The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Rean 97



Kinan langsung mendengus kesal setelah mendengar pertanyaan Adrian.


"Cckkk. Kamu pikir kita pasangan mesoomm yang harus digerebek, Mas?" Kinan mengerucutkan bibirnya. "Beberapa tetangga dekat sudah tahu jika kita menikah kemarin, Mas. Aku sengaja memberitahu mereka dan mengirimkan beberapa foto pernikahan kita. Aku tahu jika kamu pasti akan sering terlihat di rumahku nanti. Aku hanya tidak ingin jika para tetangga berpikiran aneh tentang kita."


Adrian tampak mengangguk-anggukkan kepala. Rupanya, Kinan sudah merencanakan hal tersebut dengan cukup baik. Setelah itu, obrolan kembali dilanjutkan. 


Menjelang pukul sembilan malam, Kinan dan Adrian bergegas pulang ke rumah Kinan setelah tadi mereka sempat mampir makan malam dulu sebelum pulang. Dengan taksi online, Kinan dan Adrian langsung menuju rumah.


Tak sampai tiga puluh menit kemudian, taksi yang mereka tumpangi sudah berhenti di depan rumah Kinan. Keduanya segera turun setelah membayar taksi.


Kinan berjalan terlebih dahulu menuju pintu utama rumahnya. Disusul Adrian yang berjalan di belakangnya. Saat itu, adalah ketiga kalinya bagi Adrian datang ke rumah Kinan dengan status berbeda.


"Masuk, Mas." Kinan membuka lebar-lebar pintu rumahnya.


"Hhmmm."


Adrian segera memasuki rumah dan meletakkan tasnya serta tas Kinan di sebuah kursi panjang yang berada di depan televisi.


"Mau langsung mandi apa istirahat dulu?" tanya Kinan sambil melepaskan jaketnya.


"Mandi dulu saja. Sudah gerah ini."


Kinan segera mengangguk. Dia berjalan menuju kamar dan membuka pintunya lebar-lebar. Adrian yang juga sudah pernah memasuki kamr tersebut, langsung mengikuti Kinan.


Beruntung baju Adrian sudah di cuci sejak tadi pagi sebelum berangkat ke makam ayah Kinan. Jadi sekarang, dia sudah punya baju bersih untuk ganti.


Seperti tadi siang, Kinan juga membantu Adrian membuka perban lukanya. Berunting luka Adrian sudah cukup kering. Besok siang, Adrian berniat melepas jahitan pada lukanya tersebut.


"Ini yakin bisa mandi sendiri? Tidak mau dibantu lagi?" tanya Kinan seolah tidak rela membiarkan Adrian mandi sendiri. Eh,


"Cckkk. Tadi siang kan juga sudah mandir sendiri." Adrian langsung mendengus kesal.


Kinan hanya bisa mencebikkan bibir saat melihat Adrian berjalan memasuki kamar mandi. Setelah itu, Kinan segera membersihkan tempat tidur. Saat menyadari ukuran tempat tidurnya, Kinan mulai menimang-nimang bagaimana mereka akan tidur malam ini.


Kinan bahkan harus menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran yang sudah mulai berlayar ke adegan antah berantah.


"Kami tidur dimana? Tidak mungkin kami tidur bersama di tempat tidur ini. Terlalu sempit." Kinan masih terlihat bingung.


Sebenarnya, ada satu lagi tempat tidur di kamar tamu. Mama Kinan biasanya akan menempati kamar tersebut jika menginap. Namun, ukuran tempat tidurnya juga sama, sempit. Dan, kalaupun digabung jadi satu, juga tidak mungkin. Kamar tidur Kinan tidak akan muat mengingat banyak barang-barang di kamar tidur tersebut.


Hingga Adrian selesai mandi, Kinan masih belum menemukan solusi dimana mereka akan tidur. Adrian yang melihat Kinan tengah berdiri di samping tempat tidur, langsung berjalan mendekat.


"Ada apa?" tanya Adrian.


Kinan langsung menoleh dan menatap Adrian dengan ekspresi bersalah. "Ehm, i-ini. Tempat tidurnya sempit. Tidak akan muat untuk kita."


Adrian mengangguk mengerti. "Ada kamar satunya, kan?"


"Iya. Tapi tempat tidur disana juga sama seperti ini."


"Tidak apa-apa. Aku akan tidur di sana," jawab Adrian.


"Eh, jangan! Kita kan sudah menikah." Kinan tampak keberatan.


"Memangnya kenapa jika kita sudah menikah? Apa kita tidak boleh tidur terpisah?"


"Tentu saja. Kita bahkan belum ngapa-ngapain. Jangan kan belah-belahan. Ciiuman saja juga belum."


"Eh?"


\=\=\=


Carikan tandingan buat Kinan dong. Ngebetnya nggak ketulungan. 🤧