
Hari itu, Dena merasa sangat bahagia. Ternyata, setelah dari rumah sang mami, neneknya juga mengunjunginya siang itu. Nenek Dena meminta maaf atas semua sikapnya selama ini. Dia juga mengatakan jika sudah merestui pernikahan Dena dan Rean. Nenek berdoa semoga Dena segera dikaruniai momongan.
Setelah kepulangan sang nenek, mama Revina juga menghubungi Dena. Mama mengatakan malam itu akan mengunjungi mereka.
Menjelang sore, mama Revina dan papa Bian sudah tiba. Rean yang juga sudah pulang dari kuliah dan distro, segera mempersilahkan kedua orang tuanya masuk. Mereka berempat saling cerita tentang banyak hal.
Malam itu, mama Revina dan papa Bian juga ikut makan malam bersama dengan Rean dan juga Dena.
"Jadi, apa kalian sudah memutuskan untuk mengadakan resepsi pernikahan?" Mama Revina menoleh ke arah Dena dan Rean bergantian.
"Ehm, sebenarnya kami sudah membicarakannya, Ma. Tapi, untuk waktunya, kami belum memutuskan," jawab Rean.
"Kamu nggak keberatan, Sayang?" Mama Revina bertanya kepada Dena.
Dena tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Enggak, Ma. Aku bahkan berniat untuk mengundang semua rekan dosen di kampus."
Mama Revina tampak bahagia. "Baguslah. Mama harap, kalian mulai memikirkannya. Semakin cepat semakin baik."
"Tapi, kami juga tidak mungkin melakukannya dalam waktu dekat ini, Ma. Dena juga juga belum sembuh total. Kami juga harus pindahan rumah dalam waktu dekat ini. Belum lagi distro di Bandung sudang mau opening," jawab Rean.
Mama Revina terlihat mengerutkan kening tidak suka dengan jawaban sang putra.
"Kamu ini banyak sekali agendanya, Re. Jangan-jangan jamu sengaja melakukannya?" Mama Revina tampak menyelidik wajah Rean.
"Eh, mana mungkin aku sengaja, Ma. Mama kan tau sendiri jadwalnya memang sudah seperti itu." Rean tidak terima dengan perkataan sang mama.
"Memang benar, Sayang. Semua itu memang sudah jadwal yang seharusnya mereka lakukan." Papa Bian menengahi.
Mama Revina melirik sekilas ke arah papa Bian sambil mencebikkan bibir. "Baiklah. Tidak apa-apa kalian memundurkan jadwal resepsi pernikahan kalian. Asal kalian jangan memundurkan jadwal untuk mulai membuatkan kami cucu."
Uhuukk uhuukk. Dena langsung tersedak saat mendengar perkataan sang mertua. Dia masih belum terbiasa dengan perkataan blak-blakan dari keluarga sang suami.
Rean dengan cepat langsung memberikan air minum untuk sang suami. Revina yang melihat hal itu merasa tindakan Rean sangat romantis.
"Waahhh so sweeeettttt. Mau juga dong, Mas." Revina berkata dengan mata masih menatap putra dan menantunya dengan tatapan menggodanya.
Papa Bian yang mendengar perkataan sang istri langsung menyambar cangkir kopi yang ada di dekatnya. Dia langsung menyodorkan cangkir yang berisi kopi yang masih hangat tersebut pada bibir mama Revina.
Karena tidak menyadari apa yang disodorkan sang suami, mama Revina langsung menyeruputnya. Alhasil, mama Revina langsung kaget. Dia menoleh ke arah papa Bian dengan tatapan kesal.
Papa Bian hanya bisa tersenyum sambil nyengir. "Hehehe, maaf, Yang. Yang ada di depanku hanya secangkir kopi ini. Nggak ada yang lainnya."
Mama Revina hanya bisa mendengus kesal mendengar jawaban sang suami. Acara makan malam itu dilanjutkan sambil diiringi obrolan ringan.
Hingga menjelang pukul sembilan malam, mama Revina dan papa Bian berpamitan. Rean mengantarkan kedua orang tuanya hingga ke depan pintu apartemen.
Setelah menutup pintu, Rean segera membantu sang istri untuk membereskan meja makan. Disaat sedang membereskan ruang makan, Dena memberanikan diri untuk bertanya kepada sang suami.
"Mas, ehm, kira-kira jika unboxing, kamu mau dimana?" Dena bertanya dengan wajah merona merah.
Rean langsung menoleh ke arah sang istri. Wajahnya juga tak kalah berbinarnya. "Eh, kamu sudah tidak kebanjiran, Yang?"
"Eh, ma-masih, Kok."
Seketika Rean mendesahkan napas berat ke udara. "Lalu, kenapa bertanya begitu?"
"Ya, mau tau saja."
"Ehm, aku maunya sing di hotel, Yang. Yang kacanya lebar, jadi bisa melihat bintang kalau malam."
"Di hotel, Mas?"
"Iya. Bagaimana menurutmu?" Rean menoleh dengan senyuman manisnya.
"Aku juga setuju, kok. Besok kamu pesan hotelnya ya, Mas." Dena tampak malu saat mengatakannya.
"Eh, kenapa? Memangnya besok sudah bisa?"
"I-iya."
"Yeeessss!"
\=\=\=
otewe nih 💃💃