
Fara benar-benar baru menyadari jika ternyata sang suami adalah orang yang sangat gesrek. Sekali dia sudah mencoba sesuatu yang membuat tubuhnya merem melek, dia akan terus memanfaatkan keadaan. Fara hanya bisa mendengus kesal saat El mencoba untuk membujuknya membakar kalori.
"Ini sudah hampir jam tiga, Mas. Nggak enak jika ditunggu mommy dan daddy." Kata Fara sambil berjalan menuruni tangga untuk menuju ruang makan.
Fara ternyata sudah sangat terlambat. Dia tidak sempat membantu mommy dan bi Narsih, asisten rumah tangga yang baru mommy, untuk membuat sajian sahur. Fara dan El melihat mommy dan daddy bahkan sudah berada di meja makan. Mommy tengah menyiapkan nasi untuk daddy Kenzo.
"Maafkan aku Mom, aku terlambat tidak bisa membantu mommy menyiapkan sahur." Kata Fara saat sudah mendekati meja makan.
Seketika mommy Vanya dan daddy Kenzo menoleh menatap putra dan menantunya. Kedua mata mereka melebar saat melihat rambut El dan Fara basah sehabis keramas. Mereka juga sempat melihat cara berjalan Fara yang sedikit berbeda. Senyum mengembang langsung terbit pada bibir mommy dan daddy.
"Tidak apa-apa, Sayang. Mommy juga bangun terlambat tadi. Untung saja bi Narsih sudah menyiapkan pesanan Mommy semalam. Sudah, ayo segera sahur, keburu imsak nanti." Kata mommy Vanya.
El dan Fara langsung mengambil tempat seperti biasa. Fara segera menyiapkan makanan untuk sang suami. Mommy Vanya dan daddy Kenzo yang melihat hal itu merasa sangat bahagia. Mereka merasa tidak salah menikahkan putra semata wayang mereka dengan Fara.
Mereka menyantap makan sahur sambil sesekali mengobrol. Daddy Kenzo memaksa El untuk datang ke perusahaan bersamanya. Daddy meminta Kenzo untuk menyesuaikan diri dulu pekerjaan yang akan dia kerjakan setelah lebaran nanti.
Mau tidak mau, El mengiyakan permintaan daddy nya. Selain itu, dia juga harus berusaha mengalihkan pikirannya dari Fara setelah apa yang baru saja mereka lakukan. Bisa-bisa dia akan menerjang sang istri padahal saat ini masih puasa.
"Mas, coba lihat rambutku. Bau tidak?" Kata mommy Vanya kepada daddy.
"Hah, mana ada rambut kamu bau, Yang. Coba sini, hhhmmm wangi gini." Jawab daddy Kenzo setelah mencium rambut mommy.
"Benarkah, masih wangi? Apa perlu aku keramas lagi Mas biar wangi. Mumpung belum imsak ini." Kata mommy Vanya.
"Tiga puluh menit lagi imsak, Yang. Nggak usah."
"Nggak apa-apa, Mas. Keramas sebelum sahur kan boleh." Jawab mommy Vanya sambil berkedip ke arah El yang sejak tadi mengamatinya.
Uhuk uhuk uhuk.
El langsung tersedak saat mendapati godaan sang mommy. Fara yang sudah sangat malu langsung memberikan air minum untuk sang suami. Dia benar-benar merasa malu dengan mertuanya. Rupanya mommy dan daddy sudah mengetahui apa yang terjadi dengan mereka sebelum sahur.
"Nggak usah tersedak begitu, El. Mommy dan daddy justru sangat bahagia. Yang keras saja usahanya, biar Mommy dan daddy segera punya cucu." Kata mommy Vanya sambil mengedipkan mata lagi pada El dan Fara.
Sontak saja El dan Fara menjadi salah tingkah. Bisa-bisanya mereka melupakan hal sekecil itu hingga mommy dan daddy bisa langsung mengetahui jika mereka baru saja bertanding di atas ring empuk.
"Baru saja cetak gol sekali, Mom. Masa iya langsung jadi." Kata El. Wajahnya masih tampak memerah karena godaan sang mommy.
"Makanya, usahanya juga harus digiatkan. Tapi ingat, ini bulan puasa. Buat adonannya malam hari. Awas saja jika aneh-aneh saat siang." Kata mommy Vanya.
Baik El dan Fara hanya bisa mengangguk mengiyakan. Setelahnya, mereka segera menyelesaikan makan sahur. El kembali melanjutkan tidurnya setelah melaksanakan sholat subuh. Begitu juga dengan Fara. Dia merebahkan tubuhnya sebentar, karena semalam dia benar-benar tidak bisa beristirahat.
Menjelang pukul enam pagi Fara sudah bangun. Dia segera menyiapkan keperluan El untuk ikut ke kantor daddy hari itu. Tak berapa lama kemudian, dia segera membangunkan sang suami untuk segera bersiap-siap.
Sementara di tempat lain, Revina sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor pagi itu. Dia tidak membawa mobil hari itu karena akan mengunjungi lokasi pembangunan proyek terbaru.
"Nggak, Pa. Aku nebeng sampai kantor, ya. Nanti ada tugas ke luar kantor. Aku bareng Angga saja." Jawab Revina.
"Ya sudah, ayo berangkat." Kata Reyhan.
Setelah berpamitan dengan sang mama, Revina berangkat bersama dengan papanya ke kantor. Sekitar tiga puluh menit kemudian, mereka sudah tiba di depan kantor Revina.
"Hati-hati. Jika ada apa-apa, segera telepon Papa." Pesan Reyhan setelah sang putri mengecup tangannya untuk berpamitan.
"Iya, Pa. Aku kerja dulu. Assalamualaikum." Jawab revina sambil membuka pintu mobil.
"Waalaikumsalam."
Reyhan masih memperhatikan langkah putrinya hingga benar-benar memasuki gedung kantornya. Setelah memastikan sang putri masuk, Reyhan langsung melajukan mobilnya ke kantor.
"Ngga, aku nebeng ya." Kata Revina saat sudah sampai di dekat kubikel Angga, rekan kerjanya.
"Hhhhmm."
"Ham hem ham hem. Lagi ngapain sih?" Tanya Revina penasaran.
"Bentar, lagi balas chat pacar."
"Wuiihh, pacar baru nih. Kerja dimana?" Lagi-lagi Revina dibuat penasaran.
"Dia belum kerja, masih SMA."
"Hhhaaah? Kamu pedofil, Ngga?"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Ceritanya gantian ya.