The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 57



Menjelang pukul tujuh pagi, Refan bahkan sudah menjemput Rean. Mereka harus bergegas untuk mengurusi perbaikan distro yang terkena kebakaran tersebut.


"Kita sarapan dulu, ya? Tadi aku belum sempat sarapan di rumah," ucap Refan sambil mengendarai motornya.


Rean yang berada di boncengan Refan pun mengangguk mengiyakan. "Iya. Aku juga belum sarapan. Mampir ke warung langganan dulu, deh."


"Okay."


Motor yang dikemudikan Refan tersebut membelah jalanan kota Surabaya. Sudah mulai banyak aktivitas yang dilakukan oleh warga Surabaya pagi itu. 


Tak butuh waktu lama bagi kedua laki-laki tersebut untuk sampai di warung langganan saat masih SMA dulu. Mereka segera antri untuk memesan sarapan.


Sementara di Jakarta, Dena sudah berkutat di dapur. Hari ini, dia ada rapat persiapan semester baru di kampus. Dia sudah membuat sarapan untuk dirinya sendiri. Namun, sejak bangun tidur tadi, Dena bolak balik mengecek ponselnya. Dia menunggu pesan atau telepon dari Rean. Namun, yang ditunggu-tunggu sama sekali ada.


"Kenapa dia tidak menelepon atau mengirim pesan? Bukankah semalam kita sudah baikan?" Dena mengerucutkan bibir sambil masih menatap ponselnya.


Dena bolak-balik membuka aplikasi perpesanan tersebut dan melihat jika sang suami belum online lagi sejak subuh tadi. 


"Apa dia tidur lagi? Tapi, sepertinya dia bukan tipe orang seperti itu."


Lagi-lagi Dena membuka dan menutup aplikasi perpesanan nya tersebut. Dengan berat hati, Dena segera sarapan dan bersiap berangkat ke kampus. Rapat akan dimulai pada pukul sepuluh pagi. Namun, dia harus menyiapkan beberapa hal sebelum pelaksanaan rapat tersebut dimulai.


Setelah sampai di kampus, Dena masih beberapa kali memeriksa ponselnya untuk melihat apakah ada pesan atau telepon dari sang suami. Namun ternyata, tidak ada pesan apapun di sana. Dengan langkah gontai, Dena berjalan gontai menuju ruangannya.


Dena bahkan tidak menyadari saat rekan sesama dosen menyapanya.


"Ada apa, Den? Tumben wajahnya ditekuk begitu?" tanya Kinan, rekan sesama dosen Dena.


Dena pun menoleh ke arah Kinan dan berusaha mengulas senyumannya. "Nggak ada apa-apa, kok." Dena menggelengkan kepala. "Hanya masih terbawa suasana liburan saja."


Kinan mengangguk-anggukkan kepala. "Sama. Sebenarnya, aku juga masih ada rencana mengunjungi kakakku yang baru melahirkan akhir pekan ini. Tapi, sepertinya harus aku tunda. Setelah rapat ini, kita pasti akan sangat sibuk sekali mempersiapkan perkuliahan."


Kinan mengangguk-anggukkan kepala. Keduanya berjalan menuju ruangan dosen yang ada di lantai dua tersebut. Namun, langkah kaki mereka terhenti saat mendengar sebuah suara memanggil.


"Dena!"


Seketika langkah kaki Dena dan Kinan terhenti. Mereka berbalik dan melihat seorang laki-laki tengah berjalan cepat ke arahnya.


"Pak Rama?" Gumam Dena saat laki-laki tersebut sudah berada di depannya.


Kinan yang melihat kedatangan laki-laki tersebut langsung berpamitan. Dia cukup tahu diri jika Pak Rama, dosen senior mereka ingin berbicara dengan Dena karena tadi namanya yang dipanggil.


"Kenapa beberapa hari ini ponselmu sulit sekali dihubungi?"


"Eh, tidak juga kok, Pak. Hanya saja, liburan kemarin saya sedikit sibuk."


"Kamu liburan kemana? Dua hari berturut-turut aku ke apartemen kamu tapi kamu tidak ada."


"Eh, Bapak ke apartemen saya? Mau apa?" Dena cukup terkejut saat mendengar kedatangan dosen senior tersebut.


"Ehm, a-aku ingin mengajak orang tuaku bertemu denganmu."


Sontak saja mulut dan kedua bola mata Dena membulat dengan sempurna. Dia cukup terkejut dengan apa yang dikatakan oleh rekannya tersebut.


"Bertemu dengan orang tua? Ada apa ya, Pak?"


"Ehm, i-itu…,"


\=\=\=


Waduh, mau apa lagi sih ini?