The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 116



Setelah pertemuan dengan miss Dena dan ayahnya, Rean segera melanjutkan kegiatan membantu sang kakak ipar untuk membereskan barang-barang Shanum dan juga the baby boys.


Hari itu, dia ikut ke rumah Cello untuk membantu membawakan barang-barang bawaan Shanum. Mama Revina juga ikut pulang ke rumah Cello dengan membantu memangku sang cucu.



Drew Auxio Abram


Dryn Auxio Abram


Baby twins yang sudah menyedot perhatian semua anggota keluarganya. Kini, bisa dipastikan jika rumah Cello tidak akan sepi lagi. Mulai sekarang, rumah tersebut akan diramaikan dengan tangisan bayi dan segala kerepotannya untuk mengasuh bayi-bayi tersebut.


"Kita pindah ke lantai bawah, Mas?" Tanya Shanum saat melihat mama Revina dan mommy Fara membawa kedua putranya memasuki kamar di lantai bawah.


"Iya. Tidak mungkin jika kita menempati kamar yang atas, bisa-bisa kelelahan semua nanti. Mommy dan daddy juga pindah ke lantai bawah."


"Lhah, pindahan juga?"


"Hhhmmm. Mommy bilang tidak mau jauh-jauh dari twins."


"Yang atas kosong, dong?"


"Ya nanti biar dipakai Rean jika menginap disini." Jawab Cello sambil masih menuntun Shanun berjalan menuju kamar tidur mereka.


Begitu sampai di dalam kamar, Shanum terlihat sangat takjub. Dia benar-benar kaget kamar mereka akan menjadi seperti ini. Meja dan sofa set yang ada di dalam kamar tersebut sudah dipindahkan. Kini, tempat tersebut digantikan oleh box bayi yang berada di samping tempat tidur mereka.


Di dekat box bayi, ada sebuah tempat yang sudah disiapkan untuk mengganti popok dan baju twins. Bahkan, di sepanjang dinding hingga mencapai pintu kamar tidur sudah tersusun semua perlengkapan twins, mulai dari baju, popok, bedak, kapas dan sebagainya.


Kamar utama di lantai satu tersebut kini benar-benar difungsikan dengan baik. Kedua orang tua Cello bahkan rela memindahkan barang-barang milik mereka yang semula ada di dalam kamar tersebut. Maklum, dulu memang kamar tersebut mereka pakai sebelum pindah ke lantai dua.


"Sayang, kamu susuin dulu nih si kakak. Sepertinya dia sudah lapar," ucap mama Revina sambil berjalan mendekati Shanum yang sudah duduk di tepi tempat tidur.


Mama Revina langsung membantu Shanum menata bayinya agar merasa nyaman saat menyusui. Sementara sang adik, masih terlelap di atas box bayinya. Dia harus menunggu giliran untuk menerima asupan gizi dari sang mommy.


Mama Revina menoleh ke arah pintu dimana ada Cello dan juga papa Bian. Ya, ternyata papa Bian juga baru saja datang dari kantor. Dia sengaja pulang cepat agar segera bertemu dengan para cucunya. Sementara daddy El masih harus menghadiri peresmian produk terbaru perusahaannya bersama dengan Fajar.


"Cell, dimana Rean?" Tanya mama Revina saat melihat Cello memasuki kamar tidurnya sambil membawa tas bayi diikuti oleh papa Bian.


"Ada di dapur, Ma."


"Oh, baiklah."


"Mama nggak menginap disini malam ini?" tanya Cello.


"Sepertinya nggak bisa, Cell. Nanti malam papa ada undangan untuk acara kantor. Jika mama tidak ikut, bisa dipastikan dia tidak akan mau datang." Kata mama Revina sambil melirik ke arah papa Bian.


Papa Bian yang merasa disindir pun hanya bisa mencebikkan bibirnya.


"Ccckkk, masih saja seperti itu, Ma. Bilangin tuh papa agar sedikit berani. Masa iya ditemani mama terus," kali ini Shanum yang bersuara.


"Mama sih maunya begitu, Sayang. Tapi kamu kan tau sendiri, papa kamu itu pasti akan diam saja sepanjang acara jika tidak diajak ngomong. Entah mengapa papa kamu itu irit sekali bicaranya." Lagi-lagi mama Revina menyindir papa Bian.


"Aku kan irit ngomong buat simpan tenaga, Yang." Kali ini papa Bian yang bersuara.


"Simpan tenaga buat apa?"


"Buat berisik di tempat lain. Kan lebih seru jika sama-sama berisik, hehehe." Jawab papa Bian.


"Oh, pantas saja setiap malam telingaku selalu ternodai dengan suara-suara aneh. Ternyata itu perbuatan mama dan papa?!"


Oh, mama Revina dan papa Bian ternyata buat paduan suara. 🙄