The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 51



Dini hari tadi, Rean terbangun dari tidurnya karena mendengar suara dering ponsel. Dia meraba-raba tempat tidur untuk mencari dimana ponselnya diletakkan. Begitu menemukan ponselnya, Rean langsung menggeser ikon berwarna hijau tersebut.


"Hallo?" gumam Rean saat nyawanya masih belum terkumpul sempurna.


"Re, kamu sudah dengar kabar?" tanya sebuah suara di seberang sana.


Rean baru mulai menyadari siapa pemilik suara di seberang sana.


"Refan?" Rean memastikan pendengarannya.


"Iya. Sudah dengar kabar?"


"Eh, kabar apa?"


"Distro cabang kita di Diponegoro kebakaran. Ini aku dalam perjalanan ke sana."


"Apa?!" Rean berteriak tertahan. Dia benar-benar terkejut mendengarnya. "Bagaimana bisa?"


"Aku juga nggak tahu kejadiannya seperti apa. Ini tadi juga baru dapat info."


Rean meraup wajahnya dengan kasar. Pikirannya mendadak blank. Namun, dia harus segera mengambil tindakan.


"Aku akan ke Surabaya pagi ini."


"Eh, pagi ini?"


"Iya. Aku akan mengambil penerbangan pertama."


Terdengar helaan napas Refan dari seberang sana. "Baiklah kalau begitu. Hati-hati."


Setelah itu, panggilan telepon tersebut terputus. Rean langsung memesan tiket penerbangan pertama ke Surabaya pagi itu. Setelah selesai, Rean segera bergegas beranjak dari tempat tidur. Rean baru menyadari jika saat ini dia sudah berada di apartemen Dena. Rean menghembuskan napas berat saat mengingat perdebatan mereka setelah makan malam tadi.


Rean segera membersihkan diri dan bersiap-siap. Dia berniat berpamitan kepada Dena, namun tak tega membangunkannya. Bukan karena Rean masih marah, tidak. Tidak seperti itu. Rean lebih memilih tidak membangunkan Dena karena tidak mau membuat wanita tersebut khawatir.


Rean segera menuliskan pesan kepada Dena dan meletakkannya di atas meja makan. Rean yakin, jika Dena pasti akan melihatnya. Setelah memastikan semua keperluannya siap, Rean segera bergegas ke bandara.


Sekitar satu jam kemudian, Rean sudah sampai di distronya. Sudah banyak garis kuning yang dipasang. Api juga terlihat sudah padam. Rean melihat dari bagian depan distronya. Beruntung api tidak menjalar ke bagian depan tempat display barang-barang dagangannya.


Refan yang mengetahui kedatangan Rean, langsung beranjak menghampiri. Rean pun menoleh saat mengetahui Refan sudah berdiri di sampingnya.


"Bagaimana?" tanya Rean.


"Beruntung hanya bagian dapur dan kamar mandi yang terbakar. Tidak sampai merembet ke ruang kerja dan bagian depan."


Rean mengangguk-anggukkan kepala. Dia cukup bersyukur dengan hal itu.


"Kejadiannya bagaimana?" tanya Rean penasaran.


"Korsleting arus listrik. Sepertinya, listrik yang berada di kamar mandi bermasalah hingga menimbulkan korsleting. Tadi aku juga sudah lapor ke polisi, dan mereka juga sudah memeriksanya."


Rean mengangguk-anggukkan kepala. Beberapa saat kemudian, terlihat petugas kepolisian keluar dari dalam distro. Rean dan Refan bergegas menghampiri mereka.


***


Sementara di Jakarta, Dena tengah terduduk di kursi ruang makan dan berhadapan dengan sang mami. Kepalanya menunduk dengan air mata tak henti mengalir. Sementara sang mami, menatap putri satu-satunya tersebut dengan tatapan geramnya.


"Sebenarnya apa sih yang kamu inginkan, May? Astagaa, Mami benar-benar tidak menyangka kamu melakukan hal ini kepada Rean." Mami Dena menggelengkan kepala sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Dena masih terus menunduk tanpa berani mengangkat wajahnya. Dia benar-benar merasa bersalah.


"Dan, apa itu tadi? Kamu pikir uang pemberian Rean adalah uang pemberian orang tuanya? Astaga May, kamu ini benar-benar membuat Mami dan Papi malu. Apa kamu tahu, Rean itu sudah punya usaha sejak masih SMA. Bahkan, usahanya sudah memiliki cabang di Jakarta. Dan saat ini, dia sedang memulai cabang di Bandung juga."


Seketika Dena mendongakkan kepala. Dia merasa tertampar dengan apa yang baru saja di dengarnya dari sang mami.


\=\=\=


Up gantian ya