Setelahnya, Adrian memaksa untuk mengantar Kinan ke kampus. Meskipun sudah menolak, namun Kinan tidak berhasil melakukannya. Adrian tetap kekeh untuk mengantar Kinan ke kampus dengan alasan untuk memberikan bocoran 'spoiler' hubungan mereka.
Mau tidak mau, Kinan menuruti permintaan Adrian. Mau menolak pun Kinan rasa tidak akan mungkin. Setelah Kinan siap, mereka segera bergegas menuju kampus.
Kini, mobil yang dikemudikan oleh Adrian mulai melaju membelah jalanan padat ibukota. Tidak banyak obrolan yang terjadi antara Kinan dan Adrian. Mereka lebih banyak larut dalam pikirannya masing-masing. Hingga beberapa saat kemudian, Adrian mulai bersuara.
"Sepertinya, kita harus mulai saling mengenal."
Kinan yang mendengar ucapan Adrian, langsung menoleh ke samping. Keningnya berkerut saat mendengar ucapan Adrian.
"Saling mengenal? Apa maksudnya itu, Pak?"
Adrian melirik sekilas ke arah Kinan sebelum menjawab pertanyaannya itu.
"Maksudku, kita harus mulai saling memberitahu kebiasaan masing-masing. Tidak lucu nanti jika kita sudah mengumumkan berpacaran tapi tidak tau apa-apa tentang diri masing-masing."
Kinan baru menyadari hal itu. Dia hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala.
Tak berapa lama kemudian, mobil yang dikendarai oleh Adrian sudah memasuki halaman kampus Kinan. Sesuai dengan instruksi Kinan, Adrian mengarahkan mobilnya menuju fakultasnya. Terlihat masih cukup banyak mahasiswa yang lalu lalang di sana. Maklum, saat itu masih masuk jam kuliah.
"Mau aku turun?" tanya Adrian saat menghentikan mobilnya di depan gedung B.
Kinan menggelengkan kepala. "Tidak usah. Sepertinya, belum waktunya kita mengumumkan secara langsung."
Adrian menyetujui usul Kinan. Mungkin, memang seperti itu baiknya. Setelahnya, Kinan segera turun dari mobil Adrian. Dia juga masih berdiri di samping mobil tersebut hingga mobil Adrian beranjak pergi.
Saat Kinan turun dari mobil Adrian, ternyata ada salah satu rekan kerja Kinan yang melihatnya.
Setelah mobil Adrian tak terlihat lagi, Kinan segera beranjak menuju ruangannya. Hari itu, Kinan ada jadwal mengajar kuliah pada jam terakhir. Dia harus segera bersiap-siap.
Tak bertemu dengan Dena yang hari itu sedang off, Kinan langsung berjalan menuju mejanya. Dia segera membuka beberapa materi yang akan diberikannya kepada para mahasiswa sebentar lagi.
Namun, saat tengah fokus pada materi yang dibacanya, tiba-tiba ada seseorang yang sudah berdiri di samping meja Kinan. Tentu saja hal itu membuat Kinan menghentikan aktivitasnya dan menoleh.
Kening Kinan berkerut saat melihat salah satu dosen yang cukup dekat dengan Miss Adhia. Dia adalah Bu Tika, dosen yang cukup senior disana.
"Bu Tika? Ada apa, Bu? Apa ada yang bisa saya bantu?"
Seperti biasa, Kinan selalu bersikap biasa. Dia selalu bersikap cuek dan masa bodo jika ada yang mengusiknya. Bahkan, Kinan selalu tidak merespon jika ada yang menyindir-nyindir dirinya.
Kinan selalu berusaha terlihat ceria dan bahagia. Namun, ketika sudah sampai di rumah dan sedang sendiri, tak jarang Kinan akan langsung menumpahkan air matanya.
"Mau ngasih undangan resepsi dari Miss Adhia," ucap Bu Tika sambil menyodorkan sebuah undangan kepada Kinan.
Kinan pun segera mengambil undangan tersebut.
"Oh ini yang acaranya akan digelar setelah acara seminar kampus itu, Bu?" tanya Kinan sambil mengamati tanggal yang tertera pada undangan tersebut.
"Iya. Semua dosen di fakultas kita sudah sepakat akan langsung ke acara resepsi Miss Adhia. Oleh karena itu, para keluarga akan menyusul pada hari terakhir itu."
Kinan hanya mengangguk-anggukkan kepala. Dia cukup mengerti maksud ucapan Bu Tika.
\=\=\=
Jangan lupa tinggalkan jejak buat othor ya.