The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Rean 83



"Apa kamu dan Nak Adrian benar berpacaran?" Wajah Mama Kinan tampak penasaran.


Setelah cukup lama berdebat dengan dirinya sendiri, Kinan akhirnya bersuara. Dia memantapkan hati untuk menjawab pertanyaan sang mama.


"I-iya, Ma. Kami memang berpacaran," jawab Kinan. Dia menatap takut-takut ke arah sang mama dan mama Adrian.


Mama Kinan tersenyum senang. Wajahnya berbinar bahagia. Seketika mama Kinan langsung memeluknya dan mencium pipi Kinan.


"Mama bahagia sekali, Sayang. Awalnya, Mama terkejut saat Bu Sinta datang dan menjelaskan hubungan putranya dengan kamu. Mama tidak mempercayai hal itu karena kamu sama sekali tidak pernah membicarakan hal ini dengan Mama."


"Namun, setelah beberapa bukti yang ditunjukkan oleh Bu Sinta, Mama menjadi semakin yakin jika kalian memang benar-benar memiliki hubungan." Mama Kinan mengusap pipi Kinan sambil mengulas senyum.


"Bu-bukti? Bukti apa, Ma?" Kinan tampak bingung.


"Semuanya. Bukti foto kedekatan kamu dengan Nak Adrian. Mulai dari butik, kampus, bahkan sampai acara di Bandung kemarin." Mama Kinan mengerling ke arah sang putri.


Sontak saja hal itu membuat Kinan terkejut. Di Bandung? Jangan bilang Mama melihat kejadian saat sarapan kemarin, batin Kinan was-was.


"Di Bandung? Maksud Mama apa?" Kinan mendadak panik.


"Ya, itu. Mama tahu apa yang kalian lakukan. Mulai dari sarapan, sampai menghadiri acara resepsi. Hal itu juga yang membuat Mama dan Bu Sinta untuk mempercepat pernikahan kalian. Mama tidak mau jika sampai kalian lepas kendali."


"Lepas kendali bagaimana sih, Ma? Aku bahkan tidak melakukan apa-apa." Kinan langsung protes.


Kali ini, mama Adrian yang menjawab ucapan Kinan. 


"Sayang, Mama tau jika kamu tidak melakukan apa-apa. Tapi, Mama khawatir kamu di apa-apain oleh Adrian. Mama percaya kamu pasti tidak akan lepas kendali. Mama khawatir sama Adrian. Mama takut dia akan lepas kendali."


"Oleh karena itu, Mama dan Mama kamu sepakat untuk mempercepat pernikahan kalian. Kamu tau jika Adrian adalah seorang duda. Mama khawatir jika dia sampai melewati batas karena sudah tidak sanggup menahan keinginan bawahannya."


Kedua mata Kinan langsung membulat setelah mendengar ucapan mama Adrian.


"Ba-bawahan? Ma-maksudnya?"


Mama Adrian tersenyum penuh arti sambil menatap ke arah Kinan. "Nggak perlu Mama jelaskan untuk hal itu, Sayang. Nanti hal itu akan menjadi tugas Adrian menjadi tutor kamu."


Kinan hanya mengerjab-ngerjabkan kedua matanya dan menatap wajah mamanya dan mama Adrian bingung. Saat itu, dia benar-benar tidak bisa berpikir apa-apa.


"La-lalu, maksud ini semua?" tanya Kinan sambil menatap dekorasi rumahnya.


"Tentu saja ini semua persiapan untuk persiapan pernikahanmu dan Adrian besok, Sayang?"


"Be-besok? Kenapa aku bahkan tidak tau menahu dengan acara pernikahanku sendiri, Ma?" Kinan mendesahkan napas berat sambil menatap ke arah mamanya dan mama Adrian bergantian.


"Kami minta maaf, Sayang. Jika harus menunggu kesiapan kamu dan Adrian, Mama khawatir kalian akan berbelok arah nanti. Oleh karena iti, Mama dan mama kamu sepakat untuk melakukan ini secepatnya."


"Bukan hanya kamu saja yang baru tahu acara pernikahan ini, Sayang. Adrian pun juga tidak mengetahui hal ini sampai kemarin sore. Bahkan, saat ini papanya Adrian sudah mengurungnya di dalam hotel agar tidak kabir-kaburan lagi. Ponselnya pun juga disita." Mama Adrian pun langsung terkekeh mengingat putranya itu sempat memberontak saat di bawa ke kota tempat kelahiran Kinan.


\=\=\=


Sabar ya, otewe halal nih. 🤭