The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Part M2.53



Setelahnya, Bian mulai menceritakan tentang apa yang terjadi setelah kedatangan mereka berdua ke rumah bu Halimah beberapa saat yang lalu.


Keesokan hari setelah kedatangan Bian dan Revina ke rumah bu Halimah, Nova datang ke rumah Bian pagi-pagi sekali. Bahkan, pagi itu Bian masih baru bangun tidur. Dia masih memakai sarung setelah kembali tertidur sehabis melaksanakan sholat subuh.


Pagi itu, Nova datang ke rumah Bian dan langsung marah-marah. Dia bahkan langsung melempar semua piring dan makanan yang ada di meja makan rumah Bian sisa sahur tadi. Nova marah-marah karena merasa kecewa kepada Bian. Dia tidak terima jika Bian sudah mempunyai wanita lain di hidupnya. 


Bian berusaha untuk menenangkan Nova saat itu. Namun, semua usahanya terasa percuma. Nova masih berteriak-teriak dan melempar barang-barang yang ada di rumah Bian. Beruntung beberapa saat kemudian, bu Halimah datang untuk menyusul Nova ke rumah Bian. Bu Halimah langsung berusaha menenangkan Nova yang masih berteriak-teriak histeris.


Setelah cukup lama bu Halimah berusaha untuk menenangkan Nova, akhirnya Nova bisa sedikit lebih tenang. Namun setelah cukup tenang, Nova justru menangis tersedu-sedu di dalam pelukan bu Halimah. Bu Halimah kembali berusaha untuk menenangkan Nova.


Bian yang melihat hal itu merasa bersalah. Dia bingung bagaimana harus bersikap. Setelah cukup tenang, bu Halimah mengajak Nova untuk pulang. Beliau juga meminta maaf atas tingkah Nova yang membuat keributan dan kerusakan di rumahnya pagi itu.


Siang harinya, Bian ke kantor GP. Hari itu, dia ada tugas survey lapangan untuk menggantikan Kaero. Karena suasana hatinya memburuk akibat insiden pagi tadi, Bian meminta bantuan Angga untuk menemaninya. Kenapa harus Angga? Karena Angga juga ikut terlibat dalam proyek baru tersebut.


Saat sudah kembali ke kantor, Bian meminta Angga untuk menunjukkan hasil review terakhir proyek tersebut. Karena terburu-buru hendak ke kamar kecil, Angga salah memberikan flashdisk. Bukannya memberikan flashdisk hasil Review, tetapi Angga justru memberikan flashdisk milik Revina yang berisi film, foto dan lagu-lagu favoritnya. Angga memang membawa flashdisk Revina untuk memindahkan beberapa foto hasil survey lapangan.


Bian langsung membuka flashdisk yang bernama "Rev_n" tersebut. Namun, dia sama sekali tidak menemukan file apapun terkait dengan proyek terbaru. Dia hanya menemukan beberapa file dengan nama yang cukup membuat kening berkerut.


File pertama berjudul 'Drama baper, jangan dilihat jika sedang galon'.


File kedua berjudul 'Drama bucin dan konyol'.


File ketiga berjudul 'Drama plus plus (Aku sudah berumur 23 tahun, jadi boleh nonton, dong)'. Memang ada file berjudul begitu 🤦


File keempat berjudul 'Lagu baper, sedih dan galon'.


File keempat berjudul 'Lagu Jawa hok a hok e".


File kelima berjudul 'Foto kompilasi Angga'


Dan yang paling menarik perhatian Bian adalah file keenam yang berjudul 'My Future Husband"


Entah mengapa jari tangan Bian begitu saja langsung mengklik file keenam tersebut. Dia penasaran dengan isi file keenam tersebut.


Saat file tersebut sudah terbuka, kedua bola mata dan mulut Bian langsung membulat seketika. Bagaimana tidak, file tersebut berisi puluhan, bahkan ratusan foto dirinya yang sepertinya diambil secara diam-diam. Bian memeriksa foto-foto tersebut yang sepertinya semua diambil saat dirinya sedang melakukan survey atau meeting bersama dengan Revina.


Bian masih memeriksa foto-foto tersebut hingga beberapa saat kemudian Angga datang setelah kembali dari kamar kecil. Angga langsung meminta maaf saat mengetahui flashdisk yang diberikannya ternyata keliru.


Revina begitu terkejut saat mendengar penjelasan Bian. Dalam hati, Revina mengutuk mulut Angga yang benar-benar sudah membuatnya mati kutu di hadapan Bian. Revina merasa sudah tidak punya muka lagi untuk bertemu dengan Bian. Dia bahkan sudah mulai tidak berkonsentrasi untuk mendengarkan apa yang dikatakan oleh Bian. Hingga Bian berkali-kali memanggilnya.


"Hallo, apa kamu masih disana?" Tanya Bian.


"Hallooo, halloo." Bian kembali bersuara.


"Hallo, Dek?"


Seketika Revina tersadar dari lamunannya. Dia gelagapan karena telah mengabaikan Bian.


"I-iya, Mas."


"Bagaimana? Kamu bersedia?"


"Iya, Mas. Aku bersedia menjadi istri kamu." Jawab Revina.


"Hhaah?"


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Nah lho, apa tadi yang ditanyakan Bian coba?


Bantu dukung othor dengan klik like, komen dan vote, ya. Terima kasih.