The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Part M2.64



"Mas, lama sekali. Aku sudah tidak betah." Kata Revina dengan wajah paniknya.


"Hhaaa?!" Bian begitu terkejut mendengar perkataan Revina. Dia bahkan diam mematung di depan pintu tak bergerak.


"Ayo bantu aku, Mas. Aku sudah nggak betah ini, nggak tahan." Kata Revina sambil menarik lengan Bian.


Meskipun gugup, mau tidak mau Bian segera menuruti permintaan Revina. Tak lupa juga dia menutup pintu kamar tersebut dan segera menguncinya. Begitu Bian berbalik, seketika kedua bola matanya membulat dengan sempurna. Bagaimana tidak, saat Bian berbalik, Revina sudah membelakanginya dan menanggalkan baju tidur bagian atasnya. Kini, yang tersisa hanya pakaian dalam Revina dan baju tidur bagian bawahnya. Bian langsung menjatuhkan paper bag yang dipegangnya. 


Bruukk.


Revina yang mendengar hal itu langsung berbalik. Lagi-lagi Bian dibuat semakin terkejut dengan tingkah Revina. Revina bahkan tidak menutupi tubuh bagian depannya hingga kini terekspos dengan sempurna.


"Apa itu, Mas?" Tanya Revina sambil menatap paper bag yang teronggok didekat kaki Bian.


Seketika Bian tersadar dan memalingkan wajahnya. Dia menunduk menatap paper bag yang terjatuh tadi.


"I-ini dari pak Kaero dan istrinya." Jawab Bian sambil masih menundukkan kepalanya. Dia sama sekali tidak berani menatap tubuh sang istri meski hal itu sudah halal untuk dilakukan.


"Untuk kita?" Tanya Revina.


"Ehm, untukmu lebih tepatnya." 


"Baiklah, nanti saja kita lihat. Sekarang, bisa tolong bantu aku, Mas. Aku nggak betah ini, Mas." Rengek Revina.


"Hhaaa, maksudnya?!" Tanya Bian. Dia refleks mendongakkan kepalanya.


"Ini lihat, tubuhku merah-merah semua. Gatal, Mas." Kata Revina sambil berbalik.


Bian seketika memperhatikan punggung putih sang istri yang kini sudah terlihat tidak mulus lagi. Ada banyak sekali bentolan-bentolan berwarna merah di sekujur punggung, perut hingga bagian bawah lehernya. Bian cukup terkejut melihat hal itu.


"Kenapa sampai seperti ini?" Tanya Bian. Dia memberanikan diri untuk mendekat ke arah Revina.


"Tadi, mama membantuku membersihkan make up dan berganti baju. Setelah mama keluar, aku langsung menjatuhkan diri di atas tempat tidur yang penuh dengan taburan bunga. Aku sama sekali belum pernah merasakan hal ini sebelumnya. Tapi ternyata, tubuhku langsung gatal karena alergi kelopak bunga." Jawab Revina sambil berusaha menggaruk punggungnya.


Bian tampak kebingungan setelah melihat hal itu. Dia masih mengamati kulit punggung Revina yang sudah penuh dengan bentol-bentol berwarna merah. Revina yang menyadari sang suami tidak bergeming, langsung membalikkan badannya.


Bian langsung terlihat panik. Dia bingung harus melakukan apa untuk membantu sang istri.


"Ehm, a-apa yang bisa aku bantu?" Tanya Bian.


"Ini, aku sudah punya salep anti iritasi. Tolong bantu oleskan di bagian punggung. Tanganku nggak sampai, Mas." Kata Revina sambil menyerahkan salep tersebut.


Bian yang tangannya masih gemetar pun menerima uluran salep yang diberikan oleh Revina. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya berusaha untuk membuatnya fokus. Namun, Bian masih tak bergeming dari tempatnya. Revina yang menyadari hal itu langsung kembali berbalik.


"Mas, kenapa diam saja di sana? Tolong bantu oleskan salep di punggungku. Aku nggak betah ini dengan rasa gatalnya." Rengek Revina lagi.


Mau tidak mau Bian segera mengangguk mengiyakan. Dia berjalan mendekat ke arah Revina. Bian menelan salivanya dengan kasar dan kedua bola matanya membulat dengan sempurna saat melihat Revina menarik kaitan pakaian dalamnya hingga kini benda satu-satunya yang menutupi bagian atas tubuhnya sudah terlepas semua.


"Astaga, tumpah."


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Halah embuh wis. Soyo suwe soyo ndak mudeng aku 🤦


Mumpung sudah hari senin, othor minta bantuan vote ya agar lebih semangat up.