The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Rean 55



"Lho, Om? Ada apa kesini malam-malam begini? Jangan bilang Om sudah kangen aku, ya?" tanya Kinan sambil berjalan mendekati Adrian yang sudah berdiri di samping mobilnya.


Adrian hanya bisa mendesahkan napas berat saat mendengar pertanyaan Kinan. Dia masih menatap datar Kinan tanpa berniat menjawab pertanyaan tersebut.


"Eh, malah diam. Ada apa sih? Mau apa kesini?" tanya Kinan kembali.


Tak menjawab pertanyaan Kinan, Adrian justru berbalik dan membuka pintu bagian belakang mobilnya. Dia mengambil tiga buah paper bag dan sebuah kotak yang cukup besar, hingga membuat Adrian cukup kesulitan membawa barang-barang tersebut.


Kening Kinan berkerut saat Adrian menutup pintu mobilnya dan berjalan dengan kesulitan.


"Bantuin." Pinta Adrian saat melihat Kinan hanya diam saja melihat ke arahnya.


Kinan buru-buru mengambil kotak besar yang dibawa Adrian. Dia masih bingung untuk siapa barang-barang tersebut.


"Apa ini, Om? Untuk siapa?"


"Itu semua dari Mama. Untuk kamu."


Kedua bola mata dan mulut Kinan langsung membulat dengan sempurna. Dia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang baru saja didengarnya.


"U-untukku? Dari Mama Om?"


"Hhmmm."


"Kenapa?" 


Kinan masih bertanya-tanya. Kalau boleh jujur, tentu saja dia merasa bingung mendapati hadiah yang baru saja diterimanya tersebut.


Adrian menatap Kinan dengan tatapan kesalnya. "Jika mau tau kenapa, hubungi Mama sendiri. Dia sejak pagi sudah menyuruhku datang kesini untuk mengantarkan ini semua," Adrian menggerutu kesal.


Mendengar hal itu, Kinan hanya bisa mencebikkan bibir. Belum sempat dia menanggapi ucapan Adrian, hujan sudah mulai turun. Kinan buru-buru berjalan ke arah teras dan meminta Adrian untuk berteduh.


"Duh, mana hujan lagi." Kinan meletakkan kotak besar yang dibawanya di atas kursi. Hal yang sama juga dilakukan oleh Adrian.


Adrian masih berdiri di dekat pintu sambil mengibas-ngibaskan jaketnya. Di luar, hujan langsung turun dengan lumayan deras.


Kinan menoleh ke arah Adrian yang masih mengibas-ngibaskan jaketnya. Tidak enak rasanya jika tidak menawari makan malam. 


"Belum."


"Aku baru saja selesai masak. Mau makan malam sekalian?" tawar Kinan basa-basi. Namun, dia langsung menyesal karena Asrian bukannya menjawab, tapi justru langsung berjalan menuju meja makan yang terletak di dekat ruang tengah tersebut.


Kinan hanya mendengus kesal melihat tingkah Si Duper yang terkadang membuat jantungnya berlompatan bak trampolin tersebut.


Adrian mengamati makanan yang ada di depannya. Entah mengapa dimatanya, makanan tersebut terlihat menggoda selera. Maklum saja, Adrian selama ini memang jarang sekali makan masakan rumahan. Bahkan, hanya bisa dihitung jari saat Mamanya ada di Indonesia.


"Ini semua kamu yang masak?" tanya Adrian sambil masih menatap lapar ke arah ikan rica-rica pedas yang terlihat menggoda lidahnya tersebut.


"Bukan!" jawab Kinan asal.


Adrian mengerutkan kening sambil menoleh ke arah Kinan.


"Serius bukan kamu yang masak?" tanya Asrian memastikan.


"Cckkk. Tentu saja aku yang masak, Om. Dikira siapa lagi yang masak jika bukan aku?"


Adrian hanya mengangguk-anggukkan kepala. 


"Kalau begitu, aku boleh makan sekarang, kan? Aku sudah lapar."


"Iya, silahkan. Jangan sungkan-sungkan," ucap Kinan basa-basi.


"Tenang, aku tidak akan sungkan-sungkan lagi setelah ini."


"Eh, memangnya setelah ini mau apa?" Kinan mendadak cengo.


\=\=\=


Hayo, setelah ini mau apa nih? 🤭


Jangan lupa bantu promosikan cerita ini biar banyak yang mampir ya.


Mau dipanjangin apa pendek nih ceritanya?