
Sekedar bocoran cerita Fajar. Jika tidak berkenan, bisa di skip ya kak. 🤗
Kemarin banyak yang tanya siapa sih sebenarnya Fajar itu? Ya, Fajar memang bukan tokoh utama di cerita ini. Tapi, dia ikut nyempil sedikit disini. Mungkin, ada yang lupa, siapa Fajar bisa flashback di bab extra part m2.78.
Fajar adalah salah satu karyawan yang bekerja di perusahaan El. Di cerita Fajar ini, othor mencoba untuk belajar membuat cerita yang sedikit beda dari cerita-cerita othor lainnya.
Othor kasih sedikit bocoran dari cerita Fajar.
"Aku tidak pernah meminta makanan enak. Aku hanya minta sisakan sedikit nasi dan garam saja." Kata Fajar kecil saat berada di dekat pintu dapur. Kedua matanya menatap rantang makanan yang tengah berada di atas sebuah meja di dapur tersebut.
Seorang wanita menoleh dan menatap wajah Fajar dengan tatapan nanarnya.
"Kamu itu sudah dikasih tempat tinggal harusnya bersyukur. Masih berani minta makan disini. Pergi sana, tidak ada makanan." Kata wanita tersebut.
Fajar kecil yang masih berusia delapan tahun pun hanya bisa menelan air liurnya dengan keras. Sudah biasa baginya setiap hari mendapati perkataan seperti itu. Bahkan bagi Fajar, makan nasi dengan garam adalah makanan yang cukup mewah. Jika beruntung, dia bisa menambahkan dengan parutan kelapa sisa memasak sayur.
Sambil menunduk, Fajar berbalik dan melangkahkan kakinya menuju samping rumah. Kedua tangan kecilnya masih memegangi perutnya yang terasa lapar karena belum terisi sejak semalam.
Dia berjalan melipir di samping rumah untuk menghindari rintik air hujan yang mulai turun siang menjelang sore tersebut. Baju lusuh yang dipakainya sudah setengah basah pada bagian bahu kirinya.
Seorang wanita tua yang tengah berdiri di dekat teras reyot di samping rumah orang tua angkat Fajar memanggil Fajar dengan sedikit berbisik.
"Jar!"
Seketika Fajar menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arah sumber suara. Dia tersenyum lebar saat melihat mbah Parti atau lebih sering dipanggilnya mbah Par tersebut, melambaikan tangannya ke arah Fajar sambil membawa sepiring nasi. Fajar pun langsung berlari-lari kecil ke arah mbah Par.
"Kamu pasti belum makan, kan? Ini ada makanan. Sana masuk ke dalam. Nanti dilihat ibu kamu." Kata mbah Par sambil menyodorkan sepiring nasi dengan sayur terong sisa kemarin yang terlihat baru saja dihangatkan kembali.
Fajar menerimanya dengan wajah berbinar bahagia. Dia terlihat sangat senang meski hanya makan seadanya. Bagi Fajar, ada sedikit nasi untuk mengganjal perutnya saja sudah sangat bersyukur.
Fajar buru-buru menerima sepiring nasi tersebut ke dalam dapur yang sudah reyot tersebut. Atap yang tertutupi genteng tersebut tampak bocor di beberapa tempat. Namun, hal itu sama sekali tidak membuat risih Fajar. Dia mengambil tempat duduk kecil yang berada di dekat 'pawonan' (tungku yang terbuat dari batu bata untuk memasak dengan kayu bakar).
"Terima kasih, Mbah." Kata Fajar sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya setelah mencuci tangannya.
"Iya, pelan-pelan makannya. Jangan terburu-buru, nanti tersedak. Ini minumnya." Kata mbah Par sambil meletakkan segelas air putih di dekat Fajar.
"Iya."
"Tadi sudah selesai cari rumputnya?" Tanya mbah Par. Ya, Fajar memang harus mencari rumput setelah pulang sekolah. Terkadang, jika susah mencari rumput, Fajar juga harus keliling kampung untuk meminta 'rambanan' (daun-daunan untuk makanan kambing) kepada para tetangga. Hal itu sudah dilakukannya sejak kelas TK untuk menghidupi kambing milik orang tua angkatnya.
"Mmmudah." Jawab Fajar dengan mulut penuh nasi sambil menganggukkan kepalanya.
"Kemana kakak-kakak kamu?" Tanya mbah Par sambil mengganti ember air untuk menampung air yang bocor karena sudah terisi penuh.
"Main." Jawab Fajar singkat.
Mbah Par menghembuskan napas beratnya. Sebenarnya, dia sangat kasihan dengan Fajar yang merupakan anak angkat dari keluarga Rahmadi dan Sistiani tersebut. Mereka berdua menemukan Fajar yang saat itu berusia sekitar lima bulan dan tergeletak di pos ronda saat mereka hendak pergi ke pasar. Sejak saat itu, Fajar diasuh oleh mereka.
Rahmadi dan Sistiani memiliki dua orang anak laki-laki. Anak pertama bernama Bagus Setiawan, yang saat ini sudah berusia tiga belas belas tahun. Dia sudah duduk di kelas tujuh sekolah menengah pertama. Sementara anak kedua dari pasangan Rahmadi dan Sistiani bernama Candra Kurniawan, yang saat itu sudah kelas lima sekolah dasar.
Meskipun Rahmadi dan Sistiani memiliki dua anak laki-laki, namun mereka sama sekali tidak pernah menyuruh kedua anaknya untuk membantu mencari pakan kambing. Kedua anak tersebut dibiarkan bermain setelah pulang sekolah. Bahkan, hingga menjelang Maghrib. Sementara Fajar, dia harus mencari rumput setiap hari setelah pulang sekolah.
Tidak hanya itu, Fajar juga harus bangun pagi sejak sebelum Subuh, untuk membantu membuat jajanan yang akan dijual ke pasar. Biasanya, Fajar membantu mengupas ketela dan ubi yang akan digoreng dan dibawa ke pasar untuk dijual.
Mbah Par dan sang suami, sering memberikan makanan untuk Fajar secara diam-diam. Mereka tahu jika Fajar sering diperlakukan semena-mena oleh keluarga angkatnya. Namun bagi Fajar, semua itu rela dilakukannya hanya demi sesuap nasi. Anak sekecil itu masih belum mengerti cara mendapatkan uang untuk membeli makanan sebagai pengganjal perut.
"Baju kamu basah, nanti segera mandi dan ganti baju." Kata mbah Par saat melihat Fajar mencuci piringnya yang sudah bersih di sebuah bak berisi air untuk mencuci piring.
"Iya, Mbah. Terima kasih untuk makanannya." Kata Fajar dengan senyum cerianya. Bagi Fajar, makanan tadi bisa untuk mengganjal perut hingga besok pagi.
"Hari minggu, ikut Mbah ke sawah desa sebelah. Disana sudah mulai panen, nanti ikut 'ngasak' sama Mbah." Kata mbah Par.
Wajah Fajar berbinar bahagia. Saat panen adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh Fajar. Dia bisa ikut mbah Par untuk 'ngasak'. 'Ngasak' adalah sebuah kegiatan untuk mengambil sisa-sisa hasil panen yang ada di sawah. Biasanya, kegiatan itu dilakukan jika pemilik sawah sudah selesai memanen hasil sawahnya.
Dari hasil 'ngasak' tersebut, Fajar biasanya mendapatkan padi sekantong kresek ukuran sedang jika sawah yang panen tersebut luas. Namun, jika tidak cukup luas, Fajar biasanya hanya mendapatkan sedikit padi.
Semua hasil 'ngasak' tersebut, akan diberikan kepada mbah Par untuk di jual. Jika sedang beruntung, Fajar bisa mendapatkan uang lima ribu rupiah. Namun, jika hasil yang diperolehnya sedikit, biasanya Fajar hanya mendapatkan dua ribu rupiah.
"Iya, Mbah. Aku mau ikut. Besok Senin ada pelajaran olahraga. Aku mau beli es serut. Hehehe." Kata Fajar dengan senyuman khasnya.
Belum sempat mbah Par menyahuti perkataan Fajar, terdengar suara berteriak memanggil namanya.
"Fajaarrr!"
•••
Hari yang ditunggu-tunggu oleh Fajar pun tiba. Ya, hari minggu seperti yang sudah dijanjikan oleh mbah Par beberapa hari yang lalu. Mereka akan pergi ke sawah di desa sebelah untuk 'ngasak' padi sisa-sisa hasil panen. Mbah Mulyono, atau lebih sering dipanggil mbah Mul, suami mbah Par, juga sudah siap berangkat.
Mereka bertiga akan berangkat ke desa sebelah dengan berjalan kaki. Fajar juga sudah siap dengan karung dan juga sabit yang akan digunakan untuk mencari rumput. Ya, setelah melakukan kegiatan 'ngasak' tersebut, Fajar biasanya akan sekalian mencari rumput untuk kambing-kambing orang tua angkatnya.
Fajar berangkat setelah menyelesaikan tugasnya membantu kedua orang tua angkatnya menyiapkan dagangan untuk dibawa ke pasar. Mbah Mul dan juga mbah Par juga menunggu Fajar selesai. Mereka memilih untuk berangkat agak siang agar tidak menunggu kegiatan panen selesai terlalu lama.
"Sudah sarapan, Jar?" Tanya mbah Mul saat melihat Fajar berjalan ke arah pintu rumah mereka.
"Sudah, Mbah. Tadi dapat nasi kok. Hehehe." Jawab Fajar sambil tersenyum lebar.
"Lauk ikan apa?"
"Ikan asin dong Mbah. Tapi ikannya lari, jadi tinggal asinnya doang. Hahaha." Jawab Fajar sambil tertawa. Baginya, mendapat nasi dengan dicampur garam saja sudah sangat beruntung.
Mbah Par dan mbah Mul yang melihat wajah ceria Fajar juga ikut tersenyum. Mereka yang hidup berdua sedikit terhibur dengan adanya Fajar. Anak-anak mbah Par dan mbah Mul yang sudah berkeluarga, juga bukan merupakan keluarga yang cukup. Mereka juga sedang berjuang untuk mempertahankan kelangsungan hidup keluarga mereka masing-masing.
"Sudah cukup siang, ayo kita berangkat." Kata mbah Par sambil beranjak berdiri.
Baik Fajar dan juga mbah Mul segera mengikutinya. Usia kedua orang tersebut yang sudah menginjak enam puluh lima tahun, tak menyurutkan semangat mereka untuk saling bahu membahu mengais rezeki hanya untuk bertahan hidup.
Mereka berjalan melewati tepi sungai untuk menghemat waktu. Sesekali mereka saling bercanda untuk menghilangkan jenuh dan penat.
Sekitar satu jam kemudian, mereka sudah sampai di area persawahan yang ada di desa sebelah. Rupanya kegiatan panen padi belum selesai. Mereka harus menunggu hingga seluruh kegiatan panen tersebut selesai. Fajar memanfaatkan waktu dengan mencari rumput tak jauh dari tempat kedua orang tua tadi beristirahat.
"Jangan jauh-jauh, Jar. Nanti ketinggalan." Teriak mbah Mul saat Fajar sedikit menjauh.
"Iya, Mbah. Nggak jauh, kok. Hanya disini."
Fajar kembali melanjutkan kegiatannya mencari rumput. Dia sedikit bergeser ke tepi sungai yang berada di tepi jalan. Fajar masih menekuni kegiatannya hingga sebuah suara mengagetkannya.
"Kamu Fajar, kan?"
Fajar cukup terkejut saat ada yang mengenalinya. Dia menolehkan kepalanya dan sedikit berbalik. Saat melihat siapa sosok yang telah memanggilnya tersebut, Fajar langsung berdiri. Dia terlihat malu sambil menundukkan kepalanya.
"I-iya, Bu." Jawab Fajar tak berani mengangkat kepalanya.
"Kamu mencari rumput sampai disini? Tapi ini jauh sekali dari rumah kamu, Jar?"
"I-iya, Bu."
"Ehm, sama Mbah saya, Bu." Lagi-lagi Fajar tidak berani mengangkat wajahnya. Dia terlihat malu.
Terdengar sebuah hembusan napas berat dari wanita tersebut. Ya, dia adalah bu Rahma, wali kelas Fajar. Bu Rahma yang kebetulan lewat jalan tersebut, tak sengaja melihat Fajar yang tengah mencari rumput. Awalnya, bu Rahma tidak menyadari jika anak tersebut adalah Fajar. Pasalnya, jarak rumah Fajar dengan tersebut terbilang cukup jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki. Jika naik sepeda motor, bisa memerlukan waktu sekitar lima belas sampai dua puluh menit.
"Ya sudah, kamu jangan terlalu capek. Cari rumput boleh, tapi jangan lupa belajar dan jaga kesehatan." Kata bu Rahma.
Fajar hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil menunduk. Dia tidak berani menatap ke arah wali kelasnya tersebut. Entah mengapa dia merasa malu.
Bu Rahma merogoh sakunya dan memberikan uang untuk Fajar. Beliau dan semua guru yang berada di sekolah Fajar sudah mengetahui kehidupan Fajar. Beruntung Fajar termasuk anak yang cerdas. Bahkan, dia dengan mudahnya mengerjakan semua tugas sekolah padahal dia lebih banyak bekerja membantu orang tua angkatnya.
"Ini, ada sedikit uang jajan untuk kamu. Disimpan baik-baik, ya." Kata bu Rahma sambil menyelipkan uang tersebut ke tangan Fajar.
Fajar yang kaget pun langsung mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah bu Rahma.
"Eh, ti-tidak usah Bu." Kata Fajar. Dia merasa tidak enak hati kepada wali kelasnya tersebut.
"Sudah, terima saja. Anggap saja itu rezeki kamu. Ibu pergi dulu. Jangan lupa belajar, ya." Kata bu Rahma sambil menaiki sepeda motornya kembali.
Fajar mengangguk sambil tak lupa mengucapkan terima kasih saat melihat wali kelasnya tersebut hendak pergi. Setelah memastikan bu Rahma pergi, Fajar langsung berteriak bahagia. Dia bersyukur mendapatkan rezeki yang tidak terduga.
Setelahnya, Fajar segera menyimpan uang pemberian bu Rahma dengan baik. Dia juga segera beranjak untuk menyelesaikan kegiatannya mencari rumput.
Tak berapa lama kemudian, mbah Par dan mbah Mul memanggil Fajar. Rupanya, kegiatan panen sudah selesai. Kini, giliran mereka untuk memulai kegiatan mencari sisa-sisa panen padi.
Hari itu, Fajar cukup beruntung. Dia mendapatkan padi sisa-sisa panen yang lumayan banyak. Mbah Par dan mbah Mul juga mendapatkan hasil yang lumayan banyak. Mereka beruntung karena sawah yang tengah panen tersebut lumayan luas.
Hasil yang mereka bertiga peroleh, akan dijadikan satu untuk kemudian dikumpulkan dengan yang ada di rumah. Selanjutnya, mereka akan menjualnya nanti.
Mbah Mul memberikan uang jajan untuk Fajar. Dengan senang hati Fajar menerimanya. Dia berencana akan menabung uangnya tersebut untuk uang saku ke sekolah.
•••
Fajar sampai di rumah menjelang sore. Dia buru-buru memberikan rumput untuk para kambing milik orang tua angkatnya. Tubuh kurus dengan baju lusuh bekas milik kedua kakak angkatnya tersebut terlihat basah dan penuh dengan lumpur sawah. Fajar yang bertelanjang kaki dengan cekatan memberikan rumput untuk para kambing tersebut.
Di samping rumah, terlihat Candra, kakak angkat Fajar, tengah menenteng bola. Rupanya dia baru saja pulang bermain bola. Candra berjalan menghampiri Fajar yang berada di belakang rumah.
"Dari mana saja kamu?!" Tanya Candra sambil menendang bola ke arah Fajar.
Fajar yang tengah membungkuk langsung tersentak kaget. Dia langsung berdiri dan berbalik untuk menatap wajah kakak angkatnya tersebut.
"Cari rumput." Jawab Fajar singkat.
"Bagi duit!" Perintah Candra sambil menengadahkan tangannya ke arah Fajar.
Fajar yang sudah biasa mendapati perlakuan seperti itu dari kedua kakak angkatnya pun bersikap biasa saja. Dia sudah sangat hafal dengan tingkah kakak-kakaknya tersebut.
"Mana ada duit. Dari pagi juga cari pakan kambing." Jawab Fajar sambil berbalik.
Namun, Candra masih tidak percaya. Dia mendekati Fajar dan mendorongnya hingga jatuh tersungkur di atas tumpukan rumput. Candra langsung menggeledah celana robek Fajar. Dia mencari-cari uang di sana. Candra tahu jika hari ini Fajar pergi 'ngasak' dengan mbah Par dan mbah Mul. Biasanya, dia akan mendapatkan uang saku dari mereka.
Setelah menggeledah, dan tidak menemukan sepeserpun uang, Candra langsung menendang kaki Fajar hingga si empunya merasa sangat kesakitan.
"Dasar tidak tahu diuntung. Harusnya minta duit yang banyak jika pergi 'ngasak'!" Bentak Candra.
Setelahnya, dia pergi meninggalkan Fajar yang masih tertunduk di atas tumpukan rumput. Tangan kecilnya mengusap-usap kakinya bekas tendangan kakak angkatnya. Terasa nyut-nyutan.
Fajar seolah tidak memperdulikan rasa sakit pada kakinya. Dia segera berdiri. Tangan kecil tersebut segera memberikan rumput-rumput tersebut untuk kambing-kambing yang sudah berteriak kelaparan.
Rasa lapar dan haus seolah tidak dihiraukan oleh Fajar. Setelah selesai memberi makan kambing, dia bergegas ke kamar mandi yang berada di belakang rumah tersebut. Dia menyambar kaos dan celana lusuh bekas kedua orang kakaknya yang sedang dijemur tersebut untuk baju ganti. Fajar buru-buru mencuci baju kotornya dan segera menjemurnya setelah selesai.
Hari sudah menjelang pukul empat sore itu. Rasa lapar perutnya sudah tidak bisa ditahan lagi. Fajar buru-buru pergi ke dapur untuk memeriksa makanan. Namun, nihil. Tidak ada makanan apapun di sana. Nasi di dalam bakul tempat nasi pun sudah habis. Fajar celingak-celinguk mencari bahan makanan yang bisa di gigitnya untuk mengganjal perut. Lagi-lagi, dia tidak menemukan apapun.
Fajar mendesahkan napas beratnya. Dia berjalan keluar menuju teras belakang. Sinar matahari yang sudah beranjak ke barat pun sudah mulai meredup tertutup awan dan gunung yang berada tak jauh dari desa Fajar. Fajar duduk termenung menghadap ke arah rumah mbah Par.
Ingin sekali dia membeli makanan dari uang yang diberikan oleh gurunya tadi. Namun, Fajar sudah berjanji untuk sedikit menabung. Ya, Fajar menitipkan uang tersebut kepada mbah Par. Dia sudah tidak berani membawa pulang uang karena takut diambil oleh kedua kakak angkatnya.
Mbah Mul yang baru saja selesai memasukkan padi menoleh menatap Fajar yang tengah duduk sendirian. Beliau sudah sangat hafal dengan kebiasaan Fajar. Mbah Mul berjalan ke samping rumahnya dan memanggil Fajar.
"Jar! Temani Mbah, yuk." Kata mbah Mul.
Seketika Fajar menoleh dan mendapati mbah Mul berjalan ke arah dapur. Fajar tersenyum girang dan membuntuti mbah Mul. Dia sudah sangat yakin akan mendapatkan makanan untuk mengganjal perutnya.
"Mau makan, Mbah?" Tanya Fajar sambil tersenyum nyengir dan berjalan mengikuti mbah Mul.
Mbah Mul menoleh menatap wajah Fajar yang berbinar penuh harap. Hatinya ikut sakit saat melihat anak seusia Fajar harus menanggung beratnya hidup.
"Kita cari makan dulu. Nasi mbahmu sudah habis. Kita cari ketela di belakang." Jawab mbah Mul sambil berjalan mendahului Fajar.
"Dibakar, Mbah?" Tanya Fajar penuh antusias.
"Iya."
"Horeee! Aku mau dua boleh? Satu untuk bekal ke sekolah besok." Kata Fajar dengan wajah penuh harap.
"Boleh."
Setelahnya, mereka segera berjalan menuju halaman belakang rumah mbah Mul. Fajar membantu mbah Mul yang sudah mulai memilih pohon ketela untuk diambil ubinya. Dia berjongkok untuk mulai menggali tanah di sekitar pohon tersebut.
"Ini saja, Jar. Kelihatannya banyak isinya." Kata mbah Mul.
Fajar segera berpindah tempat dan mulai membantu mbah Mul. Setelah beberapa saat kemudian, Fajar dan mbah Mul sudah selesai. Mereka segera membawa ketela tersebut ke rumah mbah Mul. Di sana, ternyata mbah Par sudah menyiapkan api untuk membakar ketela tersebut. Mereka segera mulai membakar setelah membersihkan ketela tersebut dari tanah.
Menjelang maghrib, ketela-ketela tersebut sudah matang. Fajar segera membelahnya dan meniupnya pelan-pelan. Perutnya sangat lapar hingga tak memperdulikan panas dari ketela yang baru saja diambil dari 'pawonan' tersebut.
"Pelan-pelan, Jar. Masih panas." Kata mbah Par.
Fajar mengangguk sambil masih meniup ketela tersebut. Setelah cukup dingin, Fajar segera menghabiskan ketela tersebut. Dia bahkan mengambil dua buah ketela untuk mengganjal perutnya hingga esok hari.
"Mbah, aku boleh minta satu lagi untuk bekal besok?" Tanya Fajar.
"Boleh. Ini Mbah kasih dua. Kamu nggak mau bawa uang saku? Katanya mau beli apa gitu setelah olahraga besok." Kata mbah Par.
Seketika Fajar terdiam. Dia memang berencana untuk membeli es serut. Namun, jika dia membeli es serut di sekolah, Candra, kakak angkatnya pasti akan meminta dan memukulnya. Fajar tidak mau jika hal itu terjadi. Fajar menggelengkan kepalanya sambil menatap wajah mbah Par.
"Nggak usah, Mbah. Nggak jadi. Nanti aku kena pukul mas Candra." Kata Fajar sambil membungkus dua buah ketela tersebut dan memasukkan kedalam kaosnya agar tidak dilihat orang di rumahnya. Setelahnya, Fajar segera beranjak pulang karena kedua orang tua angkatnya sebentar lagi pasti akan pulang.
Mohon maaf ini hanya bentuk halunya othor. Othor hanya ingin mencoba sesuatu yang baru dan berbeda dari cerita-cerita othor yang lain. Terima kasih. 🙏