
Malam itu, seluruh keluarga Rean sudah berada di rumah Dena. Shanum dan Cello juga ikut ke rumah Dena beserta twins. Rean tampak sedikit gugup saat mobil keluarga mereka memasuki halaman rumah orang tua Dena.
"Sudah siap, Re?" tanya papa Bian saat mobil yang ditumpangi mereka berhenti di depan rumah orang tua Dena.
"Sudah, Pa. Aku sudah siap."
"Bagus. Papa bangga padamu, Re. Papa harap, kamu bisa memegang tanggung jawab ini dengan baik."
"In Sha Allah, Pa. Doakan Rean bisa melakukannya."
"Pasti, Re. Ayo, sekarang turun. Tuh lihat, mama dan kakak kamu sudah turun," ajak papa Bian.
Rean segera mengangguk mengiyakan. Dia segera turun dari mobil dan mulai membawa seserahan yang akan diberikan kepada Dena. Papa Bian, Cello, dan mama Revina juga membantu Rean membawa seserahan. Sementara Shanum mendorong stroller twins.
Papi Dena yang melihat kedatangan calon menantu dan keluarganya langsung menyambut kedatangan mereka. Mami Rida, maminya Dena, juga langsung menyambut kedatangan calon besannya tersebut.
Mereka semua berkumpul di ruang tengah. Sudah ada beberapa orang yang berada di sana. Sepertinya, mereka adalah kerabat atau mungkin tetangga terdekat.
Saat itu, Dena masih belum hadir di ruangan tersebut. Mereka masih ngobrol ringan dan perkenalan singkat keluarga. Papa Bian, sebenarnya sudah mengetahui permasalahan yang dihadapi oleh keluarga Dena. Papa Bian yang sudah bersahabat cukup lama dengan Om Hendra, sudah cukup banyak mengetahui seluk beluk keluarganya dan keluarga istrinya, mami Rida.
Setelah beberapa saat, acara ngobrol singkat tentang perkenalan pun berakhir. Papi Dena meminta sang istri untuk memanggil putrinya. Tak berapa lama kemudian, Dena datang dengan mami Rida berada disampingnya.
Rean yang saat itu duduk dengan diapit oleh kedua orang tuanya, masih belum berani mendongakkan kepala. Dia merasa gugup, tapi masih berusaha mengatur degup jantungnya yang sudah mobat mabit.
Mama Revina yang saat itu berada di sebelah kiri Rean, langsung mencolek kecil lengan sang putra.
Rean mencebikkan bibir sambil melirik ke arah sang mama. Bisa-bisanya mamanya itu mengatakan hal seperti itu. "Apaan sih, Ma." Rean protes sambil masih berbisik.
Papa Bian yang menyadari istri dan putranya berbisik-bisik pun langsung berdehem untuk menghentikan tingkah mereka.
"Ehem. Ehm, bisa kita mulai acaranya, Pak Hendra?" Papa Bian memulai untuk berbicara.
"Silahkan, Pak." Papa Dena mempersilahkan.
"Terima kasih, Pak. Bismillahirrohmanirrohim, baiklah Pak Hendra, Bu Rida, Dena, dan para tamu yang hadir, pertama-tama kedatangan kami pada malam hari ini adalah untuk silaturahmi dengan Pak Hendra dan keluarga. Kedua kalinya, maksud kedatangan kami ini, juga untuk mengantarkan putra kami, Rean meminang putri Pak Hendra dan Bu Rida, Dena untuk putra kami."
"Besar harapan kami sebagai orang tua Rean, Bapak, Ibu dan juga Dena berkenan menerima pinangan putra kami." Papa Bian menoleh ke arah sang putra.
Papi Dena, menoleh ke arah sang putri yang masih menundukkan kepala. Dia juga terlihat gugup pada malam itu. Kedua tangannya saling remas untuk menyembunyikan kegugupannya saat itu.
"Pak Bian dan keluarga, sebagai orang tua, kami sangat bahagia dengan pinangan ini. Namun, kembali lagi saya menyerahkan keputusan kepada Dena. Apakah dia mau menerima pinangan ini." Papi Dena menatap ke arah sang putri. "Bagaimana, Den? Apa kamu menerima pinangan Nak Rean?"
Dena sebenarnya cukup gugup, namun, dia menegakkan kepalanya dan menatap ke arah Rean. Pada saat bersamaan, Rean juga sedang menatap ke arah Dena. Entah mengapa tatapan mata mereka seolah terkunci.
Mama Revina yang menyadari hal itu, langsung menyenggol lengan Rean. "Tahan dulu, belum diterima, Re. Nanti jika sudah diterima dan sudah sah, puas-puasin tatap-tatapannya luar dalam."
\=\=\=
Gimana jawaban Dena?