
"Om Hendra?!"
Rean benar-benar terkejut saat melihat Om Hendra, ayahnya miss Dena, di ruangan papanya. Dia berjalan mendekat dan meraih tangan dua orang yang berada di sana bergantian.
"Dari kampus Re?" tanya Om Hendra basa-basi.
"Dari cafe kakak, Om. Om Hendra sudah lama disini?" Tanya Rean.
"Baru beberapa menit yang lalu. Kebetulan Om ada di sekitar sini, jadi sekalian Om mampir untuk bertemu dengan papa kamu."
Rean hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Setelahnya, dia mendudukkan diri single sofa yang berada tepat di depan sang papa. Kening Rean berkerut saat menatap papa Bian. Dia masih belum mengerti mengapa sang papa memintanya datang ke kantor sore itu.
"Ehm, sebenarnya ada apa, Pa? Mengapa aku diminta untuk datang ke kantor?" tanya Rean.
Papa Bian dan Om Hendra saling pandang sekilas sebelum akhirnya papa Bian bersuara.
"Sebenarnya begini, Re. Papa meminta kamu datang ke kantor hari ini karena Om Hendra ingin meminta bantuanmu," jelas pap Bian.
Lagi-lagi kening Rean berkerut. Dia masih belum bisa mencerna apa yang dimaksudkan oleh papanya tersebut.
"Maksudnya bagaimana, Pa? Apa yang bisa aku lakukan untuk membantu Om Hendra?" tanya Rean sambil menoleh menatap wajah Om Hendra.
"Sebenarnya begini, Re. Om ingin meminta bantuan kamu. Ini tentang Mayang," kata Om Hendra memulai pembicaraan.
Seketika kedua bola mata Rean membulat dengan sempurna. Dia terkejut sekaligus bingung dengan maksud perkataan Om Hendra.
"Maksudnya bagaimana, Om?"
"Begini Re, seperti yang kamu ketahui, Mayang itu adalah putri Om satu-satunya. Dia memang sangat peduli sekali dengan pendidikan. Sejak SMP, dia sudah ikut kelas akselerasi. Jadi bisa dilihat di usianya yang baru dua puluh empat tahun ini, Mayang bisa meraih gelar S2nya, bahkan sudah menjadi dosen."
"Selama ini, Mayang hanya fokus pada pendidikan dan karirnya. Om takut jika dia lupa akan kodratnya sebagai seorang wanita," jelas Om Hendra.
"Lupa akan kodratnya sebagai seorang wanita yang bagaimana, Om?" Rean semakin bingung. Dia benar-benar belum mengerti maksud perkataan Om Hendra.
"Selama ini, Mayang sama sekali tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun. Dia bahkan tidak pernah membawa teman laki-lakinya ke rumah. Om sampai harus meminta kenalan Om untuk memata-matai Mayang dan mencari tahu siapa laki-laki yang tengah dekat dengannya. Namun, semua itu tampak sia-sia. Mayang benar-benar tidak memiliki seseorang yang tengah dekat dengannya," jelas Om Hendra.
"Ehm, Om sudah berbicara dengan orang tua kamu. Jika kamu tidak keberatan, Om akan menjodohkan kamu dengan Mayang. Bagaimana?" tanya Om Hendra dengan tatapan penuh harapan.
"Apaa?! Om Hendra ingin menjodohkan aku dengan miss Dena?!" tanya Rean dengan sedikit berteriak. Dia benar-benar tidak menyangka dengan permintaan sahabat papanya tersebut.
"Iya. Itupun jika kamu mau dan tidak keberatan."
Bagi Rean, tentu saja dia sangat bahagia. Sudah lama di menaruh perasaan kepada dosen favoritnya tersebut. Namun, dia tidak serta merta menyetujui keinginan Om Hendra tersebut. Dia masih memikirkan tanggapan dan juga reaksi miss Dena dengan rencana papinya.
"Sebenarnya, kalau boleh jujur kepada Om Hendra, aku sudah sejak lama menaruh hati kepada putri Om. Namun, aku sadar siapa diriku yang masih menjadi seorang mahasiswa tingkat pertama. Sepertinya, sangat mustahil untuk mendapatkan hati seorang miss Dena," kata Rean dengan wajah putus asanya.
Om Hendra mengernyitkan keningnya. Dia lumayan terkejut saat mendengar pengakuan Rean. Namun, disisi lain dia juga merasa bahagia mendengar ungkapan hati Rean.
"Boleh Om tanya sesuatu?"
Rean menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Jika Om berhasil meyakinkan Mayang untuk menikah denganmu, apa yang akan kamu lakukan?"
Rean langsung tersenyum dan menatap wajah Om Hendra dengan tatapan penuh keyakinannya.
"Aku berjanji akan menjaga miss Dena dengan baik, Om. Aku juga akan berusaha sebaik mungkin untuk menjaga dan membahagiakannya."
"Om bisa pegang janji kamu?" tanya Om Hendra.
"Bisa, Om. Om Hendra bisa memegang janji yang aku katakan."
Tampak raut wajah bahagia muncul pada wajah Om Hendra. Beliau mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum. Om Hendra menoleh menatap wajah papa Bian.
"Anggap kita sudah besanan," ucap Om Hendra sambil tersenyum.
Wuaahhh lha ini. Sudah siap kondangan sepertinya 🤭