The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Musim - 2 Hati yang Patah



Libur semester sudah usai. Kini, semua mahasiswa sudah kembali beraktivitas di kampus seperti biasanya. Tak terkecuali dengan El, Zee dan juga Revina. Selama liburan semester, mereka jarang sekali bertemu. Komunikasi juga biasanya dilakukan melalui pesan. Apalagi, saat libur semester, biasanya Zee pasti akan ikut sang daddy atau papanya untuk melakukan beberapa pekerjaan.


"Lo ada masalah?" Tanya El saat melihat Zee tengah memandangi ponselnya tanpa melakukan apapun. Biasanya, sahabatnya itu akan membuka beberapa game favoritnya dan mulai memainkannya sambil menunggu kelas.


Zee menoleh menatap wajah El. Dia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan El.


"Nggak ada."


"Sepertinya ada yang beda. Lo beneran nggak ada masalah apa-apa?" Tanya El tidak yakin.


"Nggak ada, El. Nyantai saja." Jawab Zee.


Belum sempat El menanggapi perkataan Zee, terdengar suara keras memanggil mereka.


"Kaaakkk!"


Tanpa menoleh pun mereka mengetahui siapa pemilik suara tersebut. Ya, dia adalah Revina. Revina berlari-lari kecil menuju dua orang laki-laki yang tengah duduk di atas motornya tersebut.


"Kak Zee, bisa antar aku sebentar, nggak?" Tanya Revina sambil menggoyang-goyangkan lengannya.


Bukannya menoleh menatap Revina, Zee justru menoleh menatap El. Setelahnya dia menoleh menatap Revina.


"Ke butik mommynya kak Zee. Aku ingin beli gaun. Akan ada acara besar di kantor Daddy Kenzo." Jawabnya dengan penuh semangat.


Zee mengerutkan keningnya. Acara besar? Kenapa El diam saja? Batin Zee.


"Sama El saja, ya. Aku masih ada urusan." Tolak Zee.


"Nggak mau! Aku mau bareng kak Zee." Rengek Revina. Ya, Revina memang sangat menyukai Zee. Dia sudah memendam rasa suka itu sejak SMP.


"Anterin Revi sebentar Zee, setelah itu bisa lo tinggal. Nanti gue yang akan jemput ke butik nyokap lo." Jawab El.


Zee masih mengamati wajah El sebelum dirinya mengangguk mengiyakan. Revina benar-benar bahagia. Dia berjalan mendekati El dan memberikan pelukan singkat sebelum berlalu.


Tak butuh waktu lama, Zee sudah sampai di butik sang mommy. Dia juga mengantar Revina masuk dan menemui beberapa karyawan sang mommy. Hari itu, kebetulan mommy Gitta sedang makan siang di luar dengan daddy Ken.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, Revina terlihat sudah selesai. Dia berjalan menghampiri Zee yang masih menunggunya di pojok ruang tunggu yang menghadap taman. Zee memilih tidak menunggu Revina di ruangan mommynya.


"Sudah menghubungi El?" Tanya Zee saat mengetahui Revina sudah berada di depannya.


"Sudah. Katanya masih di jalan." Jawab Revina sambil mendudukkan diri di samping Zee. Tangannya saling meremas terlihat gelisah.


Zee yang menyadari perubahan tingkah Revina langsung menoleh menatapnya. 


"Ada apa? Kamu sakit?" Tanya Zee.


Revina menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Dia juga terlihat gugup dan salah tingkah.


"Ehm, kak Zee. Boleh aku ngomong sesuatu?" Tanya Revina malu-malu.


"Ngomong apa?" Tanya Zee. Dia masih tidak memindahkan tatapan matanya pada ponselnya.


"Ehm, aku suka sama kak Zee. Maukah kakak menjadi pacarku?" Kata Revina sambil menunduk malu.


"Hhaaah?!"


Zee benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja di dengarnya. Dia benar-benar tidak menyangka jika gadis di sampingnya ini akan mengatakan hal seperti itu. Namun, dia segera tersadar. Zee sedikit memutar tubuhnya hingga kini mereka saling berhadapan.


Meskipun belum pernah berhadapan dengan perempuan sedekat itu, namun Zee harus tetap melakukannya.


"Maafkan aku, Rev. Maafkan aku tidak bisa membalas perasaan kamu." Kata Zee.


Seketika Revina mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Zee. Entah mengapa matanya menjadi berkaca-kaca.


"Ka-kakak tidak menyukaiku? Kenapa? Aku kurang cantik? Aku kurang pantas buat kakak?" Tanya Revina dengan air mata yang berlinang.


Zee benar-benar bingung harus berbuat apa. Dia berusaha untuk menjelaskan sebaik mungkin agar Revina tidak sakit hati.


"Tidak! Kakak pasti bohong!" Revina kembali terisak.


Zee samakin bingung. Entah mimpi apa dia semalam hingga harus dihadapkan pada situasi seperti ini.


"Rev, dengarkan aku. Maafkan aku tidak bisa membalas perasaanmu. Selama ini, aku hanya menganggapmu sebagai seorang adik, tidak lebih." 


"Hiks hiks hiks. A-apa tidak ada harapan untukku untuk mengisi hatimu, Kak?" Tanya Revina sambil masih sesenggukan.


Zee menggelengkan kepalanya dengan wajah menyesal.


"Maaf, tidak bisa. Tapi, percayalah. Ada seseorang diluar sana yang sangat mencintaimu." Kata Zee.


Revina kembali menggelengkan kepalanya. Dia seolah tidak mau menerima perkataan Zee.


"Aku tetap akan berusaha untuk meluluhkan hatimu, Kak." Kata Revina penuh keyakinan. Tatapan matanya seolah meyakinkan Zee bahwa dia akan berhasil.


"Jangan membuang waktu dan tenagamu. Sudah ada orang yang mengisi hatiku." Jawab Zee.


Deg.


Jantung Revina seakan melompat keluar. Bagaimana mungkin itu terjadi. Selama ini, Zee tidak pernah dekat dengan siapapun. Bagaimana mungkin dia sudah memiliki kekasih. Batin Revina.


"Bohong! Kakak pasti berbohong!" 


"Tidak. Aku sama sekali tidak berbohong. Maafkan aku jika sikapku selama ini membuatmu salah paham." 


"Kakak jahat!" Teriak Revina sambil berdiri dan kemudian berlari meninggalkan Zee.


Zee yang melihatnya segera mengejar Revina, namun terlambat. Revina sudah mendapatkan taksi dan pergi meninggalkan butik mommynya. 


Pada saat bersamaan, El datang dan melihat adegan kejar-kejaran tersebut. Dia segera berjalan menghampiri Zee.


"Ada apa Zee? Kenapa Revina pergi terburu-buru begitu?" Tanya El.


"El, tadi Revina mengungkapkan isi hatinya ke gue. Dan dia pergi karena marah saat gue tidak bisa membalas perasaannya. Cepat kejar dia." Kata Zee.


"Apaa?!" El terlihat terkejut.


"Ccckkk. Jangan apa-apa gitu. Cepat kejar dia!" Desak Zee.


"Kenapa lo tidak menerima perasaannya saja Zee?" Tanya El.


"Lo sudah gila apa. Bagaimana bisa gue menerima perasaan orang lain saat gue sudah menikah!" 


"Apaa?!"


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=\=


Nah lho, Zee sudah nikah sama siapa? 🤭


Mohon bantuan vote dan like nya ya, jika banyak cus up lagi.


Thank you