
Jangan ada yang bilang kenapa diulang-ulang ya, memang alurnya begini 😭
Othor mengsyedih 🤧
Jika kurang berkenan, bisa di skip ya.
***
Tiga hari berlalu setelah kelahiran bayi Shanum, dia sudah diperbolehkan pulang. Siang ini, dia dan kedua bayinya akan pulang. Rean, yang pagi itu harus ke distro, harus mengantarkan sang mama ke rumah sakit terlebih dahulu. Mama Revina akan membantu mempersiapkan perlengkapan sang putri dan cucunya.
"Ingat, jangan sampai telat, Re. Kasihan kakak kamu nanti kerepotan bawa banyak barang." Mama Revina masih memperingatkan sang putra sebelum keluar dari mobil Rean.
"Iya, Ma. Aku paling hanya sebentar."
Mama Revina mengangguk dan segera keluar dari mobil Rean. Setelah mengantar sang mama, Rean segera melajukan kendaraannya menuju distro miliknya. Dia sudah ada janji dengan beberapa orang di sana.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Rean sudah memarkirkan kendaraannya di depan distronya. Dia segera berjalan masuk untuk menemui orang yang sudah membuat janji dengannya.
Ceklek. Rean membuka pintu ruangannya. "Selamat pagi. Maaf aku datang terlambat."
Dua orang yang berada di dalam ruang tersebut langsung menoleh ke arah pintu. Rean cukup terkejut saat melihat salah satu dari mereka.
"Tidak apa-apa. Kami juga baru saja datang." Jawab seorang laki-laki sambil beranjak mengulurkan tangan kepada Rean. "Perkenalkan, saya Rendy Pahlevi."
"Rean," balas Rean. "Silahkan duduk."
"Terima kasih."
"Ehm, sepertinya kita pernah bertemu sebelum ini," ucap Rean sambil menatap ke arah perempuan yang tengah duduk di samping Rendy.
"Ah, iya. Rupanya kamu mengingatku." Perempuan tersebut tersenyum genit ke arah Rean. "Aku Ersa, temannya Dandi."
Seketika Rean mengingat hal itu. Dia mengangguk-anggukkan kepala. Namun, dia tidak menanggapi Ersa lagi. Selanjutnya, Rean dan Rendy terlibat pembicaraan. Dari obrolan tersebut, diketahui jika Ersa adalah adik Rendy.
Setelah cukup mengobrol dan mendapatkan kesepakatan, Rean dan Rendy mengakhiri obrolan. Saat hendak berpamitan, Ersa mendekat ke arah Rean.
"Kapan-kapan, bisa kita makan siang bersama? Aku juga tertarik bekerja sama denganmu. Siapa tahu, aku bisa bantu promosikan distro kamu di akun sosmedku. Followerku lumayan banyak lho," ucap Ersa sambil berusaha menempel pada Rean.
Namun, secepat kilat Rean langsung beringsut mundur. "Ehm, aku pikirkan dulu."
Ersa hanya bisa mendengus kesal. Awas saja, aku pastikan kamu tidak akan bisa menolakku lagi setelah ini, batin Ersa.
Setelah itu, Rendy dan Ersa langsung pamit. Rean juga segera berangkat menuju rumah sakit untuk membantu kepulangan sang kakak.
***
Tak butuh waktu lama bagi Rean untuk sampai di rumah sakit. Dia langsung menuju ke ruang perawatan sang kakak.
"Re, kamu bantu kakak kamu membawa peralatannya. Kasihan jika dia membawanya sendiri," kata mama Revina kepada Rean yang terlihat baru saja memasuki kamar perawatan Shanum.
"Lho, sudah mau pulang ya?"
"Iya lah. Masa mau disini terus. Sudah cepetan bantu bawa perlengkapannya semua," lanjut mama Revina.
Mau tidak mau Rean menuruti perkataan mama Revina. Dia membantu Cello membawa perlengkapan Shanum dan juga twins ke mobil.
Dia masih tidak menyadari jika pada saat bersamaan, ada seseorang yang juga hendak menaiki lift tersebut. Hingga saat pintu lift terbuka, Rean baru menyadari siapa orang yang berdiri di samping kirinya tadi.
"Miss Dena?!" Kata Rean sedikit berteriak.
Ya, perempuan tersebut adalah miss Dena. Dosen favorit Rean dan sekaligus menjadi calon terkuat sebagai gebetannya.
"Hhhmm,"
"Waahhh, benar-benar tidak menyangka jika bertemu dengan miss Dena. Sedang apa disini, Miss?" Tanya Rean dengan penuh semangat. Dia masih belum menyadari tatapan yang dilayangkan oleh miss Dena pada barang bawaan yang sedang dibawa oleh Rean.
Ada selimut bayi, tas bayi yang berisi popok, bantal bayi dan juga alas tidur bayi. Miss Dena memperhatikan semua yang dibawa oleh Rean satu persatu. Dilihatnya jika barang-barang tersebut adalah perlengkapan newborn baby.
"Ini rumah sakit. Kamu bisa memikirkan sendiri untuk apa aku kesini." Jawab miss Dena sambil menolehkan kepalanya.
Rean hanya bisa mendengus kesal setelah mendengar jawaban miss Dena. Sebenarnya, Rean sudah sangat hafal dengan respon yang diberikan oleh miss Dena. Dia memang selalu seperti itu saat Rean bertanya atau ngomong sesuatu kepadanya.
"Cckk, jangan ketus-ketus gitu napa, Miss. Nanti tambah buat aku gemes dan nggak mau berpaling bagaimana?" Goda Rean sambil tersenyum dan menaik turunkan alisnya.
Miss Dena menoleh menatap Rean. Tatapan matanya tajam seperti biasanya. Dia benar-benar sudah menebalkan telinganya dari segala macam bentuk gombale mukiyo Rean.
"Jangan suka ngomong sembarangan!" Hardiknya.
"Siapa juga yang ngomong sembarangan, Miss. Aku kan hanya ngomong jujur apa adanya," elak Rean.
Tak terasa lift yang mereka tumpangi sudah sampai bawah. Miss Dena segera beranjak keluar begitu pintu lift terbuka. Rean juga langsung mengikutinya keluar. Namun, langkah kaki mereka terhenti saat mendengar sebuah suara memanggil nama mereka.
"Mayang!"
"Rean!"
Seketika langkah kaki Rean dan miss Dena terhenti. Keduanya menoleh ke arah utara, ke tempat orang-orang yang memanggil nama mereka.
"Papa?" ucap Rean saat melihat wajah papa Bian.
"Papi?" tanya miss Dena sambil berjalan ke arah laki-laki yang berdiri di samping papa Bian.
Kening Rean berkerut sambil mengikuti langkah kaki miss Dena.
"Sudah siap pulang, Re?" Tanya papa Bian sambil mengamati barang-barang yang dibawanya.
"Sudah, Pa."
Laki-laki yang berada di samping papa Bian tersebut tampak tersenyum sambil menatap ke arah Rean. Menyadari hal itu, Rean membalasnya sambil menganggukkan kepalanya.
"Re, kenalkan ini teman papa, om Hendrawan Gusnadi," kata papa Bian sambil menggeser tubuhnya.
Seketika kedua bola mata Rean membesar saat menyadari nama belakang laki-laki tersebut. Apa ini orang tua miss Dena? Waahhh calon mertua nih, batin Rean.
\=\=\=\=
Sudah dijelaskan ya, ini runtutan ceritanya. Jadi, please jangan bilang kenapa di ulang lagi. Nanti jika tidak di tulis, bakalan bolong plotnya.
Jika tidak berkenan, please skip saja ya 🙏🤧