
Shanum benar-benar terkejut saat mendengar perkataan sang mommy. Dia sama sekali tidak mengetahui rencana besar adiknya tersebut. Cello yang mendapati sang istri tengah bingung pun langsung menyentuh lengannya.
"Ada apa, Yang?' tanya Cello sambil menatap wajah sang istri.
"Mas, apa kamu tahu sesuatu?"
"Maksudnya?"
"Mama baru saja menelpon. Mama bilang jika besok malam Rean akan lamaran. Kamu tahu rencana ini, Mas?" tanya Shanum sambil menatap ke arah sang suami.
"Eh, jadi juga Rean mau nikahan?"
Seketika Shanum membulatkan kedua bola matanya. Dia benar-benar terkejut dengan apa yang dikatakan sang suami.
"Jadi, kamu tahu hal ini dan tidak memberitahuku, Mas?!" tanya Shanum sambil mendelik tajam. Dia benar-benar kesal karena menjadi orang terakhir yang mengetahui rencana pernikahan Rean.
"Bu-bukan begitu, Yang. Aku juga tidak tahu pasti masalah ini. Hanya saja, dulu Rean pernah cerita jika dia menyukai dosennya."
"Hhaaahh? Dosen? Sudah tua dong berarti? Aduuhh Mas, bagaimana nanti jika istrinya Rean sudah seumuran mama atau mommy?" Kata Shanum panik. Dia sudah membayangkan calon istri Rean sudah berusia seumuran mamanya.
"Eh, sepertinya nggak begitu, Yang. Dia masih belum tua-tua amat, kok."
"Yakin banget kamu, Mas?!" Kata Shanum sambil mendengus kesal.
"Kamu yakin, Mas?"
"Kalau untuk itu aku yakin, Yang. Lagipula, aku juga tahu selera Rean. Mana mungkin dia suka jika usianya seusia mama atau mommy. Berasa jadi ibunya bukan istrinya nanti," jawab Cello.
Shanum masih mengerutkan keningnya setelah mendengar perkataan Cello. Memang benar apa yang dikatakan suaminya itu. Tapi, menikah? Shanum benar-benar tidak habis pikir dan tidak menyangka jika Rean akan secepat itu menikah. Dia baru saja melewati semester pertama kuliahnya. Sekarang, sedang libur semester dan dia akan menikah? Shanum masih terlalu kaget mendengar berita itu.
Cello yang mengetahui jika sang istri tengah khawatir pun langsung mendekatinya.
"Sayang, kamu tidak usah khawatir tentang pernikahan Rean. Aku yakin, jika Rean adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Jika Rean sudah memutuskan hal ini, dia pasti sudah mengetahui konsekuensi dan tanggung jawabnya," kata Cello sambil mengusap-usap bahu sang istri.
"Tapi usia Rean masih terlalu kecil, Mas. Aku hanya takut jika dia belum dewasa, masih kekanak-kanakan. Kita saja yang seperti ini saja masih sering bertengkar, Mas."
"Sayang, jangan menyamakan orang lain dengan kita. Jangan juga menjadikan usia sebagai patokan kedewasaan seseorang. Bisa saja orang yang usianya masih sangat muda, tapi dapat berpikir lebih dewasa, begitu juga sebaliknya. Jadi, jangan terlalu berpatokan pada usia."
"Iya sih, Mas. Tapi, apa nanti Rean bisa diterima oleh calon istrinya tersebut, mengingat dia kan sudah menjadi dosen. Aku tidak mau Rean direndahkan terkait masalah ekonomi, Mas." Entah mengapa Shanum menjadi semakin mellow. Dapat dilihat meskipun Shanum dan juga Rean sering bertengkar dan beradu mulut, tapi mereka saling menyayangi.
"Kamu jangan meremehkan Rean, Sayang. Kamu juga tahu sendiri usaha distro Rean berkembang sangat bagus. Di Surabaya saja sudah ada dua distro. Kini, di Jakarta sudah berencana akan menambah satu lagi. Untuk masalah nafkah, aku berani bertaruh jika Rean bisa memberikan nafkah jauh lebih besar dari gaji calon istrinya," jawab Cello sambil menyinggingkan senyumannya.
Cello sangat yakin dengan hal itu karena dia tahu sendiri jika penghasilan Rean dari usaha distronya yang ada di Surabaya, bisa mencapai delapan digit perbulan, meski usahanya masih tergolong baru. Jadi, jika ditambahkan dengan yang ada di Jakarta, sudah lebih dari cukup untuk menafkahi sang istri nantinya.
Jangan lupa tinggalkan jejak buat othor ya. 🤗