
Rean masih mendesak dan mel*um*at bibir Dena dengan lembut. Tangan kirinya sudah menekan tengkuk Dena, sedangkan tangan kanannya memegang punggung Dena.
Kedua bola mata Dena langsung mendelik tajam karena terkejut. Tangannya pun mencengkeram kaos yang dipakai oleh Rean. Otak Dena memerintahkan untuk mendorong tubuh Rean, tapi tubuh sialannya itu justru berkhianat. Tubuh Dena langsung menempel dengan ketat pada tubuh Rean. Cengkeraman kedua tangan Dena juga semakin erat. Bukannya menjauhkan tubuh Rean, kedua tangan Dena bahkan justru menariknya mendekat.
Dada Dena terasa sesak karena kurangnya pasokan oksigen ke paru-parunya. Rean yang menyadari hal itu, menjauhkan wajahnya dari wajah sang istri. Sebuah senyuman tersungging saat mendapati wajah pucat Dena.
"Bernapas, Miss. Bernapas," ucap Rean sambil masih menyunggingkan senyuman. "Tarik napas dalam, hembuskan. Ulangi lagi."
Entah Dena sudah sadar dengan perbuatan Rean atau belum. Dia mengikuti saja apa yang dikatakan oleh Rean. Hingga beberapa kali tarikan napas, Dena masih mencengkram erat kaos Rean.
Melihat napas sang istri sudah mulai stabil, Rean memberanikan diri mengecup pipi Dena.
Cup.
"Masih mau lagi?" Rean berbisik pada telinga Dena.
Seketika Dena tersadar. Dia langsung berteriak dan memukul-mukul dada Rean dengan membabi buta.
Bugh bugh bugh.
"Aaaarrgghhhh! Apa yang kamu lakukan bocaahhh!" Teriak Dena sambil memukuli Rean.
Sontak saja Rean meringis kesakitan. "Ampuunn Miss. Aduuhh, aduuhh. KDRT nih. Ampun Miss." Teriak Rean sambil menutupi kepalanya dari serangan Dena.
Belum sempat Dena menjawab perkataan Rean, terdengar sebuah suara.
"Astaga, Dena!"
Kedua orang tersebut langsung menoleh ke arah sumber suara. Terlihat papi Hendra tengah berdiri di depan pintu dapur dengan menenteng sebuah bungkusan makanan. Papi juga terlihat sudah rapi seperti hendak berangkat ke rumah sakit.
Dena menghentikan aktivitasnya memukuli sang suami. Dia berbalik ke arah papinya.
"Papi?"
Papi Hendra hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah putri dan menantunya.
"Apa yang kalian lakukan?" Papi Hendra menatap ke arah Rean dan Dena bergantian. "May, itu tidak baik dilakukan. Rean sudah menjadi suamimu. Jangan berbuat seenaknya seperti itu."
"Memang apa yang dilakukan Rean kepadamu?"
"Dia seenaknya menciumku, Pi." Dena masih bersungut-sungut kesal.
Papi Dena langsung membulatkan mulut dan kedua matanya. Sedangkan Rean hanya bisa tersenyum nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Rean menciummu?"
"Iya, Pi."
Papi menggelengkan kepala sambil meletakkan bungkusan makanan yang dibawanya. "Apanya yang salah, May? Hal itu wajar dilakukan. Rean adalah suami kamu, jadi wajar jika dia melakukannya. Jangankan mencium, melakukan hal yang lebih dari itu saja dia berhak. Kamu itu sudah dewasa, May. Tentunya sudah sangat paham dengan hal seperti ini. Jangan membuat Papi malu dengan segala tingkah konyolmu itu." Papi Dena menjelaskan panjang lebar.
Dena hanya bisa mendengus kesal setelah mendengar perkataan sang papi. Melihat sang putri yang masih kesal, papi Hendra menoleh ke arah Rean.
"Ini Papi bawakan sambal goreng ati buatan maminya Dena. Kalian bisa makan untuk makan malam. Maafkan tingkah kekanakan Dena ya, Re. Papi harap, kamu bisa membimbingnya agar tidak berbuat seenaknya seperti ini."
Rean yang mendapat lampu hijau dari sang mertua pun langsung menganggukkan kepala. "Tentu saja, Pi. Aku pasti akan membimbing miss Dena," jawab Rean dengan penuh semangat.
Hal itu justru membuat Dena semakin kesal. Namun, hal berbeda justru ditampilkan oleh papi Hendra. Dia cukup terkejut saat mendengar perkataan Rean.
"Kamu masih memanggil Dena dengan panggilan 'Miss', Re?"
Rean sedikit tergagap menjawabnya. "I-iya, Pi."
Papi terlihat mendengus kesal tidak suka dengan jawaban Rean. "Mulai sekarang, ganti panggilan kamu, Re."
"Eh, di-diganti bagaimana, Pi?"
"Ganti dengan…,"
\=\=\=
Dengan apa ya kira-kira?