
Hari yang tunggu-tunggu pun tiba. Kini, Cello sudah berada di bandara dengan diantar oleh Daddy El, Mommy Revina, Shanum, dan tentu saja the twins, Drew dan Dryn.
Sejak di rumah, Shanum tak berhenti meneteskan air mata. Entah mengapa perasaannya menjadi sangat melow seperti itu. Cello yang melihat reaksi sang istri, tak henti-hentinya memberikan pelukan dan banyak kecupan. Mereka sudah tidak malu lagi saat ada kedua orang tua mereka di sana.
"Sayang, jangan begini. Kamu membuatku jadi tidak tega meninggalkan kalian," kata Cello sambil masih mendekap erat sang istri.
"Iya, maaf Mas. Nggak tahu mengapa air mata ini mengalir tiba-tiba, hiks hiks," jawab Shanum sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh sang suami.
"Sudah, jangan menangis lagi, Sayang. Kasihan twins nanti jika sampai ikut kesusahan asinya habis karena cairannya berubah jadi air mata. Hehehehe,"
Shanum langsung melepaskan pelukannya dan memukul bahu sang suami dengan gemas. Bisa-bisanya dia bercanda seperti itu disaat kondisi seperti ini.
Cello membantu menghapus air mata Shanum dan memberikan beberapa kecupan pada wajahnya. Kedua tangannya menangkup pipi sang istri dan menatap kedua bola matanya lekat-lekat.
"Sayang, kita hanya tidak bertemu kurang dari satu bulan. Setelah itu, kalian bisa langsung menyusul ke Kanada. Aku akan menyiapkan semua kebutuhan kalian nanti di sana. Jangan khawatir lagi, ya. Aku nggak mau nanti Drew dan Dryn terkena dampaknya."
Shanum hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Benar apa yang dikatakan oleh suaminya, Shanum harus menjaga moodnya agar tidak mempengaruhi kedua buah hatinya nanti.
Acara perpisahan tersebut masih berlangsung hingga Cello benar-benar harus berangkat. Mau tidak mau, Shanum harus melepaskan sang suami untuk berangkat lebih dulu. Kurang dari satu bulan lagi, dia dan kedua buah hatinya akan menyusul.
Malam itu, pertama kalinya bagi Shanum tidur sendiri tanpa ditemani oleh sang suami. Tanpa disadari, dia masih sering meneteskan air mata tiba-tiba. Mommy Fara sering menemani Shanum untuk mengasuh kedua cucunya tersebut saat malam hari. Meskipun daddy El beberapa kali mengganggunya.
Satu hal yang mampu mengalihkan perhatian Shanum adalah persiapan acara pernikahan Rean. Sudah selama dua hari ini, Shanum dan kedua jagoannya menginap di rumah mama Revina. Dia ingin ikut membantu persiapan pernikahan Rean yang akan digelar dua hari lagi.
"Kak, ini popok Drew sepertinya sudah penuh deh," kata Rean yang memang sejak tadi main dengan duo keponakannya tersebut.
"Kamu benar, Re. Aku ganti dulu," kata Shanum sambil beranjak berdiri untuk mengganti popok Drew.
"Biar aku saja kak, hitung-hitung belajar, hehehe."
Shanum menghentikan langkah kakinya saat hendak menuju tempat popok kedua putranya berada. Dia menoleh menatap wajah sang adik yang terlihat sedang tersenyum nyengir.
"Maksud kamu belajar jadi orang tua?"
"Iya lah, Kak. Memangnya mau jadi apa jika dua orang sudah menikah, masa iya jadi ibu dan anak. Hahahaha," Rean langsung tergelak setelah menanggapi perkataan sang kakak.
Shanum hanya bisa mencebikkan bibirnya. Namun, dia tetap membiarkan sang adik untuk menggantikan popok Drew sambil masih mengawasinya.
"Ini benar begini kan, Kak?" tanya Rean sambil berusaha memasangkan popok Drew.
"Iya. Awas jangan kebalik, pancurannya kan di depan, jika kebalik merembes nanti."
"Cckkk masih kecil ini paling juga nggak seberapa. Beda jika sebesar belalai gajah. Hahahaha."
"Mana ada yang sebesar belalai gajah. Kalaupun ada, kandangnya selebar apa nanti?"
Iki podo ngomongne opo to? Othor ndak mudeng. 🤦♀️