The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 39



Setelah mommy Fara berangkat, Cello dan juga Shanum segera beranjak menuju kamar mereka untuk membersihkan diri sebelum makan siang. Shanum segera menyiapkan pakaian ganti untuk Cello sementara sang suami tengah berada di dalam kamar mandi.


"Mas, sore ini ada acara?" Tanya Shanum sambil memberikan baju ganti untuk Cello setelah dia keluar dari kamar mandi.


"Nggak ada, sih. Hanya saja nanti malam ada janji dengan teman untuk membicarakan pekerjaan bulan depan. Ada apa?"


"Ehm, nggak ada apa-apa. Mau ngajakin ke rumah kakek sih sebenarnya. Pengen nginep gitu sebelum perkuliahan dimulai."


"Bagaimana jika weekend ini. Kita bisa menginap dua hari disana." Tawar Cello.


"Eh, benarkah. Baiklah, aku setuju." Jawab Shanum dengan wajah berbinar bahagia.


Setelahnya, mereka langsung beranjak menuju meja makan untuk makan siang. Siang itu, mereka banyak ngobrol tentang banyak hal. Hingga sebuah panggilan telepon yang masuk pada ponsel Cello, menyela obrolan mereka. Cello segera menghubungkan panggilan telepon tersebut setelah mengetahui siapa penelepon.


"Hallo, Dit. Bagaimana?"


"..."


"Oh, begitu. Nggak apa-apa, kok."


"..."


"Iya, semoga kakak lo lancar lahirannya."


Setelahnya, Cello segera menutup panggilan telepon tersebut. Shanum yang sedang membereskan meja makan menoleh menatap wajah Cello.


"Ada apa, Mas?"


"Nggak ada apa-apa. Tadi Radit, yang mau ketemuan nanti malam. Dia bilang tidak bisa datang karena kakaknya mau melahirkan, sedangkan kakak iparnya masih berlayar. Jadi dia yang sibuk ngurusin kakaknya itu."


Shanum hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya setelah mendengar perkataan Cello.


Malam itu, Cello berada di rumah. Dia tidak jadi keluar. Cello juga sedang malas bertemu dengan teman-temannya. Ditambah lagi, hujan gerimis sejak sore seperti enggan untuk berhenti.


Setelah makan malam, mommy Fara terlihat sibuk membuatkan teh madu hangat untuk daddy El. Rupanya, malam itu daddy El merasa tidak enak badan. Cello yang sudah sangat hafal dengan kebiasaan sang daddy yang akan berubah sangat manja jika sedang sakit, hanya bisa menghembuskan napas beratnya.


Cello segera melangkahkan kakinya menuju kamar untuk menyusul sang istri yang sudah lebih dulu berada di sana. Cello melihat Shanum sudah berada di atas tempat tidur sambil menghadap laptop kesayangannya. 


Cello segera beranjak untuk mengganti bajunya dengan baju tidur kebesarannya. Apalagi jika bukan kolor sejuta umat dan kaos tipis tanpa lengan yang menampilkan otot-otot lengannya.


"Serius banget. Lihat apa sih?" Tanya Cello sambil beringsut naik ke atas tempat tidur.


"Eh, ini lagi lihat drakor, Mas. Lagi seru, nih." Jawab Shanum penuh semangat.


"Halah, paling juga menye-menye gitu. Apanya yang seru." Kata Cello tak berminat untuk melirik layar laptop Shanum.


"Eh, jangan salah. Ini bagus lho. Lihat pemainnya juga bening banget. Jadi suka." Jawab Shanum.


"Eh, sembarangan. Coba lihat wajah mereka, mana ada bekas belingnya."


Cello hanya mencebikkan bibirnya tanpa berminat untuk menatap layar laptop tersebut. Namun, seketika ujung matanya melihat adegan yang cukup membuatnya gerah. Apalagi jika bukan adu mulut.


Cello langsung membelalakkan kedua matanya. Sementara Shanum terlihat gelagapan. Dia terlihat panik dan berusaha untuk menutupi layar laptopnya.


"Eh, geser sedikit, ih." Pinta Cello sambil sedikit menggeser tubuh Shanum.


"Eh, nggak usah. Aku ganti saja." Kata Shanum tak mau kalah.


"Kenapa di ganti. Nggak usah diganti. Biar bisa sambil belajar." 


"Eh, belajar apa sih, Mas?" Kata Shanum semakin gugup. Dia terlihat berusaha untuk mematikan laptop tersebut. Namun, belum berhasil Shanum melakukannya, tangan kirinya sudah ditarik oleh Cello hingga kini dia sudah terlentang diatas tempat tidur.


"Eh, Mas?!"


"Aku juga mau buat film sendiri." Kata Cello yang kini sudah berada di atas tubuh Shanum.


"Eh, fi-film? Film apa? Lalu, sutradara dan pemainnya?"


"Aku sutradaranya. Dan pemainnya, kita berdua." Kata Cello sambil membungkam bibir Shanum dengan bibirnya.


Shanum yang masih belum sepenuhnya bisa melupakan peristiwa masa lalunya, hanya bisa mengikuti keinginan Cello. Shanum selalu membuka kedua matanya hingga hatinya benar-benar tenang.


"Aku Cello, suami kamu. Coba pejamkan kedua mata kamu dan nikmati apa yang aku lakukan." Bisik Cello pada telinga kanan Shanum.


"Ta-tapi aku,..."


"Jangan khawatir, aku hanya akan membuat film seperti yang kamu tonton tadi. Bukan seperti film pemersatu bangsa itu." Kata Cello sambil menyusuri rahang Shanum dengan jari telunjuknya.


Shanum hanya bisa menggigiti bibir bawahnya sambil menatap wajah Cello dengan tatapan sayunya. 


"Bantu aku agar bisa secepatnya melupakan masa lalu itu, Mas." Kata Shanum sambil membelai pipi kanan Cello.


"Dengan senang hati. Aku akan membuat kamu menikmati langsung adegan tadi, tidak hanya melihat di layar laptop." Kata Cello sambil memberikan beberapa kecupan pada kening Shanum.


Melihat kesungguhan Cello, hati Shanum menjadi semakin tenang. Dengan berani, dia mengalungkan kedua tangannya pada leher Cello dan menarik tengkuknya agar dia bisa menjamah bibir sang suami.


Cello tak tinggal diam. Kali ini, dia tidak hanya membiarkan bibirnya yang bekerja. Namun, tangannya juga sudah mulai ahli melakukan tugasnya. Hingga terdengar desisan kecil dari bibir Shanum.


"Astaga, Mas. Jangan dijepret talinya."


Tali opo kuwi, Cell? 🙄