
Hari itu, setelah mengunjungi baby El di rumah sakit, Fida dan Reyhan langsung menuju butik untuk fitting terakhir baju pengantin mereka. Acara pernikahan mereka akan dilakukan dua minggu lagi. Saat ini, Fida dan Reyhan tengah berada di dalam mobil Reyhan menuju butik. Mereka terjebak macet siang itu, meskipun tidak terlalu parah.
Fida senyum-senyum sendiri saat memandangi foto baby El yang tadi sempat diabadikan dengan ponselnya. Reyhan yang menyadari hal itu pun langsung menoleh menatap wajah Fida.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" Tanya Reyhan sambil kembali fokus menatap jalanan yang ada di depannya.
Fida menoleh menatap wajah Reyhan sambil masih mengulas senyumannya.
"Aku gemes banget dengan baby El, Mas. Setelah menikah, buatkan aku bayi yang gemes seperti ini ya." Kata Fida sambil menunjukkan foto baby El kepada Reyhan.
Seketika Reyhan langsung menolehkan wajahnya menatap Fida sambil melongo. Dia benar-benar merasa heran saat mendengar perkataan Fida. Sementara Fida langsung tersenyum genit sambil mengedipkan mata ke arah Reyhan.
"Eheemmm. I-itu dibicarakan nanti saja." Kata Reyhan gugup. Entah mengapa dia merasa gugup saat Fida selalu menyinggung hal-hal yang sedikit 'horor'.
Fida yang mengetahui calon suaminya tengah gugup pun langsung tersenyum smirk.
Lihat saja nanti jika sudah menikah. Aku pastikan kamu akan ketagihan dengan apa yang aku tawarkan. Batin Fida.
Fida dan Reyhan membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk sampai ke butik. Begitu sampai di sana, mereka langsung menemui pemilik butik yang merupakan teman mama Kenzo. Fida dan Reyhan langsung mencoba baju pengantin mereka.
Sreekkk
Suara pembatas ruang ganti di geser. Reyhan yang memang sudah selesai memakai baju pengantinnya pun menoleh ke arah Fida.
Deg deg deg
Jantung Reyhan seakan mau melompat dari tempatnya. Dia masih diam terpaku saat melihat Fida tengah mencoba baju pengantinnya. Sebuah kebaya berwarna putih melekat pas di tubuhnya. Rambut Fida yang sengaja di cepol acak-acakan dengan beberapa sulur anak rambut yang keluar dari jepitannya menambah kesan berbeda di mata Reyhan.
Glek glek glek
Reyhan bersusah payah menelan salivanya, seolah-olah ada yang menyumbat tenggorokannya. Dia masih memandangi Fida yang masih berdiskusi dengan karyawan butik yang tengah membantunya. Fida masih belum menyadari jika saat ini dirinya tengah diperhatikan oleh Reyhan.
Seorang karyawan laki-laki yang membantu Reyhan pun berdehem untuk menyadarkan Reyhan.
"Ehem. Ma-maaf, Tuan. Bagaimana bagian lengannya?" Tanya karyawan laki-laki tersebut kepada Reyhan.
Seketika Reyhan tersadar dan langsung menegakkan tubuhnya. Sementara Fida yang mendengar perkataan karyawan tersebut menoleh untuk menatap Reyhan.
Deg
Tatapan mata mereka bertemu. Fida langsung tersenyum saat mendapati Reyhan masih tak berkedip menatapnya.
"Sabar Mas, ditahan dulu. Dua minggu lagi juga sudah halal. Aku siap kok di unboxing." Kata Fida sambil mengerling jahil.
Biasanya laki-laki yang bersikap agresif. Tapi ini justru terbalik. Sang calon pengantin perempuan yang terlihat sangat ngebet.
Setelah berdiskusi tentang kekurangan baju pengantin mereka. Reyhan dan Fida segera pulang. Fitting baju pengantin Reyhan dan Fida hari itu cukup menguras energi bagi Reyhan. Bagaimana tidak, setelah perkataan Fida yang bar-bar tadi, para karyawan perempuan lebih sering tersenyum geli saat melihat Reyhan. Dia benar-benar merasa malu.
Saat ini, Reyhan dan Fida tengah berada di dalam mobil untuk menuju rumah Fida. Hari sudah menjelang sore saat mereka keluar dari butik. Reyhan masih memasang wajah datarnya saat mengemudikan mobilnya. Dia terlihat sedikit kesal gara-gara perkataan Fida tadi di butik yang membuatnya malu.
Fida yang menyadari jika Reyhan tengah kesal pun menoleh menatap laki-laki di sampingnya tersebut. Senyuman di bibirnya tak luntur meskipun sang calon suami tengah memasang ekspresi datar.
"Ada apa sih, Mas? Masih marah dengan perkataanku di butik tadi?" Tanya Fida sambil mengusap-usap lengan Reyhan.
"Hhhmmm."
Fida mencebikkan bibirnya. Dia sudah mulai hafal dengan sikap Reyhan. Jika Reyhan sudah menjawab singkat seperti itu, bisa dipastikan dia sedang tidak enak hati.
"Maaf, Mas. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menggodamu. Habisnya, kamu lempeng-lempeng saja sih. Aku kan jadi khawatir." Kata Fida.
Reyhan mengernyitkan keningnya. Dia merasa bingung dengan perkataan Fida.
"Khawatir? Memangnya apa yang kamu khawatirkan?" Tanya Reyhan.
Fida sedikit menarik ujung bibirnya. Dia berhasil membuat Reyhan berbicara.
"Aku khawatir dengan malam pertama kita, Mas. Jangan-jangan kamu malah diam saja dan justru aku yang akan meng-unboxing kamu, Mas." Kata Fida.
"Hhaaa?!"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Lhah, bagaimana ceritanya itu Reyhan yang di unboxing Fida? 🤔
Mohon dukungannya untuk othor ya, klik like dan komen di setiap part dan jangan lupa vote di hari Senin.