
Sementara itu di rumah Kenzo, Vanya tengah menyusui sang putra di dalam kamar. Kenzo sedang berada di depan untuk mengantarkan mama Tari pulang. Sejak sore tadi, mama Tari memang berada di rumah Kenzo untuk menjenguk cucu pertamanya.
Beberapa saat kemudian, Kenzo sudah terlihat memasuki kamarnya. Dia melihat sang istri tengah menyusui putranya. Kenzo langsung berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti bajunya. Setelah siap, Kenzo langsung berjalan menuju tempat tidur untuk bergabung dengan istri dan sang putra.
Kenzo langsung merangkak naik ke atas tempat tidur dan duduk bersila di samping sang putra.
"Mama sudah pulang, Mas?" Tanya Vanya.
"Hhhmmm." Jawab Kenzo sambil masih mengamati gerak gerik sang putra yang tengah menyusu tersebut.
Vanya yang merasa risih pun langsung sedikit menutupi sumber ASI sang putra.
"Apaan sih, Mas. Ngapain juga ngeliatin sampai segitunya. Ini punya adik. Awas ikutan nyempil." Kata Vanya.
Kenzo mencebikkan bibirnya setelah mendengar perkataan sang istri.
"Kok kamu tega begitu sih, Yang. Dulu aku kan yang ikut andil membuatnya jadi sebesar itu." Kata Kenzo sambil merengut kesal.
"Andil apanya sih, Mas."
"Ya itu. Berkatku juga kan jadi bisa menampung banyak asi seperti itu." Jawab Kenzo bangga.
"Yyee, ini kan jadi seperti ini karena hormon kehamilan dan menyusui Mas. Ada-ada saja sih kamu." Kata Vanya.
"Ya, pokoknya aku juga mau bagian. Yang El mau kan hanya isinya, aku di kasih kemasannya juga ikhlas kok." Kata Kenzo.
Vanya mencebikkan bibirnya setelah mendengar perkataan Kenzo.
"Itu sih maunya kamu saja, Mas. Cari enaknya saja." Gerutu Vanya.
"Bukan hanya aku yang enak, Yang. Kamu juga biasanya merem melek gitu." Kata Kenzo.
"Eh, kapan itu. Nggak ada ya." Elak Vanya. Wajahnya sudah mulai memerah setelah mendengar perkataan sang suami.
"Saat kamu memompa asi biasanya juga begitu, Yang. Bahkan, biar cepet penuh itu botol-botol asi, kamu sering minta bantuan padaku. Ekspresi kamu sering begini nih." Kata Kenzo sambil mempraktekkan ekspresi mupeng Vanya saat Kenzo membantunya memompa asi.
Vanya, jangan ditanya lagi. Wajahnya sudah merah padam menahan malu. Sementara Kenzo langsung tergelak melihatnya. Suara tawa Kenzo yang tiba-tiba membuat baby El terkejut. Seketika suara tangisnya langsung menggema di seluruh ruangan. Kenzo yang panik pun langsung berusaha untuk menenangkan sang putra yang sudah selesai menyusu tersebut. Kenzo langsung menggendong sang putra dan berusaha untuk menimangnya agar segera tertidur lelap.
Tak berapa lama kemudian, baby El sudah benar-benar tidur. Selama ini Kenzo memang cukup cekatan saat menenangkan sang putra jika sedang menangis, kecuali menangis karena lapar. Kenzo langsung membaringkan sang putra di tempat tidur bayi yang berada di samping tempat tidurnya.
Vanya yang baru saja kembali dari kamar mandi melihat sang suami merapikan tempat tidur baby El.
"Sudah tidur, Mas?" Tanya Vanya sambil berjalan mendekati box bayi.
"Sudah. Sekarang, giliran menidurkan seniornya." Kata Kenzo sambil mengerling ke arah Vanya.
Vanya yang melihat tingkah sang suami pun langsung mendengus kesal. Sang suami benar-benar tidak mau kalah dari sang putra.
"Dasar. Sudah bayi tua juga nggak mau mengalah sama anak sendiri." Gerutu Vanya sambil berjalan menuju tempat tidurnya dan diikuti oleh Kenzo dibelakangnya.
"Membantu apanya, Mas? Alasan kamu saja itu mau membantu memompa asi. Tapi yang ada kamu justru membuang-buangnya." Kata Vanya kesal.
"Hehehe, habisnya gemes, Yang. Disenggol sedikit saja sudah nyembur." Kata Kenzo.
"Enak saja, nyembur. Emang dikira bisa ular apa." Gerutu Vanya.
"Hehehehe jangan ngambek dong, Yang. Aku bercanda kok." Kata Kenzo sambil mengangkat jarinya hingga membentuk huruf V.
Belum sempat Vanya menanggapi perkataan Kenzo, terdengar suara notifikasi dari ponselnya. Vanya langsung mengambil ponselnya dan membuka pesan yang baru saja masuk. Ternyata Fida lah yang baru saja mengiriminya pesan.
Sepertinya sami kamu benar-benar mau balas dendam deh Van kepadaku. Dulu aku yang mengajarimu untuk mempersiapkan unboxing. Sekarang, giliran dia mengajari mas Reyhan untuk persiapan unboxing. ~ Tulis Fida.
Setelah membaca pesan Fida, Vanya menoleh menatap Kenzo .
"Kamu ngajari Reyhan apa, Mas?" Tanya Vanya dengan tatapan menuduh.
"Nggak ada kok." Jawab Kenzo.
"Ini kenapa Fida bilang kamu yang ngajarin Reyhan?"
"Oh, itu. Aku hanya mengirimi Reyhan link untuk dipraktekkan satu persatu nanti." Jawab Kenzo dengan santainya.
"Berapa banyak kamu mengirimi Reyhan link, Mas?"
"Ehm, lima ratus lebih mungkin." Jawab Kenzo.
"Apaa?! Lima ratus lebih?! Kamu ingin Reyhan mematahkan tulang-tulang Fida, Mas? Bisa-bisa Fida jalan ndlosor, Mas!"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Jangan lupa kasih dukungan buat othor, klik like, komen, vote dan kasih hadiahnya juga boleh 🤗
Untuk informasi kapan up dan karya terbaru, bisa mampir di ig othor @keenandra_winda
Thank you