
Keesokan sore, Shanum dan Cello langsung bersiap untuk berangkat ke rumah kakek dan nenek Shanum. Berhubung mommy Fara dan juga daddy El sedang ada di Semarang, Cello dan Shanum berencana akan menginap disana selama weekend.
"Mas, yakin nggak bawa baju nih?" Tanya Shanum saat mereka berjalan menuju garasi rumah Cello.
"Ngapain bawa baju lagi, di sana kan sudah ada baju-bajuku dulu. Ribet nanti jika harus bolak balik bawa baju lagi."
Shanum hanya mengangguk mengiyakan. Setelahnya, mereka segera berangkat menuju rumah kakek dan nenek Shanum.
"Mas, nanti berhenti dulu beli bolen di depan. Mau beli bolen untuk Rean. Dia suka sekali bolen."
Cello hanya bisa mengangguk mengiyakan. Tak berapa lama kemudian, Cello segera membelokkan kendaraannya di depan toko yang menjual bolen tersebut.
"Kamu mau kue apa, Mas? Aku belikan sekalian."
"Nggak usah deh. Kamu sekalian beli buat yang lainnya."
"Iya."
Shanum segera beranjak keluar dari mobil dan berjalan menuju toko tersebut. Dia berjalan menuju etalase kue yang menyediakan berbagai macam jenis kue. Shanum segera memilih kue-kue yang lumayan disukai oleh keluarganya.
Berhubung sore tersebut cukup ramai, Shanum harus ikut antri di depan etalase tersebut. Dia tidak menyadari jika ada seseorang yang berjalan mendekatinya.
"Lo Shanum, mahasiswa baru kan?" kata seseorang yang tiba-tiba berada di samping Shanum.
Refleks, Shanum menolehkan kepalanya dan menatap orang tersebut. Keningnya berkerut saat melihat seorang perempuan berdiri di sampingnya. Tentu saja Shanum tidak mengenalnya, tepatnya belum mengenal.
"Eh, iya. Siapa ya?" Tanya Shanum sambil menggeser tubuhnya sedikit menghadap perempuan tersebut.
"Lo nggak perlu tau siapa gue. Yang lo harus tau, jauh-jauh dari Dio. Jangan coba-coba lo deketin dia. Mengerti?!"
Shanun semakin mengerutkan keningnya bingung. Siapa yang perempuan ini maksud. Dio? Dio siapa? Apa Dio kakak tingkatnya itu? Batin Shanum.
"Maaf, Dio siapa ya?" tanya Shanum sambil menatap ke arah perempuan tersebut.
"Diorga Viery Jensen."
Shanum mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. "Oh, kak Dio. Aku nggak kenal dekat sih dengan kak Dio. Paling cuma say hello. Memangnya kenapa?" Tanya Shanum.
Shanum hanya bisa terdiam sambil menatap kepergian perempuan tadi. Shanum sama sekali tidak mengerti apa maksudnya mengatakan hal itu tadi. Setelahnya, Shanum segera membayar pesanannya yang memang sudah jadi.
Shanum segera berjalan menuju mobil tempat Cello menunggunya. Dia segera masuk dan meletakkan kue yang dibelinya di jok belakang.
"Siapa tadi perempuan yang di dalam?" Tanya Cello. Ya, dia tadi sempat melihat ada perempuan yang tengah berbicara dengan Shanum di dalam toko tersebut.
"Eh, aku juga nggak kenal, Mas. Tiba-tiba saja dia datang menghampiri." Jawab Shanum. Dia tidak menceritakan apa yang dikatakan oleh perempuan tadi kepada Cello.
Setelahnya, Cello segera mengemudikan kendaraannya menuju rumah kakek dan nenek Shanum. Tak berapa lama kemudian, Cello dan Shanum sudah sampai di rumah kakek dan nenek. Mereka disambut oleh mama Revina yang langsung heboh melihat kedatangan Cello dan Shanum. Malam itu, mereka benar-benar bercerita tentang banyak hal.
Keesokan harinya, Cello dan Rean sudah bersiap-siap untuk lari pagi di sekitar komplek perumahan. Mereka sudah siap dengan kostum masing-masing.
"Jangan sarapan di luar, Mas. Aku dan mama akan buat sarapan hari ini." Kata Shanum saat membuntuti Cello turun ke lantai bawah.
"Iya. Paling hanya lari sekitar sini," jawab Cello sambil melangkahkan kakinya.
Rean yang sudah menunggu di teras depan langsung berteriak memanggil Cello.
"Kak Celloo, lama banget sih. Bilangin itu kak Shanum sudah dulu mainan selang airnya. Ucetnya juga sudah habis di sedot mulu."
Sontak saja teriakan Rean di dengar oleh semua anggota keluarga Shanum. Kedua orang tua, bahkan kakek dan nenek Shanum yang memang berada di lantai satu mendengar teriakan Rean tersebut.
"Itu anak kok sudah kenal ucet sih, Rev. Jangan-jangan dia sudah jadi solois. Harus segera dinikahin ini." Tanya nenek Fida kepada mama Revina.
"Rean juga masih kelas dua belas, Ma. Masa iya dinikahin secepat itu." Kata mama Revina.
"Tapi kok sudah pinter begitu ya anak kelas dua belas. Beda sekali sama kakeknya dulu."
"Uhuk uhuk,"
•••
Jangan lupa tinggalkan jejak vote, like dan komen untuk othor. Terima kasih.