The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Rean 14



Kinan Series


Adrian hanya bisa mendengus kesal setelah mendengar ucapan Kinan. Entah mengapa dia bisa bertemu dengan perempuan seperti Kinan.


"Sudah, jangan banyak bicara. Hujan masih deras. Kemarikan kunci mobil kamu." Adrian mengulurkan tangan untuk meminta kunci mobil Kinan.


Dengan terpaksa Kinan menyerahkan kunci mobilnya. Sebenarnya, dia bisa saja meminta bantuan bengkel langganannya. Namun, ponselnya mati. Dia tidak mungkin akan meninggalkan mobilnya di sana.


Setelah mengambil barang-barang dan mengamankan kunci mobil, Adrian segera memesan taksi online. Dia harus segera sampai di rumah secepatnya. Malam itu, dia ada janji untuk meeting online dengan salah satu koleganya dari California.


Kinan yang melihat aktivitas Adrian, berniat untuk meminta bantuan. Namun, belum sempat Kinan membuka suara, terdengar umpatan dari bibir Adrian. Rupanya, ponsel Adrian pun juga mati karena kehabisan daya. Beruntung, saat itu sudah berhasil memesan taksi online.


Kinan yang melihat hal itu hanya bisa mendesahkan napas berat. Jika begini, sepertinya dia harus menunggu taksi atau angkutan lewat. Kinan hanya bisa mendesahkan napas berat saat mengingat rumahnya berada di daerah Jakarta Selatan.


Adrian yang menyadari Kinan tengah gelisah pun menoleh. Dia melihat penampilan Kinan benar-benar berantakan. Baju kerjanya sudah benar-benar basah. Bagian bawah celana Kinan sudah basah dan terkena lumpur. Blazer yang dikenakannya juga cukup basah.


"Dimana rumah kamu?" tanya Adrian menarik perhatian Kinan.


Kinan menyebutkan nama sebuah daerah di Jakarta Selatan. Adrian yang mendengar jawaban Kinan pun mengernyitkan kening.


"Itu lumayan jauh dari sini. Sekarang, sudah hampir maghrib. Baju kamu basah seperti itu. Bisa dipastikan kamu akan masuk angin jika sampai di rumah nanti."


Bukannya memberikan solusi, Adrian justru menakut-nakuti Kinan.


"Aku tau!" jawab Kinan sambil mendengus kesal.


Setelahnya, Adrian mendesahkan napas berat. Sepertinya, tidak ada cara lain yang bisa dilakukan selain memberikan bantuan untuk perempuan ini, batin Adrian.


"Apartemenku tidak jauh dari sini. Jika mau, kamu bisa mampir ke tempatku. Aku ada beberapa baju perempuan yang sepertinya cocok untukmu," ucap Adrian.


"Kamu tidak sedang punya rencana jahat terhadapku, kan?" tanya Kinan.


"Cckkk, untuk apa aku punya rencana jahat terhadapmu. Aku saja tidak mengenal siapa dirimu." Adrian mendengus kesal sambil menatap tajam ke arah Kinan.


Mendengar hal itu, ego Kinan sedikit tersentil. Dia berjalan mendekat dan segera meraih tangan kanan Adrian untuk dijabatnya.


"Perkenalkan. Aku Kinandra Ariyanti, biasa dipanggil Kinan. Sekarang, kamu sudah mengenal siapa aku, kan?" ucap Kinan sambil melepaskan tautan tangannya namun masih balas menatap wajah Adrian.


Adrian hanya bisa mencebikkan bibir sebelum kembali bertanya. "Jadi bagaimana? Mau ikut ke tempatku?"


Kinan menimbang-nimbang sebentar tawaran Adrian. Sepertinya, tawaran itu cukup baik, mengingat saat ini dia juga tidak mungkin pulang dengan kondisi baju yang basah seperti itu. Jika dia tetap nekat, bisa dipastikan dirinya akan masuk angin setelah sampai rumah.


"Baiklah. Aku terima tawaran kamu. Tapi, awas. Jika kamu berani macam-macam, aku tidak akan tinggal diam." Kinan menatap wajah Adrian dengan tatapan memperingatkan.


"Cckkk. Aku sama sekali tidak berminat," ucap Adrian sambil memandang remeh ke arah Kinan.


Belum sempat Kinan menjawab ucapan Adrian, sebuah taksi online berhenti tak jauh dari mereka. Adrian dan Kinan segera bergegas menuju taksi tersebut dengan sedikit menerobos hujan yang masih deras mengguyur kota Jakarta.


\=\=\=\=


Lanjutannya sabar ya, othor upnya gantian.


Yang belum mampir ke cerita Zee (anaknya Ken dan Gitta) cuss kepoin 'mendadak istri 2'


Bagi yang sudah mampir ke cerita Zee dan menunggu up, silahkan mampir juga ke cerita baru othor 'Tetangga Kamar'


Jangan lupa tinggalkan jejak dan klik favorit. Terima kasih. 🤗