The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 81



Rean yang sejak tadi hanya mengusap-usap dan menciumi punggung tangan sang istri, kini langsung mendongak saat mendengar ada yang memanggil namanya. Dia menoleh dan menatap manik sang istri yang kini juga sedang menatapnya.


Kedua pasang manik tersebut seolah saling mengunci. Bibir Dena dan Rean sama-sama bergetar saat itu. Tanpa aba-aba lagi, Rean langsung beranjak berdiri dan mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri. Perasaan keduanya benar-benar melow saat itu.


Tanpa menunggu aba-aba lagi, Rean langsung meluapkan rasa rindu, syukur, dan leganya. 


"Yang…" Rean langsung memberikan ciuman bertubi-tubi pada wajah Dena yang tidak terluka. "Maaf, Yang. Maaf," Rean masih menciumi wajah Dena dengan air mata yang langsung luruh.


Hal yang sama juga dirasakan oleh Dena. Dia benar-benar merasa bersalah. Dia sempat khawatir jika Rean akan membencinya. Namun, saat mendapati ciuman bertubi-tubi dari Rean, Dena cukup merasa lega. Dia bahkan melupakan apa yang terjadi kepadanya.


Dena memejamkan mata dan membiarkan Rean melakukan apa yang diinginkannya. Rean mengecupi pipi, hidung, mata sudut bibir Dena berkali-kali seolah dia tidak ada bosan-bosannya.


Setelah merasa cukup puas, Rean menjauhkan wajahnya dari wajah sang istri. Kedua manik mata Rean menatap wajah Dena dengan tatapan sendunya. Masih ada sisa-sisa air mata yang menggenang di sana. Rean benar-benar bersyukur kecelakaan sang istri tidak terlalu parah.


"Maafkan aku, Yang. Maafkan aku." Rean masih terus minta maaf. 


Dena yang juga sedang menatap ke arah Rean hanya bisa mengerjap-ngerjapkan kedua matanya untuk menghalau cairan yang hendak keluar.


"Ka-kamu ngomong apa sih, Mas? Se-seharusnya aku yang minta maaf. Maaf a-aku tidak mendengarkanmu." Dena masih menatap Rean dengan wajah sendunya.


Rean langsung menggelengkan kepala. "Tidak, Yang. Kamu tidak salah. Aku yang salah karena tidak jujur. Maafkan aku, Yang."


Sepasang suami istri tersebut masih saling meminta maaf. Setelah keduanya cukup tenang, Rean membantu Dena untuk mencari posisi yang nyaman.


"A-aku tidak butuh apa-apa," Dena berusaha menghindari tatapan Rean. Entah mengapa jantungnya mendadak berdegup kencang.


"Yakin?"


"I-iya."


Rean menjauhkan wajahnya. Dia menghela napas panjang saat menarik kursi untuk lebih dekat ke arah brankar. Dena yang menyadari hal itu, langsung menoleh. Dia mengernyitkan keningnya bingung.


"Baiklah, aku akan menemanimu tidur. Sekarang, istirahatlah kembali. Katakan padaku jika ada sesuatu yang kamu butuhkan, okay?"


Dena masih belum bisa mencerna dengan baik perkataan Rean.


"Ka-kamu tidur disini, Mas?"


"Tentu saja, Sayang. Aku akan tidur disini. Kalau saja tangan dan kaki kananmu tidak terluka dan habis menjalani operasi, sudah ku pastikan aku akan naik ke atas brankar dan memelukmu sambil tidur." Rean mengatakannya dengan wajah serius.


Namun, hal yang berbeda justru dirasakan oleh Dena. Dia benar-benar malu setelah mendengar perkataan Rean. Wajahnya terasa panas. Dan, pasti terlihat memerah saat itu. Malam itu, Dena membiarkan Rean menemaninya. 


Hari-hari pun berlalu. Kini, sudah satu minggu Dena berada di rumah sakit. Selama itu pula, Rean bergantian dengan mami Rida untuk menjaga Dena. Hari ini, Dena sudah diperbolehkan pulang. Dena dan Rean memutuskan untuk tinggal di rumah orang tua Dena selama Dena masih belum pulih.


Hari ini, Rean, Dena, dan mami Rida, langsung berangkat ke Jakarta setelah seluruh urusannya di rumah sakit selesai.