
Perusahaan Adrian memang sedikit ada masalah karena ada orang yang bermain-main dengan data perusahaan. Apalagi, kini Adrian sedang mengadakan perluasan cabang perusahaan di Balikpapan.
"Baik, Pak." Rendra, orang kepercayaan Adrian langsung menganggukkan kepala.
"Kali ini, aku tidak mau menunggu lagi. Semuanya harus segera dibuka. Jangan sampai ada yang disembunyikan lagi," ucap Adrian saat memasuki mobil yang sudah menjemputnya.
"Baik, Pak. Tapi, untuk yang di Samarinda, mereka masih belum menyerahkan laporan, Pak." Rendra tampak takut-takut memberikan laporan.
"Apa?! Sejak kapan?" Adrian cukup terkejut mendengar berita tersebut.
"Ehm, sejak awal bulan ini, Pak."
"Awal bulan? Kamu serius? Ini sudah hampir tanggal dua puluh tapi mereka belum juga menyerahkan laporan?!"
Adrian langsung melempar beberapa file yang sedang dibacanya. Ekspresi wajahnya langsung berubah semakin dingin. Dia benar-benar sudah tidak bisa membiarkan masalah perusahaannya berlarut-larut.
"Siapkan meeting online siang ini. Aku mau semua ikut tanpa ada alasan apapun."
"Baik, Pak." Rendra hanya bisa mengiyakan permintaan Adrian. Sepertinya, hari-hari Rendra selama beberapa hari kedepan, akan sangat sibuk.
Siang itu, Adrian benar-benar murka. Beberapa orang kepercayaannya tidak bisa melakukan tanggung jawab yang sudah diberikan. Bahkan, untuk hal kecil pun mereka tidak mampu menyelesaikan.
Semua bawahan Adrian yang mengikuti meeting online siang itu bisa melihat dengan jelas kemarahan Adrian. Dan, mereka harus bersiap mempertanggungjawabkan perbuatan mereka mulai esok hari. Karena, Adrian akan langsung mengunjungi kantor cabang yang tersebar di seluruh wilayah di Indonesia.
Sementara di Jakarta, Kinan baru menyelesaikan kuliahnya pukul empat sore. Hari itu, dia benar-benar sangat lelah. Jadwal kuliah yang padat, serta tugas dari kampus yang sudah mulai menumpuk. Kinan menoleh ke arah Dena yang sudah bersiap untuk pulang.
"Sudah di tungguin Rean?" tanya Kinan.
"Sudah. Dari tadi dia sudah mengirimkan pesan jika sudah menunggu di depan." Dena menjawab sambil merapikan barang-barangnya.
"Surat izin cutinya sudah turun?"
"Belum. Kemungkinan dalam minggu ini," jawab Dena sambil mengulas senyumannya.
Kinan hanya bisa mendesahkan napas berat. Sepertinya, hari-hari sepi di kampus tanpa sang sahabat akan segera dimulai. Dena yang melihat reaksi Kinan langsung tersenyum dan berjalan mendekat ke arahnya.
Kinan hanya merespon ucapan Dena dengan mengerucutkan bibir. Setelah itu, Dena segera berpamitan kepada Kinan.
Setelah Dena pergi, Kinan segera mengambil ponselnya dan mulai memeriksa pesan-pesan yang masuk. Dia membalas beberapa pesan yang sudah masuk. Setelah semua selesai, Kinan berniat menghubungi mama Adrian untuk menanyakan hadiah yang dibawa Adrian semalam.
Namun, setelah mencari-cari nama mama Adrian di daftar nama kontaknya, Kinan tidak menemukan nama tersebut. Kinan bahkan mengulanginya beberapa kali. Namun, lagi-lagi dia tidak menemukannya.
"Astaga, kemana nomor mama Adrian? Perasaan aku sudah menyimpannya kemarin?" Gumam Kinan.
Lagi-lagi Kinan mengingat-ingat apakah dia sudah menyimpan nomor telepon mama Adrian. Kinan mengingat jika saat di apartemen Adrian dulu, mereka sudah pernah saling tukar nomor ponsel.
"Apa aku dulu lupa menyimpannya, ya?" Kinan masih mencoba mengingat-ingat.
Karena tidak kunjung menemukan nomor ponsel mama Adrian, Kinan memutuskan untuk segera pulang. Dia mulai membereskan barang-barangnya dan bergegas pulang.
Menjelang maghrib, Kinan baru sampai rumah. Setelah itu, dia segera bergegas membersihkan diri. Malam itu, Kinan berniat untuk memasak nasi goreng yang lebih cepat. Perutnya sudah sangat lapar jika harus memasak masakan yang ribet.
Tak butuh waktu lama, Kinan sudah selesai memasak nasi goreng. Dia membawanya ke meja makan.
Sambil menunggu masakannya sedikit lebih dingin, Kinan memutuskan menghubungi Adrian untuk meminta nomor ponsel mamanya.
Kebetulan, saat itu Adrian masih belum selesai meeting. Bisa dipastikan, meeting Adrian akan sampai larut malam.
Tak berapa lama kemudian, panggilan telepon Kinan sudah terhubung.
"Hallo, Om." Sapa Kinan begitu panggilan teleponnya tersambung.
"Hallo. Kenapa? Kangen?"
"Lah?"
\=\=\=
Ini yang sebenarnya kangen siapa sih? 🤧