The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Rean 28



"Kalau begitu, aku jemput."


"Eh?" Kinan langsung menoleh ke arah Adrian. Dia masih belum bisa mencerna dengan baik ucapan laki-laki itu. "Menjemput bagaimana maksudnya?"


"Aku jemput kamu di kampus saat makan siang. Kamu ada kuliah jam berapa?"


Eh, dia seriusan ini mau jemput di kampus? Batin Kinan.


"Aku ada satu mata kuliah, sih. Jam terakhir."


Adrian menoleh ke arah Kinan sambil menaikkan kedua alisnya. "Jadi, kamu free pagi hingga siang hari?"


"Ehm, sepertinya iya."


"Baiklah. Aku akan menjemputmu di rumah untuk makan siang di rumah. Setelah itu, aku akan mengantarmu ke kampus. Aku tidak bisa jika harus bertemu pagi. Aku ada meeting besok."


Kinan mencebikkan bibir sambil merengut kesal. "Cckkk. Memangnya aku sudah setuju, Om? Jangan seenaknya memutuskan tanpa berbicara dulu. Itu namanya mau menang sendiri."


Kinan yang memang tidak suka didikte tersebut, langsung merasa kesal. Dia tidak mau menuruti keinginan Adrian begitu saja.


Adrian menoleh ke arah Kinan saat mobilnya sudah mulai memasuki area rumah Kinan. Dia tidak menjawab ucapan Kinan tapi justru malah balik bertanya.


"Yang mana rumahnya?"


Kinan hanya bisa berdecak kesal sambil mengarahkan mobil Adrian untuk berbelok pada gang di depan sebelah kanan.


"Di depan belok kanan. Rumah paling ujung sebelah kiri," ucap Kinan.


Adrian hanya mengangguk sebagai tanda mengerti. Hingga tak sampai lima menit kemudian, mobil yang dikemudikan oleh Adrian sudah berhenti di depan rumah Kinan. Adrian mengamati rumah tersebut dengan seksama. Meskipun rumah kontrakan, tapi cukup bersih dan rapi. Tanaman yang ada di depan rumah juga tertata dengan rapi.


Adrian menyadari jika Kinan masih diam tidak bergerak. Keningnya berkerut saat menoleh untuk menatap ke arah Kinan kembali.


"Ada apa? Kenapa tidak segera turun? Apa kamu mau aku mengantarmu sampai dalam rumah juga?" tanyanya.


Kinan mengerucutkan bibir sambil melayangkan tatapan tajam ke arah Adrian. "Aku tidak suka Om memutuskan segala sesuatunya seenaknya begitu. Setidaknya, tanya dulu aku mau apa tidak? Bukannya main memutuskan begitu." Kinan melipat kedua tangannya didepan dada. Ekspresinya jelas sekali menunjukkan jika dia tengah sangat kesal.


Adrian yang menyadari hal itu langsung membenahi posisi duduknya. Dia masih mengamati ekspresi Kinan.


"Apa kamu keberatan jika kita membicarakan masalah kita sambil makan siang di luar?" tanya Adrian.


Kinan yang saat itu tengah menatap tajam ke arah Adrian langsung menjawab. "Dengar ya, Om. Pertama, aku tidak merasa kita sedang ada masalah. Om saja yang telah menyeretku ke dalam persoalan keluarga Om. Kedua, aku tidak berminat makan siang di luar dengan Om. Kenapa? Karena Om adalah orang yang cukup banyak dikenal orang. Selain itu, masalah pemberitaan tentang perpisahan Om kemarin juga masih hangat-hangatnya dibicarakan. Aku tidak mau disangkut pautkan dengan pemberitaan itu."


"Alasan lain, karena aku tidak mau ada orang dari kenalanku melihat kita sedang makan siang berdua di luar. Mereka bisa berpikir yang tidak-tidak tentang kita nanti." Kinan menjelaskan alasannya kepada Adrian.


Adrian berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh Kinan. Dan, dia sepertinya menyetujui alasan yang disampaikan tersebut.


"Baiklah. Kalau begitu, kamu saja yang menentukan waktu dan tempatnya," ucap Adrian pada akhirnya.


Kinan masih menatap lekat-lekat wajah Adrian sebelum kembali bersuara.


"Di sini. Di rumahku saja."


\=\=\=


Bagaimana, Adrian kira-kira mau nggak ya?


Klik like dan komen banyak-banyak ya. Biar semangat up borongan.