The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 78



El langsung menoleh menatap Zee. Dia langsung mendengus kesal karena perkataan Zee barusan.


"Tusuk, tusuk. Lo kira tusuk sate apa?"


"Bukan sate, tapi sosis."


Mereka langsung mengalihkan pandangan dari layar yang menampilkan adegan 'horor' tersebut. Kini, mereka bertiga harus mencari tahu siapa lagi orang terlibat dalam kasus penyebaran video tersebut.


"Lo yakin bisa menyelesaikan ini, Dave?" Tanya Zee sambil menoleh ke arah Dave yang terlihat masih mengotak atik komputernya.


"Yakin, Pak. Kita bisa segera mengetahui siapa orang yang pertama mengirimkan video tersebut. Sepertinya, aku sudah bisa mengetahui pelakunya." Jawab Dave sambil tersenyum.


"Baiklah, segera selesaikan ini dengan baik. Setelahnya, kita bisa membuat klarifikasi sekaligus menuntut balik orang tersebut."


"Baik, pak Zee."


Beberapa saat kemudian, Zee, daddy El dan juga Cello segera beranjak keluar dari Empero. Mereka harus kembali ke rumah masing-masing karena hari sudah menjelang sore.


"Yakin Lo, nggak mau nongkrong dulu?" Tanya daddy El saat melihat Zee berjalan terburu-buru menuju tempat mobilnya terparkir.


"Enggak. Gue nggak mau pulang terlambat. Jatah gue bisa berkurang nanti malam." Jawab Zee.


"Ccckkk, emang mau saingan sama anak, Lo?"


"Lhah, memang Lo sendiri nggak saingan sama Cello?"


"Eh," seketika Daddy El langsung kicep saat mendengar perkataan Zee. Sementara Cello langsung tergelak melihat daddynya tak berkutik karena perkataan Zee.


Beberapa saat kemudian, daddy El dan juga Cello langsung beranjak untuk pulang. Sore itu, hujan gerimis mulai mengiringi perjalanan mereka menuju rumah.


"Sore begini sudah mulai macet." Gumam Cello sambil menjalankan kendaraannya pelan-pelan.


"Ya, namanya juga jam pulang kantor. Sudah pasti macet, Cell."


Cello hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia menghentikan kendaraannya karena lampu lalu lintas berubah menjadi merah. Cello menolehkan kepalanya ke arah samping. Dilihatnya penjual biah sedang memindahkan buah-buah dagangannya agar tidak terkena air hujan.


Hingga Cello tidak menyadari lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau. Dady El harus menyenggol lengannya untuk menyadarkan lamunan Cello.


"Apa sih yang kamu pikirkan, Cell? Bisa-bisannya nggak sadar jika lampu sudah hijau."


"Lemon, Dad."


"Hhaaah? Lemon? Maksudnya apa?"


"Aku mau beli lemon sebentar di minimarket depan."


Daddy El hanya bisa melongo saat mendengar perkataan sang putra. Dia membiarkan Cello menghentikan mobilnya di parkiran minimarket. Daddy El bahkan tidak ikut turun dan hanya menunggu Cello untuk membeli buah yang diinginkannya.


Tak berapa lama kemudian, Cello terlihat keluar dari minimarket sambil berlari-lari kecil untuk menghindari tubuhnya semakin basah karena air hujan. Daddy El yang melihat Cello membeli banyak sekali buah lemon dan jeruk hanya bisa mengerutkan keningnya.


"Untuk apa kamu beli lemon dan jeruk sebanyak itu?" Tanya daddy El.


"Buat persiapan, Dad. Buat stock di rumah. Aku nggak mau kehabisan lagi."


Daddy El langsung mencebikkan bibirnya setelah mendengar perkataan Cello. Setelahnya, Cello kembali menjalankan kendaraannya menuju rumah.


Tak berapa lama kemudian, mobil yang dikendarai Cello sudah memasuki halaman rumah mereka. Daddy El dan Cello sama-sama saling pandang saat melihat kendaraan opa Kenzo berada di sana.


"Mobil opa? Kapan opa pulang, Dad?"


"Entahlah. Daddy juga nggak tahu. Opa kamu nggak ngabarin daddy."


Setelah memarkirkan kendaraannya, Cello dan juga daddy El langsung berjalan memasuki rumah. Tak lupa juga Cello membawa serta buah lemon dan jeruk yang tadi di belinya. Mereka langsung menuju ruang tengah saat mendengar suara tawa dari sana.


"Eh, kalian sudah datang?" Oma Vanya langsung menoleh begitu mendengar suara langkah kaki. Namun, seketika keningnya berkerut saat melihat barang bawaan Cello. "Kenapa membeli buah lemon dan jeruk sebanyak itu? Kamu ngidam Cell?"


"Eh,"