
Kinan masih menggeser layar ponsel Adrian yang sejak tadi dipegangnya. Dia membaca pesan singkat yang dibuat Adrian dengan sang mama.
Setelah tadi sempat melakukan panggilan video dengan mama Adrian, meski hanya beberapa menit karena mama Adrian harus segera berangkat kembali ke Australia, kini Kinan meminta Adrian menjelaskan apa saja yang disampaikannya kepada sang mama.
Kinan benar-benar tidak menyangka jika Adrian akan mengatakan jika mereka sudah merencanakan pernikahan. Kinan langsung menatap tajam ke arah Adrian begitu dia membaca semua pesannya dengan sang mama.
"Apa maksud semua ini, Om?" tanya Kinan dengan tatapan mata tajam ke arah Adrian.
Mendapati tatapan tajam dari Kinan, Adrian tidak langsung menjawab pertanyaannya. Adrian justru mengambil gelas dan meneguk air minum tersebut hingga tandas.
Kinan yang melihat hal itu langsung menggerutu kesal. "Om, dijawab, dong! Mana nyantai banget nih orang?!"
Adrian meletakkan gelas tersebut di depannya. Setelah itu, dia mengalihkan tatapannya kepada Kinan. Adrian menatap lekat-lekat wajah perempuan yang berada di depannya tersebut.
"Sebelumnya, aku minta maaf. Kejadian semalam, murni di luar perkiraan. Aku juga tidak tahu jika Mama tiba-tiba datang ke apartemen. Mama memang jarang mampir jika tidak ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan," ucap Adrian.
Kinan masih menatap wajah Adrian. "Dan, semalam ada hal penting yang mau dibicarakan begitu?"
Adrian menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Kamu benar. Semalam, Mama ingin menanyakan tentang perpisahanku dengan Bara. Sebenarnya, kami sudah berpisah sejak satu tahun yang lalu. Kami memang menutupi perpisahan kami hingga benar-benar semua proses itu selesai. Kami tidak ingin ada campur tangan dari keluarga."
"Namun, berita perpisahan itu mulai muncul saat Bara mendapatkan pekerjaan baru dan ada gosip dia terlibat cinta lokasi dengan lawan mainnya. Dan setelahnya, kehidupan kami pun kembali menjadi sorotan."
"Mungkin kamu bertanya-tanya, kenapa kami harus menikah jika tidak saling suka? Dan jawabannya adalah kami terpaksa melakukannya. Perjodohan yang dilakukan oleh kakek kami sejak dulu, sudah tidak bisa dibantah. Oleh karena itu, kami terpaksa menikah dengan perjanjian itu."
Adrian menghentikan ceritanya sebentar untuk mengamati reaksi Kinan.
"Lalu, jika kalian tidak bisa menolak, kenapa pada akhirnya kalian berpisah juga? Bukankah sama saja kalian tidak mengikuti wasiat kakek kalian?"
Adrian mendesahkan napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Kinan. "Kami dari awal memang memiliki sifat dan karakter yang sangat berbeda. Bisa dikatakan, kami seperti minyak dan air yang tidak bisa bersatu." (Eits, jangan ada yang bilang bisa kalau pakai sabun lho ya)
"Bara, adalah tipe perempuan yang tidak bisa diam di rumah, atau paling tidak, membatasi pekerjaannya. Bagi Bara, siang atau malam, itu sama saja. Dia akan bisa bebas keluar dan pergi kemanapun dan kapanpun dia mau."
"Bara akan tetap berangkat bekerja jika ada jadwal syuting jadi host salah satu acara sepak bola. Ya, meskipun ada pengawal dari keluarganya, tetap mengambil pekerjaan itu. Dia juga sudah biasa pergi ke klub hampir setiap malam."
"Dan, gaya hidup yang seperti itu, sangat bertolak belakang denganku. Aku tidak suka perempuan yang seenaknya seperti itu. Kalaupun perempuan itu bekerja, bekerja lah sewajarnya. Toh, juga akan ada suaminya yang bertanggung jawab atas kehidupannya, kan?"
Kinan masih menatap wajah Adrian. Entah mengapa ekspresi wajahnya menjadi berubah.
"Kalau perempuan seperti aku, bagaimana?"
\=\=\=
Piye iki piye?