The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 85



Malam itu, adalah malam pertama bagi Rean dan Dena tidur dalam kamar yang sama di apartemen. Setelah satu bulan lebih, mereka baru bisa menempati kamar tersebut bersama.


Dena saat ini sedang berada di dalam kamar. Dia sudah berselonjor di atas tempat tidur sambil bersandar pada kepala tempat tidur. Sementara Rean, dia sedang di kamar mandi.


Tak berapa lama kemudian, Rean terlihat keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kolor dan kaos tipis yang biasa dipakainya untuk tidur. Dena sempat menatapnya sekilas sebelum kemudian membuang muka. Meskipun sudah sering melihat penampilan Rean seperti itu saat di rumah orang tuanya, namun Dena merasa cukup malu.


Rean yang melihat reaksi Dena hanya bisa menyunggingkan senyuman dan menggelengkan kepala. Dia segera beringsut naik ke atas tempat tidur di samping Dena.


"Kenapa membuang muka begitu? Sudah sering lihat aku pakai kolor juga," ucap Rean.


"Apaan, sih. Malu tau." Dena masih enggan melihat ke arah Rean. 


"Malu kenapa memangnya? Aku masih pakai baju komplit ini. Kaos dan kolor abu-abu, bukan hijau."


Dena tidak menjawab perkataan Rean. Dia hanya berdecak sambil berusaha merebahkan tubuhnya. Rean yang melihat hal itu, langsung beringsut membantu sang istri untuk mencari posisinya yang nyaman.


Meskipun sudah terbiasa, namun Dena masih merasa canggung berada pada jarak begitu dekat dengan Rean. Wajahnya langsung merona saat wajah Rean hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya. 


Rean yang melihat Dena masih malu-malu, langsung beraksi. Dia semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Dena. Melihat hal itu, Dena semakin membulatkan kedua bola matanya.


"A-apa yang mau lakukan?" Dena tak bisa mengalihkan tatapannya pada bibir Rean yang semakin mendekat.


Sontak saja perkataan Rean membuat Dena semakin terkejut. Namun, belum sempat Dena memprotes perkataan Rean, bibirnya sudah dibungkam oleh bibir Rean.


Rean langsung me*lu"mat dan me*nye*sap bibir ranum sang istri. Dia memaksa Dena untuk mengikuti gerakannya. 


Awalnya, gerakan bibir Rean begitu lembut, namun lama kelamaan semakin menuntut. Dena yang awalnya hanya diam menikmati apa yang dilakukan Rean, semakin lama semakin terbawa arus yang diciptakan oleh sang suami.


Dena ikut bergerak. Bibirnya secara otomatis terbuka. Lidah keduanya saling menggoda hingga saling membelit. Tidak ada lagi rasa malu dan canggung. Yang ada, hanya rasa untuk menyalurkan apa yang menuntut pada tubuh mereka.


Tak sampai disitu, tangan kiri Rean sudah langsung bergerak otomatis untuk mencari pegangan. Sementara tangan kanannya digunakan untuk menyangga tubuh agar tidak menindih Dena. Ya, saat itu kaki Dena masih harus dibebat untuk memulihkan tulang kakinya. Sementara tangan kanan Dena, juga masih menggunakan penyangga.


Ketika sudah menemukan apa yang dicari, Rean menghentikan gerakan tangannya sebentar, namun tidak memindahkannya. Rean hanya me*em*s jelly kenyal menggemaskan tersebut dengan sedikit keras. Dia ingin melihat bagaimana reaksi Dena. Dan, benar saja. Tubuh Dena langsung melengkung ke atas saat merasakan perbuatan Rean.


Kedua bola matanya terpejam, dengan bibir bawah tergigit untuk menyembunyikan suara. Melihat reaksi Dena, Rean semakin bersemangat untuk mendengar suara merdu dari bibir sang istri. Dia semakin menjadi memainkan jelly kenyal tersebut.


Hingga suara Dena, sudah tidak dapat ditahan lagi.


Dena be like ….


Kira-kira bagaimana reaksi Dena? 🤣🤣