
Seketika Bian menoleh menatap ke arah sumber suara. Dilihatnya Revina tengah membawa obat dan segelas air putih untuk kakek Ibrahim. Saat Revina masih berada di dekat pintu, dia mendengar perkataan Bian kepada atasannya. Oleh karena itu, Revina langsung berteriak mau.
Setelah mengobrol beberapa saat kemudian, Bian segera menutup panggilan telepon tersebut. Dia menatap wajah Revina yang kini sedang membukakan obat untuk kakek Ibrahim sambil mengulas senyumannya.
"Apa-apaan itu tadi." Gerutu Bian. Dia merasa malu kepada Kaero, atasannya.
"Memangnya kenapa, Mas? Bukannya tadi pak Kaero mengatakan jika mereka sudah menyediakan villa untuk kita? Sayang Mas, jika tidak di ambil." Kata Revina sambil masih mengulas senyumannya.
Mendengar perkataan Revina, Bian hanya bisa mencebikkan bibirnya. Sementara kakek Ibrahim langsung menggeser tubuhnya hingga kini mendekat ke arah Bian.
"Sudah, ambil saja. Jarang-jarang kamu bisa liburan jika tidak seperti ini. Kasihan istri kamu juga."
"Tapi Kek, Kakek kan belum sembuh benar. Mana mungkin aku meninggalkan Kakek sendirian."
"Kata siapa Kakek kamu sendiri. Ada Nenek di rumah. Lagi pula, ada Yuli dan suaminya di rumah. Mereka juga tidak mudik. Sudah, kamu berangkat saja." Kata nenek yang tiba-tiba sudah berada di samping Revina.
Mendapat desakan dari tiga orang, Bian benar-benar sudah tidak berkutik. Dia hanya mengangguk pasrah. Revina yang melihat kepasrahan Bian langsung memeluk nenek dengan erat. Dia berterima kasih karena sudah membantu meyakinkan Bian.
Malam itu, Revina dan Bian segera mempersiapkan kebutuhannya untuk pergi ke Malang. Revina membantu Bian melipat baju yang akan dibawanya.
"Mas, aku hanya punya baju-baju biasa. Masa iya ke Malang dingin aku bawa baju model beginian." Kata Revina sambil menunjukkan mini dress kepada Bian. Ya, memang Revina hanya memiliki baju biasa yang lumayan tipis.
"Nggak apa-apa, Dek. Nanti beli di sana jika membutuhkan sesuatu." Kata Bian sambil mengunci pintu jendela. Jangan kaget dengan panggilan Bian ke Revina lho ya, mereka sudah mulai melakukannya sejak pertemuan di rumah Revina dulu.
"Iya, deh. Besok mampir beli baju hangat. Oh iya Mas, pak Kaero itu asli Malang?"
"Bukan, pak Kaero asli Jakarta. Istrinya yang berasal dari Jawa Timur." Jawab Bian.
Revina tang mendengarnya hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah selesai membereskan pakaian mereka, Revina segera beranjak pergi ke kamar mandi. Kamar mandi di rumah kakek Bian berada di bagian belakang dekat dapur. Hanya ada dua kamar mandi di rumah tersebut. Satu lagi berada di luar rumah dekat teras belakang.
Tak berapa lama kemudian, Revina sudah selesai berbenah. Kini, giliran Bian yang membersihkan diri.
~
Sementara di Jakarta, El masih terus mengekori Fara yang berada di dapur. Mereka baru saja selesai makan malam. Kini, Fara sedang membuatkan jus jeruk untuk El.
"Tunggu saja di dalam kamar, Mas. Sebentar lagi juga selesai." Kata Fara sambil menuangkan air.
"Nggak mau. Nanti disabotase mommy." Jawab El sambil masih menempel pada punggung Fara.
"Disabotase? Apa maksudnya itu?"
"Hal-hal aneh apa maksud kamu, El? Kamu kira Mommy ini orang aneh?" Tanya mommy Vanya yang tiba-tiba sudah berada di belakang El dan langsung menarik telinga El.
"Aduuuhh duuhh duuuhhh, Mom. Sakit ini. Lepasin Mom." Kata El sambil meringis dan memegangi telinganya.
"Apa maksud kamu tadi mommy bakal menyabotase Fara. Kamu kira mommy ini kriminal apa."
"Bukan begitu, Mom. Malam ini kan jadwalnya buka pabrik, jika tidak ditunggui, bisa-bisa gagal launching nanti." Kata El sambil masih menahan tangan sang mommy agar tidak semakin menarik telinganya.
Seketika mommy melepaskan tarikan tangannya pada telinga El. Dia menatap Fara yang terlihat merona sambil memegang segelas jus jeruk.
"Ya sudah. Sana segera masuk kamar. Awas saja jika kamu aneh-aneh El."
"Siapa juga yang mau aneh-aneh, Mom." Gerutu El sambil menarik lengan Fara.
Fara hanya bisa mengangguk dan segera berpamitan kepada mommy Vanya saat tangannya sudah ditarik oleh El. Mereka terlihat terburu-buru berjalan menuju kamar.
El segera membuka pintu kamar tidur mereka. Fara langsung berjalan menuju nakas dan meletakkan segelas jus jeruk tersebut di atasnya. Sementara El langsung mengunci pintu.
Saat Fara berbalik, dia dikejutkan oleh El yang tiba-tiba menubruknya hingga terhempas di atas tempat tidur.
"Maassas!"
"Aku sudah nggak tahan, Yang. Buka, Yang. Buka."
"Buka pintu maksudnya, Mas?"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Hadeewhh Fara. Baru juga ditutup pintunya, Ra. 🤦♀️